Defisit APBN Maret 2025 Tembus Rp104,2 Triliun, Pemerintah Jamin Masih Terkendali

Kamis, 10 April 2025 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Sri Mulyani hadiri sarasehan ekonomi dan silaturahmi bersama Presiden Prabowo Subianto dan asosiasi pelaku usaha , para ekonom, organisasi buruh, akademisi dan media masa. (Instagram.com/smindrawati)

Menteri Keuangan Sri Mulyani hadiri sarasehan ekonomi dan silaturahmi bersama Presiden Prabowo Subianto dan asosiasi pelaku usaha , para ekonom, organisasi buruh, akademisi dan media masa. (Instagram.com/smindrawati)

 

Metrosiar – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2025 tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau setara 0,43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana defisit sudah terjadi sejak awal tahun, terutama dipengaruhi oleh perlambatan penerimaan pajak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan kondisi fiskal tersebut dalam Sarasehan Ekonomi bersama Presiden RI pada Selasa (8/4/2025).

Biasanya, data semacam ini diungkap dalam konferensi pers APBN KiTa.

Sebagai perbandingan, pada Maret 2024 lalu, APBN masih mencatat surplus sebesar Rp8,1 triliun atau 0,04% dari PDB.

“Kita akan tetap menjaga APBN dan defisit secara prudent dan transparan,” ujar Sri Mulyani dalam paparannya.

Ia menekankan meskipun defisit sudah terjadi sejak Januari, posisi tersebut masih dalam koridor aman dari target defisit tahunan sebesar Rp616,2 triliun atau 2,53% PDB.

Sri Mulyani juga memastikan pembiayaan terhadap berbagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti program makan bergizi gratis, masih berada dalam ruang fiskal yang tersedia.

Baca juga:  Heboh! Mantan Pj Gubernur Banten Diduga Korupsi Rp39 Miliar, Warga Kepung Kejagung

“Program-program Bapak Presiden ada di dalam ruang APBN yang ada,” tegasnya.

Penerimaan Negara Tertekan, Belanja Sedikit Naik

Turunnya penerimaan Negara menjadi penyebab utama defisit ini. Per Maret 2025, pendapatan Negara tercatat Rp516,2 triliun, mengalami penurunan 16,8% dibandingkan Maret 2024 yang mencapai Rp620,01 triliun.

Kontributor utama penurunan tersebut berasal dari penerimaan pajak yang anjlok 18,1% (YoY) menjadi Rp322,6 triliun dari sebelumnya Rp393,9 triliun.

Sementara itu, penerimaan bea cukai justru meningkat 12,3% menjadi Rp77,5 triliun. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mengalami penurunan tajam sebesar 26%, menjadi Rp115,9 triliun.

Di sisi lain, belanja Negara justru meningkat tipis sebesar 1,4% menjadi Rp620,3 triliun.

Realisasi belanja terbesar berasal dari pos Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp413,2 triliun, termasuk belanja kementerian/lembaga (Rp196,1 triliun) dan belanja non-K/L (Rp217,1 triliun).

Sementara Transfer ke Daerah (TKD) telah mencapai Rp207,1 triliun.

Pemerintah pun telah melakukan pembiayaan anggaran sebesar Rp250 triliun atau sekitar 40,6% dari total kebutuhan pembiayaan tahun ini.

Baca juga:  Sri Mulyani ungkap Kebijakan Ekonomi Presiden Trump Sebabkan 'War Game' Ekonomi Global, Indonesia?

Meskipun mengalami defisit, keseimbangan primer masih mencatat surplus Rp17,5 triliun, namun angkanya jauh lebih rendah dibandingkan posisi Maret 2024 yang mencapai Rp122,09 triliun.

Waspadai Risiko Pelebaran Defisit

Ekonom senior Indef, Tauhid Ahmad, menilai risiko pelebaran defisit tetap ada, terutama akibat ketergantungan pada pembiayaan utang di tengah penurunan penerimaan negara. Meskipun begitu, ia menyebut defisit tidak akan menembus batas 3% dari PDB.

Menurut Tauhid, berbagai penyesuaian kebijakan fiskal seperti tarif PPh impor dan bea masuk akibat potensi tarif resiprokal dari Amerika Serikat berpotensi menekan penerimaan.

“Penyesuaian ini bisa menurunkan pendapatan negara, tapi itu strategi fiskal yang harus diambil,” katanya, Rabu (9/4/2025).

Ia juga menambahkan, pemerintah mungkin akan melakukan efisiensi dengan mengurangi subsidi atau menyesuaikan asumsi harga minyak mentah yang dalam APBN 2025 ditetapkan sebesar 82 dolar AS per barel.

Untuk mengantisipasi kekurangan penerimaan, pemerintah disebut dapat menahan sebagian belanja atau melakukan relokasi anggaran. Tetapi, dampak dari langkah-langkah ini terhadap laju ekonomi tetap harus diwaspadai.(*)

Editor : Konrad

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Perpanjang Pajak Kendaraan Tanpa Harus Melampirkan KTP Pemilik Pertama
Rekor Harga Sudah di Depan Mata, Koreksi Emas kini sudah tidak terlihat lagi.
Prediksi Emas Besok 07 November 2025
Solidaritas Tanpa Batas! Warga Lampung di Perantauan Kini Punya Lahan Pemakaman dan Mobil Jenazah Gratis
Permata CERITA 2025: Tanamkan Budaya Menabung dan Cinta Lingkungan Sejak Usia Sekolah
Mayoritas Saham Himbara Menguat Seiring Masuknya Rp200 Triliun Kas Negara
OJK Terbitkan Pedoman Keamanan Siber untuk Perdagangan Aset Keuangan Digital di Indonesia
Defisit APBN Maret 2025 tercatat Rp104,2 triliun atau 0,43% dari PDB. Penurunan tajam penerimaan pajak jadi penyebab utama, meski pemerintah memastikan anggaran masih dalam koridor aman dan program prioritas seperti makan bergizi gratis tetap terlindungi.

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:46 WIB

Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Rabu, 15 April 2026 - 10:40 WIB

Perpanjang Pajak Kendaraan Tanpa Harus Melampirkan KTP Pemilik Pertama

Selasa, 11 November 2025 - 05:12 WIB

Rekor Harga Sudah di Depan Mata, Koreksi Emas kini sudah tidak terlihat lagi.

Kamis, 6 November 2025 - 15:35 WIB

Prediksi Emas Besok 07 November 2025

Selasa, 21 Oktober 2025 - 20:18 WIB

Solidaritas Tanpa Batas! Warga Lampung di Perantauan Kini Punya Lahan Pemakaman dan Mobil Jenazah Gratis

Berita Terbaru

Puluhan buah durian hasil panen tersusun rapi di teras rumah warga sebelum dipasarkan, menunjukkan melimpahnya hasil panen durian

Advertorial

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!

Senin, 27 Apr 2026 - 23:31 WIB

Foto Ilustrasi/Gemini

Hukum & Kriminal

Daycare Little Aresha, Ruang Penitipan yang Menjelma Jadi Labirin Trauma

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:28 WIB

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang melalap area gudang, dengan kobaran api masih terlihat cukup besar di latar belakang.

Peristiwa & Bencana

Gudang Packaging di Sepatan Tangerang Dilalap Api, 8 Unit Damkar Dikerahkan!

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:07 WIB