Bajawa.Metrosiar-Di tengah warga yang masih bertahan di sejumlah posko pengungsian akibat gempa bumi, kepedulian kembali bergerak dari pelosok desa.
Kali ini, Desa Beapawe, Kecamatan Golewa Barat, memilih mengerahkan potensi terbaik yang dimiliki warganya: hasil bumi dan komoditi hortikultura.
Tak sekadar mengumpulkan bantuan, Pemerintah Desa Beapawe bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menghimpun komoditi unggulan hortikultura untuk disalurkan kepada warga terdampak gempa.
Gelombang pertama bantuan tersebut difokuskan ke sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
Aksi tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong tidak hanya tumbuh di pusat kota, tetapi juga bergerak kuat dari desa-desa yang ikut merasakan duka masyarakat Ngada pascagempa.
Kepala Desa Beapawe, No Killa, mengatakan bantuan tersebut dihimpun melalui kebersamaan seluruh perangkat Pemerintah Desa dan BPD sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi masa sulit.
“Hari ini kami dari Desa Beapawe dengan komoditi unggulan yakni hortikultura, yang kami himpun dari seluruh perangkat dan BPD untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa,” ujar No Killa kepada media ini, Rabu (19/8/2026), di halaman Posko Bantuan Kabupaten Ngada.
Menurut No, komoditi hortikultura merupakan salah satu potensi unggulan yang selama ini dikembangkan masyarakat Desa Beapawe. Potensi tersebut kemudian digerakkan menjadi kekuatan kemanusiaan.
Hasil dari kebun dan tanah masyarakat tidak lagi hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol solidaritas untuk membantu sesama yang kini masih hidup dalam kondisi pengungsian.
Bantuan tersebut, kata dia, memang tidak diukur semata-mata dari jumlah komoditi yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, bantuan tersebut membawa pesan bahwa warga terdampak gempa tidak menghadapi situasi sulit seorang diri.
“Apa yang kami miliki, itulah yang kami bawa untuk berbagi,” menjadi semangat yang menggerakkan Desa Beapawe dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Untuk distribusi tahap pertama, Pemerintah Desa Beapawe memusatkan perhatian pada Kecamatan Riung. Bantuan akan disalurkan kepada masyarakat yang masih berada di sejumlah titik pengungsian dan membutuhkan dukungan kebutuhan pangan.
“Untuk gelombang pertama ini kami distribusikan di wilayah Kabupaten Ngada, khususnya di Kecamatan Riung. Fokus kami adalah membantu saudara-saudara yang saat ini masih berada di posko-posko pengungsian,” katanya.
No menjelaskan, aksi tersebut merupakan gerakan kemanusiaan pertama yang dilakukan Desa Beapawe sejak gempa melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ngada.
Namun, langkah itu tidak berhenti pada satu kali pengiriman bantuan.
Pemerintah Desa Beapawe bersama perangkat desa dan BPD berencana kembali menggalang komoditi serta bantuan lainnya untuk didistribusikan pada gelombang berikutnya. Jangkauan bantuan pun direncanakan akan diperluas.
“Ini merupakan yang pertama kali kami lakukan pascagempa. Untuk gelombang berikutnya, kami akan berupaya mendistribusikan bantuan juga ke kabupaten lain yang terdampak,” ungkapnya.
Selain Kecamatan Riung, Desa Beapawe juga mulai menyiapkan sasaran distribusi bantuan berikutnya. Salah satu wilayah yang direncanakan mendapat perhatian adalah Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, yang turut terdampak gempa.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa gerakan solidaritas dari Desa Beapawe masih akan terus berjalan. Penghimpunan bantuan diharapkan kembali dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan dan potensi lokal yang tersedia.
No berharap bantuan hasil swadaya tersebut dapat membantu meringankan beban warga, terutama masyarakat yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda dan lokasi pengungsian.
Menurutnya, saat bencana datang, potensi desa harus mampu berubah menjadi kekuatan untuk saling menopang.
“Yang paling penting bagi kami adalah kepedulian. Apa yang menjadi potensi Desa Beapawe, khususnya komoditi hortikultura, kami coba himpun bersama untuk dibagikan kepada saudara-saudara kita yang terdampak,” pungkasnya.
Gerakan Desa Beapawe menambah panjang deretan aksi kemanusiaan yang terus bermunculan pascagempa di Kabupaten Ngada.
Dari kebun-kebun masyarakat, hasil hortikultura kini bergerak menuju posko-posko pengungsian. Dari sebuah desa di Kecamatan Golewa Barat, semangat gotong royong kembali dikirimkan kepada warga yang sedang berjuang bangkit.
Desa Beapawe membuktikan, ketika bencana mengguncang, kepedulian pun bisa tumbuh dari tanah—dipanen dari kebersamaan, lalu dibagikan untuk menguatkan sesama.*










