Tak Peduli Medan Berat, PMI Ngada Tembus Riung Barat Antar Harapan untuk Penyintas Gempa

Avatar photo

Minggu, 13 September 2026 - 06:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa.

Foto: Istimewa.

Bajawa.Metrosiar- Jalan yang panjang, medan yang menantang dan jarak yang jauh tak menyurutkan langkah para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ngada.

Satu tujuan mereka: menemui warga.

Bukan sekadar membawa obat-obatan, logistik atau perlengkapan bantuan. Para relawan datang membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat berarti bagi penyintas bencana—kepedulian.

Memasuki hari kesembilan pelaksanaan program “My Medical My Adventure PMI Ngada”, tim kembali bergerak menuju wilayah terdampak gempa. Kali ini, Kecamatan Riung Barat menjadi tempat mereka mengabdikan diri selama tiga hari.

Perjalanan menuju wilayah tersebut menjadi bagian dari cerita kemanusiaan itu sendiri.

Di balik setiap kilometer yang ditempuh, ada warga yang menunggu pelayanan. Ada masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Ada keluarga yang masih dihantui rasa cemas. Ada pula penyintas yang harus bertahan di tengah rumah yang rusak dan ketidakpastian tentang hari esok.

Bagi PMI, kondisi itu tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri.

Datang untuk melihat, mendengar dan melayani

Pasca gempa, kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan makanan dan tempat tinggal.

Tubuh harus tetap sehat. Anak-anak perlu kembali merasa aman. Orang tua membutuhkan ruang untuk menguatkan diri. Sementara kebutuhan warga harus terus dipetakan agar bantuan yang diberikan tidak salah sasaran.

Karena itu, program “My Medical My Adventure” dirancang tidak hanya sebagai kegiatan pelayanan kesehatan.

Tim PMI menghadirkan pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan pelayanan medis dasar bagi masyarakat terdampak.

Di tengah situasi pascabencana, kehadiran tenaga kesehatan menjadi sangat berarti. Keluhan kesehatan yang mungkin selama ini dianggap sepele dapat diperiksa secara langsung, sementara warga mendapat kesempatan untuk berkonsultasi tanpa harus menempuh perjalanan jauh mencari pelayanan.

Baca juga:  Mengenal Pasangan dengan Gangguan NPD: Kisah Nyata Seorang Ibu Bangkit dari Hubungan Toksik

Namun, ada luka yang tidak selalu terlihat.

Rasa takut ketika mendengar suara keras. Kecemasan saat tanah kembali berguncang. Kekhawatiran melihat rumah yang rusak. Hingga pertanyaan tentang bagaimana kehidupan keluarga mereka setelah bencana.

Semua itu bisa menjadi beban yang tersimpan dalam diri penyintas.

Karena itu, PMI turut menghadirkan dukungan psikososial.

Bukan sekadar berbicara atau menghibur. Dukungan psikososial menjadi ruang bagi penyintas untuk kembali membangun rasa aman, mengelola kecemasan dan perlahan menemukan kembali kekuatan untuk bangkit.

Ketika rumah tak lagi terasa seperti rumah

Bagi korban gempa, kehilangan atau kerusakan rumah bukan hanya persoalan bangunan.

Rumah adalah tempat berkumpulnya keluarga. Tempat anak-anak tumbuh. Tempat menyimpan kenangan.

Ketika bangunan itu rusak dan tak lagi aman ditempati, kehidupan keluarga pun ikut berubah.

Di sinilah kebutuhan shelter atau hunian sementara menjadi penting.

PMI memberikan dukungan penyediaan dan pendampingan shelter bagi penyintas sebagai bagian dari proses pemulihan. Sebuah ruang sederhana yang diharapkan dapat memberikan kembali rasa aman kepada keluarga yang untuk sementara harus meninggalkan rumahnya.

Selain shelter, distribusi logistik juga dilakukan berdasarkan kebutuhan warga di lapangan.

Namun PMI tidak sekadar datang membawa bantuan.

Sebelum menentukan apa yang harus diberikan, tim melakukan assessment—pendataan dan analisis kondisi serta kebutuhan masyarakat terdampak.

Dari situlah bantuan diupayakan agar lebih tepat sasaran.

Sebab dalam kerja kemanusiaan, bukan banyaknya bantuan yang menjadi satu-satunya ukuran.

Yang tak kalah penting adalah memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Tiga hari, menyusuri luka dan harapan

Selama tiga hari berada di Kecamatan Riung Barat, para relawan akan terus bergerak mendekati warga.

Baca juga:  Warga Kampung Kayu Apu Desa Klebet Kecamatan Kemiri, Bersihkan Tempat Pemakaman Umum Dengan Semangat Gotong Royong

Mereka mungkin datang dengan perlengkapan medis, logistik dan berbagai kebutuhan pelayanan. Tetapi yang mereka tinggalkan adalah sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Harapan.

