Catatan Agus M Maksum
Atmosfer ruang rapat Komisi XI DPR RI mendadak berubah hening ketika Purbaya Yudhi Sadewa berbicara tanpa naskah, tanpa bahasa normatif, dan tanpa tedeng aling-aling. Dengan gaya apa adanya—kadang nyeletuk, kadang meminta maaf—ia justru menyampaikan pernyataan yang mengguncang: “Ekonomi kita dicekik.”
Purbaya menjelaskan bahwa ratusan triliun dana pemerintah tertahan di Bank Indonesia, sementara bank–bank besar justru rajin memarkir dana di BI ketimbang menyalurkannya ke sektor usaha. Akibatnya, likuiditas mengering, sektor riil melemah, dan masyarakat merasakan langsung imbasnya.
Ia kemudian mengingatkan pengalamannya saat krisis 1997–1998, ketika bunga digenjot hingga 60 persen namun uang primer melonjak 100 persen. Kebijakan kala itu justru mempercepat kehancuran ekonomi.
Pelajaran itu membuat Indonesia jauh lebih siap menghadapi krisis 2008—dengan menurunkan suku bunga dan mempercepat stimulus fiskal.
Namun, menurut Purbaya, negeri ini kembali mengulang kesalahan lama pada masa pandemi 2020. Likuiditas seret dan ekonomi hampir kolaps hingga ia dipanggil ke Istana untuk memberi masukan: “Balikkan uang ke sistem.” Setelah itu, triliunan rupiah dilepas dan ekonomi terselamatkan.
Kini, sejak pertengahan 2023 hingga 2024, pola yang sama kembali muncul.
Dana pemerintah di BI sempat menembus Rp500 triliun, ditambah sekitar Rp800 triliun dana bank yang ikut diparkir.
“Kalau Anda bertanya kenapa ekonomi melambat, jawabannya ada di situ,” tegasnya.
Tiga Resep Purbaya Menghidupkan Mesin Ekonomi
-
Mengembalikan dana pemerintah dari BI ke sistem perbankan.
“Dari Rp425 triliun, kami sudah masukkan Rp100 triliun kembali ke sistem,” ungkapnya. -
Mempercepat belanja anggaran negara.
Ia mendorong monitoring publik:
“Sebulan sekali jumpa pers. Kalau serapan rendah, pejabatnya harus jelaskan.” -
Membiarkan sektor swasta bernapas.
Pemerintah cukup menciptakan iklim sehat agar dunia usaha bergerak.
“Kalau dua mesin hidup—fiskal dan moneter—pertumbuhan di atas 6 persen itu realistis.”
DPR menanggapi dengan beragam komentar, namun tidak ada yang membantah fakta bahwa ekonomi memang tengah melambat.
Purbaya sadar ucapannya bisa dianggap keras atau sombong, tetapi ia memilih jujur.
“Kalau kita tidak bicara apa adanya, kesalahan yang sama akan terus berulang,” ujarnya.
Dan hari itu, di ruang Komisi XI, Purbaya memulai langkahnya: membongkar kesalahan Sri Mulyani, dengan bahasa yang mungkin pahit, tetapi diperlukan.
Seperti bait lagu Ebiet G. Ade, “Cobalah tanyakan pada rumput yang bergoyang.”









