Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja

Avatar photo

Minggu, 9 November 2025 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Polisi Presisi dok. Istimewa

Logo Polisi Presisi dok. Istimewa

Jakarta, Metrosiar – Reformasi Polri kembali digaungkan. Spanduk perubahan dipasang, jargon profesionalisme dikumandangkan, dan komitmen “penegakan hukum tanpa pandang bulu” digembar-gemborkan di depan publik. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan sederhana dari masyarakat pinggir jalan “Di mana polisi tidur?”

 

Ya, polisi tidur simbol kecil di jalan raya yang selalu hadir di antara kekacauan lalu lintas. Ia tidak punya kekuasaan, tidak bisa menahan pelanggar, tapi ia punya pengaruh: membuat semua orang melambat, berpikir, dan berhati-hati. Ia bekerja tanpa gaji, tanpa pangkat, dan tanpa kamera konferensi pers. Tapi hasilnya nyata: keteraturan tanpa tekanan.

Baca juga:  Eddy Soeparno ungkap RUU EBT Kunci Transisi Energi dan Ekonomi Hijau

 

Sementara itu, reformasi Polri sedang “berjalan” entah menuju keadilan atau hanya memutar di bundaran kekuasaan. Laporan-laporan besar tetap terhenti di lampu merah kepentingan, penyelidikan terhadap yang kuat sering kehilangan arah, dan kritik masyarakat kadang malah dianggap gangguan lalu lintas. Di sinilah publik bertanya lagi apakah reformasi Polri benar-benar berjalan, atau hanya berpindah jalur demi menghindari kemacetan moral?

 

Mungkin polisi tidur sedang tidak diundang dalam perjalanan reformasi itu. Padahal kehadirannya penting: bukan untuk menghalangi, tetapi untuk memperlambat keserampangan. Ia bisa mengingatkan agar reformasi tidak sekadar ngebut demi citra, tapi juga berhenti sejenak untuk menatap cermin , apakah arah perjalanan ini masih menuju keadilan, atau malah tersesat di jalan kekuasaan.

Baca juga:  Antara Air Mata di Sajadah dan Kejujuran di Pengadilan: Dua Jalan Menuju Ampunan

 

Jika reformasi Polri ingin benar-benar sampai ke tujuan, barangkali perlu melewati beberapa “polisi tidur” di sepanjang jalan. Agar mereka yang memegang sirine dan lampu biru sadar: kecepatan tanpa kesadaran hanya akan menabrak kepercayaan rakyat.

Ditulis oleh Mohamad Fuad

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?
Banten Never Changes !
Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”
Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina
Diduga Langgar HAM, Tim Seleksi Pegawai Non-ASN Dinkes Kota Tangerang Disorot
Presiden RI Prabowo Subianto Tetapkan Bahasa Portugis Diajarkan Di Sekolah Sekolah Indonesia Menlu Ungkap Alasannya.
Fahri Hamzah Jadi Alasan Hikmatullah Bergabung ke Partai Gelora Indonesia
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:33 WIB

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:21 WIB

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:24 WIB

Banten Never Changes !

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:07 WIB

Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”

Minggu, 9 November 2025 - 15:20 WIB

Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja

Berita Terbaru

Sosial Kemasyarakatan

Damkar Unit Mauk dan RedKar Evakuasi Sarang Tawon di SD 3 Kemiri Tangerang

Senin, 25 Mei 2026 - 21:14 WIB