Bajawa.Metrosiar- Sebanyak 158 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN) Tahun 2026 resmi diberangkatkan menuju lima desa di Kecamatan Jerebuu.
Mereka datang bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi mengemban misi besar: menjadi motor perubahan yang menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat desa.
Pesan itu ditegaskan Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu saat melepas para mahasiswa di Aula Setda Ngada, Kamis (9/7). Di hadapan ratusan peserta, ia mengingatkan bahwa keberhasilan KKN tidak ditentukan oleh tebalnya laporan akhir, melainkan oleh jejak perubahan yang tetap hidup setelah para mahasiswa kembali ke kampus.
“Jangan pulang hanya membawa laporan. Tinggalkan warisan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Program KKN Tematik GENTASKIN Batch II Tahun 2026 melibatkan lebih dari 2.000 mahasiswa yang diterjunkan ke 100 desa di 13 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Ngada menerima 158 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi, yakni Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, STIPER Flores Bajawa, STKIP Citra Bakti Ngada, Universitas Flores, STPM Santa Ursula, Institut Teknologi dan Kesehatan Ledalero, serta Universitas Nusa Nipa Maumere.
Selama masa pengabdian hingga 30 Agustus 2026, para mahasiswa akan tinggal dan bekerja bersama masyarakat di Desa Nenowea, Batajawa, Naruwolo, Bowaru, dan Tiwuriwu I. Masing-masing desa akan menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial bagi sekitar 31 hingga 32 mahasiswa.
Wakil Bupati yang akrab disapa Berni Dhey ini menegaskan, KKN harus menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan nyata di tingkat akar rumput.

Menurutnya, desa tidak membutuhkan kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi solusi yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan berkelanjutan.
Ia meminta seluruh peserta menghadirkan gagasan, inovasi, serta pendampingan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari isu kesehatan, penanganan stunting, penguatan ekonomi keluarga, hingga pemberdayaan potensi lokal.
Lebih dari itu, para mahasiswa diingatkan agar membangun hubungan yang erat dengan masyarakat melalui sikap rendah hati, menghormati adat istiadat, menjaga etika, serta membuka ruang belajar bersama warga. Sinergi dengan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat disebut sebagai fondasi utama keberhasilan pengabdian.
“Kehadiran mahasiswa harus memberikan manfaat yang nyata. Keberhasilan KKN bukan diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari dampak yang dirasakan masyarakat dan mampu dilanjutkan setelah program berakhir,” ujar Bernii.
Dengan pelepasan tersebut, 158 mahasiswa GENTASKIN resmi memulai pengabdian mereka di desa-desa Ngada. Pemerintah Kabupaten Ngada berharap kehadiran mereka menjadi energi baru bagi percepatan pembangunan desa sekaligus melahirkan berbagai inovasi yang memperkuat kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Di tangan generasi muda inilah, semangat kolaborasi diharapkan menjelma menjadi perubahan yang benar-benar dirasakan hingga ke pelosok desa.*