Bagi seorang warga yang sedang sakit, pemeriksaan kesehatan mungkin berarti ketenangan.

Bagi seorang anak yang masih takut dengan gempa, permainan dan pendampingan psikososial mungkin menjadi pintu untuk kembali tersenyum.

Bagi sebuah keluarga yang kehilangan tempat tinggal, shelter mungkin berarti satu malam yang lebih tenang.

Dan bagi penyintas yang merasa terlupakan, kedatangan relawan mungkin menjadi pesan bahwa masih ada orang yang peduli.

Kerja kemanusiaan memang tidak selalu tentang langkah besar.

Terkadang ia dimulai dari perjalanan panjang menuju sebuah kampung.

Dari mengetuk pintu rumah warga.

Dari memeriksa tekanan darah.

Dari memberikan obat.

Dari mendengarkan keluhan.

Dari mendampingi anak-anak bermain.

Atau sekadar duduk bersama seorang penyintas dan mengatakan bahwa mereka tidak sendirian.

Program “My Medical My Adventure PMI Ngada” menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana bukan pekerjaan sehari atau dua hari.

Ia membutuhkan waktu, kesabaran dan kehadiran.

Di Riung Barat, para relawan PMI kembali membuktikannya.

Mereka datang bukan karena jalannya mudah.

Mereka datang karena di ujung perjalanan itu ada warga yang membutuhkan.

Dan ketika langkah mereka kembali meninggalkan Riung Barat, yang diharapkan bukan sekadar berkurangnya keluhan atau tersalurkannya bantuan.

Tetapi tumbuhnya keyakinan di hati para penyintas bahwa kehidupan masih bisa ditata kembali.

Perlahan.

Setapak demi setapak.

Sebab dalam setiap bencana, yang paling dibutuhkan manusia bukan hanya bantuan untuk bertahan hidup.

Tetapi alasan untuk kembali percaya bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.

Dengan langkah kecil, untuk dampak yang besar.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

FPK Ngada Angkat Suara! Kecam Ujaran Kebencian di Medsos, Serukan Persatuan dan Kerukunan Antar-Suku
Puluhan Tahun Menanti, Hotmix Teni–Lopijo Hadirkan Harapan Baru bagi Warga Heawea
Dipo Nusantara Buka Sosialisasi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 di Ngada, Tekankan Perlindungan Lingkungan dan Keselamatan Warga
Dipo Nusantara Gencarkan Gerakan Kurangi Sampah dari Rumah, Dorong Teknologi Pengolahan Jadi Energi Listrik
KMP Batumandi Terbakar di Merak, Penumpang Dievakuasi
Kajari Ngada Lantik Tiga Pejabat Baru, Ini Daftar Nama dan Jabatan yang Diemban
Pemda Ngada Lepas PSN Ngada ke Liga 3 Nusantara, 30 Slot Pemain Disiapkan untuk Berburu Prestasi
Sentuh Hati Lansia di Desa Tarawali, Bhabinkamtibmas dan Dokkes Polres Ngada Turun Berbagi Sembako
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:10 WIB

FPK Ngada Angkat Suara! Kecam Ujaran Kebencian di Medsos, Serukan Persatuan dan Kerukunan Antar-Suku

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:27 WIB

Puluhan Tahun Menanti, Hotmix Teni–Lopijo Hadirkan Harapan Baru bagi Warga Heawea

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:22 WIB

Dipo Nusantara Buka Sosialisasi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 di Ngada, Tekankan Perlindungan Lingkungan dan Keselamatan Warga

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Dipo Nusantara Gencarkan Gerakan Kurangi Sampah dari Rumah, Dorong Teknologi Pengolahan Jadi Energi Listrik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:20 WIB

KMP Batumandi Terbakar di Merak, Penumpang Dievakuasi

Berita Terbaru

Lurah Kutabumi bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, unsur pemerintah kelurahan, tokoh lingkungan, dan para pemuda RW 003 berfoto bersama usai kegiatan Deklarasi Damai Pemuda di halaman Kantor Kelurahan Kutabumi, Sabtu (31/10/2026).

Sosial Kemasyarakatan

Tak Ingin Pemuda Terjerumus Tawuran, Lurah Kutabumi Tegaskan Lima Komitmen Damai!

Minggu, 1 Nov 2026 - 20:55 WIB

Pengurus dan anggota Laskar Merah Putih (LMP) MAC Rajeg bersama jajaran Mada Banten serta perwakilan UPTD Puskesmas Rajeg berfoto bersama usai kegiatan bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka HUT ke-26 LMP di Balai Warga RW 10 Perumahan Pondok Permata Rajeg, Sabtu (31/10/2026).

Sosial Kemasyarakatan

HUT ke-26 LMP, Cek Kesehatan Gratis di Rajeg Diserbu Warga

Minggu, 1 Nov 2026 - 13:01 WIB