Jakarta, Metrosiar – Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menilai perjuangan Palestina saat ini telah memasuki babak baru. Menurut dia, dukungan internasional terhadap Palestina tidak lagi semata-mata didorong faktor politik, melainkan telah berkembang menjadi isu kemanusiaan yang mendapat perhatian luas masyarakat dunia.
Anis mengatakan salah satu dampak paling signifikan dari genosida di Gaza adalah terkikisnya dukungan moral terhadap Israel di negara-negara Barat. Jika di dunia Islam dukungan terhadap Israel telah lama tumbuh, menurut dia kini fenomena serupa mulai terlihat di Amerika Serikat dan Eropa.
“Basis dukungan moral Israel di Barat mulai hilang. Narasi yang selama ini menjadi landasan dukungan terhadap Israel kini mengalami keruntuhan,” kata Anis dalam wawancara khusus dengan Republika, Senin (8/6/2026).
Menurut dia, berbagai survei di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan terjadinya perubahan sikap publik terhadap Israel, termasuk di kalangan generasi muda Yahudi. Kondisi tersebut, kata Anis, menjadi salah satu kemenangan penting dalam sejarah panjang perjuangan Palestina.
Anis menilai hilangnya legitimasi moral itu menimbulkan persoalan eksistensial bagi Israel. Sebab, negara-negara dan kelompok masyarakat yang selama ini menjadi pendukung utama Israel mulai menunjukkan perubahan sikap secara signifikan.
Dalam pandangannya, terdapat dua opsi strategis yang dapat ditempuh FotoIsrael untuk mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan lanskap politik global dan regional.
Opsi pertama, kata dia, adalah mempercepat integrasi ke dalam sistem politik kawasan Timur Tengah melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Muslim. Menurut Anis, upaya tersebut tercermin dalam inisiatif Abraham Accords yang mulai didorong pada periode pertama pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Tujuannya adalah mengintegrasikan Israel ke dalam sistem politik Timur Tengah dan dunia Islam sebagai bagian dari upaya mempertahankan eksistensinya,” ujarnya.
Namun, Anis menilai peluang keberhasilan strategi normalisasi tersebut semakin mengecil setelah genosida di Gaza dan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Isu yang berkembang terkait dugaan pelanggaran kemanusiaan dalam konflik Gaza, menurut dia, telah memperumit proses normalisasi yang sebelumnya mulai berjalan.
Adapun opsi kedua adalah memperkuat posisi sebagai kekuatan militer dominan di kawasan. Anis mengakui Israel selama ini dikenal memiliki keunggulan teknologi militer, terutama di bidang angkatan udara dan kemampuan siber.
Meski demikian, ia menilai konfrontasi dengan Iran telah mengubah sejumlah asumsi mengenai dominasi militer Israel di kawasan. Konflik tersebut, kata Anis, menunjukkan bahwa kekuatan militer Israel memiliki keterbatasan yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan.
“Perang dengan Iran membuka mata banyak pihak bahwa ada batas-batas kemampuan yang selama ini dianggap sangat besar,” katanya.
Anis menilai perkembangan tersebut akan membawa perubahan mendasar terhadap konfigurasi geopolitik Timur Tengah. Menurut dia, kawasan itu kini tengah memasuki fase transisi yang berpotensi melahirkan peta politik baru.
“Kita akan menyaksikan lahirnya Timur Tengah yang berbeda dari yang selama ini kita kenal.” ujarAnis.









