BPJS Naik, Cak Imin Dukung dan Rakyat Jadi Tumbal

Avatar photo

Senin, 23 Februari 2026 - 18:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menko PM Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (Foto: Kemenko PM)

Menko PM Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (Foto: Kemenko PM)

Jakarta, Metrosiar – Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Jika tahun lalu ia mengaku belum sepakat dan bahkan menghambat rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan, kini sikapnya berubah drastis.

Di kantor pusat BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Senin (23/2/2026), Cak Imin secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap rencana kenaikan iuran.

“Tahun ini saya setuju, harus dilaksanakan,” tegasnya.

Perubahan sikap ini memantik pertanyaan publik: apa yang sebenarnya terjadi? Kondisi rakyat atau kepentingan kebijakan?

Rakyat yang Kian Terhimpit

Di tengah tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih, wacana kenaikan iuran BPJS tentu bukan kabar baik. Bagi jutaan pekerja mandiri dan kelas menengah yang tak masuk kategori PBI, tambahan beban iuran berarti tambahan tekanan pada keuangan keluarga.

Namun Cak Imin justru menyebut langkah tersebut sebagai “penyehatan”. Ia mengikuti logika Menteri Kesehatan RI bahwa jika peserta paling bawah sudah dibayari APBN, maka kenaikan bagi desil 7 ke atas “tidak ada masalah karena yang mampu”.

Baca juga:  Ratna Jumila A.Md.Keb., Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Kesehatan

Benarkah sesederhana itu?

Banyak masyarakat kelas menengah merasa justru merekalah yang paling rentan: tidak miskin sehingga tak mendapat bantuan, tetapi juga tidak cukup mapan untuk terus menanggung kenaikan biaya hidup yang beruntun.

Target Nol Defisit, Tapi Siapa yang Menutupinya?

Cak Imin menegaskan transformasi BPJS harus membuat lembaga itu tak lagi defisit. Targetnya jelas: “nggak ada defisit-defisit lagi.”

Namun pertanyaan besarnya: apakah solusi utama untuk menutup defisit selalu harus lewat kantong peserta?

Ia memang menyebut perlunya pembenahan politik anggaran, perbaikan data, subsidi PBI, hingga pengadaan alat kesehatan seperti cathlab agar reformasi komprehensif. Tetapi di mata publik, yang terasa paling cepat dan nyata justru kenaikan iuran.

Baca juga:  Anis Matta: “Partai Politik Kalau Hanya Ikut Arus, Kita Bukan Pemimpin!”

Skema JKN disebut sebagai gotong royong berskala besar berbasis konstitusi. Namun gotong royong idealnya lahir dari kesadaran dan keadilan, bukan dari rasa terpaksa karena kebijakan yang dianggap memberatkan.

Publik Menunggu Transparansi

Perubahan sikap pejabat publik dalam waktu singkat tentu sah dalam dinamika kebijakan. Tetapi rakyat berhak tahu alasan konkret di balik perubahan itu. Apakah sudah ada kajian menyeluruh? Apakah efisiensi internal benar-benar sudah dimaksimalkan sebelum iuran dinaikkan?

Kenaikan iuran bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menyentuh dapur, biaya sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Jika benar demi keberlanjutan sistem, publik menuntut satu hal sederhana: keadilan dan transparansi. Tanpa itu, wacana kenaikan iuran hanya akan mempertebal kesan bahwa rakyat lagi-lagi menjadi solusi paling mudah untuk menutup masalah negara.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Atlet pencak silat Kota Semarang Ayudiah Rivana meninggal usai operasi cedera saat berlaga di Porprov Jateng 2026.
Tokoh Masyarakat Puas, Pelayanan Puskesmas Kutabumi Tuai Apresiasi
Vape Ini Bukan Vape Biasa, Pakar UMY Ungkap Risiko Napas Berhenti
Stadion Benteng Reborn Makin Ramai, Sachrudin Dorong Tangerang Jadi Kota Sport Tourism
10 Sesat Pikir yang Diam-Diam Bisa Menjebak Cara Berpikir
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, PDIP Kehilangan Sosok Seniman Besar
Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Driver Ojol Diminta Waspada
Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ojol Diminta Waspada
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:58 WIB

Atlet pencak silat Kota Semarang Ayudiah Rivana meninggal usai operasi cedera saat berlaga di Porprov Jateng 2026.

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Tokoh Masyarakat Puas, Pelayanan Puskesmas Kutabumi Tuai Apresiasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:33 WIB

Vape Ini Bukan Vape Biasa, Pakar UMY Ungkap Risiko Napas Berhenti

Selasa, 29 September 2026 - 09:05 WIB

Stadion Benteng Reborn Makin Ramai, Sachrudin Dorong Tangerang Jadi Kota Sport Tourism

Sabtu, 26 September 2026 - 09:41 WIB

10 Sesat Pikir yang Diam-Diam Bisa Menjebak Cara Berpikir

Berita Terbaru

Lurah Kutabumi bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, unsur pemerintah kelurahan, tokoh lingkungan, dan para pemuda RW 003 berfoto bersama usai kegiatan Deklarasi Damai Pemuda di halaman Kantor Kelurahan Kutabumi, Sabtu (31/10/2026).

Sosial Kemasyarakatan

Tak Ingin Pemuda Terjerumus Tawuran, Lurah Kutabumi Tegaskan Lima Komitmen Damai!

Minggu, 1 Nov 2026 - 20:55 WIB

Pengurus dan anggota Laskar Merah Putih (LMP) MAC Rajeg bersama jajaran Mada Banten serta perwakilan UPTD Puskesmas Rajeg berfoto bersama usai kegiatan bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka HUT ke-26 LMP di Balai Warga RW 10 Perumahan Pondok Permata Rajeg, Sabtu (31/10/2026).

Sosial Kemasyarakatan

HUT ke-26 LMP, Cek Kesehatan Gratis di Rajeg Diserbu Warga

Minggu, 1 Nov 2026 - 13:01 WIB

Proses penggantian atap rumah warga dengan asbes serta perbaikan konstruksi kayu yang melibatkan Lurah Kutabumi, Ade Sunaryo, S.Pd., M.M. (kaos oranye), bersama warga setempat secara gotong royong.

Sosial Kemasyarakatan

Atap Rumah Warga Nyaris Ambruk, Pak Lurah Kutabumi Turun Tangan!

Minggu, 1 Nov 2026 - 08:41 WIB