Jakarta, Metrosiar – Perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran telah memasuki hari ke-10 dan belum menunjukkan tanda akan segera berakhir. Iran terus melancarkan serangan balasan yang semakin terfokus ke wilayah Israel dengan jenis rudal yang disebut makin kuat dan sulit ditangkal oleh sistem pertahanan udara Israel.
Kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta kepanikan warga dilaporkan semakin besar di Israel. Meski demikian, sejumlah fakta mengenai dampak perang disebut kerap ditutup oleh pemerintah setempat dari media arus utama. Namun, berbagai rekaman dan informasi yang beredar di media sosial masih memperlihatkan situasi sebenarnya di lapangan.
Pada Sabtu, 7 Maret 2026, ratusan warga Israel menggelar demonstrasi di Habima Square, Tel Aviv, menuntut penghentian perang. Aksi ini juga diikuti beberapa anggota Knesset yang menilai konflik tersebut lebih mencerminkan kepentingan rezim pemerintahan Benjamin Netanyahu yang menganut paham messianis.

Gelombang penolakan terhadap perang juga muncul di Amerika Serikat. Sejumlah jajak pendapat, termasuk yang dilakukan Ipsos Poll pada awal Maret, menunjukkan hanya 27 persen warga Amerika Serikat yang setuju dengan kebijakan perang tersebut, sementara 43 persen menolak tegas dan sisanya masih ragu terhadap langkah Presiden Donald Trump.
Sejumlah pengamat militer dan intelijen asal Amerika, seperti Douglas McGregor dan Larry C. Johnson, juga meragukan klaim keberhasilan operasi militer serta data kerugian yang disampaikan Gedung Putih.
Satu hal yang dinilai melampaui prediksi militer Israel dan Amerika Serikat adalah kemampuan Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel, armada militer Amerika, serta berbagai objek vital kepentingan AS di kawasan Teluk hingga Turki dan Siprus. Bahkan pada hari ketiga konflik, Iran disebut berhasil memperluas perang menjadi konflik kawasan.
Serangan Iran yang menyasar pelabuhan laut, bandara, dan kilang minyak di sejumlah negara Teluk juga memicu ketidakstabilan keamanan dan ekonomi yang serius. Situasi semakin diperparah dengan blokade Iran di Selat Hormuz yang menghambat arus pengiriman energi dunia.
Pada Minggu (9/3/2026), setelah pemboman terhadap kilang minyak Iran oleh militer Israel, harga minyak mentah dunia melonjak hingga menyentuh angka 107 dolar AS per barel. Di saat yang sama, Rusia menawarkan harga minyak produksinya di kisaran 105 dolar AS per barel.
Kecemasan negara-negara Teluk pun semakin terlihat. Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan para duta besar negara Arab di Moskow pada Minggu (9/3/2026), sejumlah diplomat meminta Rusia menekan Iran agar menghentikan serangan militernya ke wilayah negara-negara sekitar.

Namun Lavrov merespons secara diplomatis bahwa tindakan militer Iran merupakan hak politik untuk membela diri dari agresi militer sepihak Israel dan Amerika Serikat yang terjadi di tengah proses perundingan. Ia juga mempertanyakan tidak adanya pernyataan keprihatinan dari negara-negara Arab atas serangan militer tersebut maupun atas kematian Ali Khamenei akibat serangan udara yang menghantam kediamannya.
Dalam perkembangan konflik ini, Iran dinilai berhasil menjalankan strategi untuk memperluas konflik menjadi perang kawasan sekaligus menciptakan tekanan global. Para pemimpin negara Teluk diperkirakan tidak mudah meminta Iran menghentikan operasi militernya karena dua faktor utama.
Pertama, pola serangan balasan Iran disebut semakin kuat dan sulit ditangkal oleh sistem persenjataan canggih milik Israel maupun Amerika Serikat. Kedua, Iran diduga memiliki target untuk mengubah dominasi militer dan politik Amerika Serikat di kawasan sekaligus menggeser persepsi tentang Israel sebagai ancaman bersama di Timur Tengah.
Serangan Iran terhadap sejumlah basis militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk juga memunculkan keraguan terhadap kemampuan AS sebagai payung keamanan kawasan.
Sebaliknya, tindakan militer Israel yang terus menyeret dukungan Amerika Serikat justru berpotensi kembali menempatkan Israel sebagai ancaman bagi stabilitas keamanan, ekonomi, dan politik di kawasan Teluk.
Perang kawasan ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama dan berpotensi memicu kekacauan geopolitik yang lebih luas. Konflik tersebut berawal dari agresi militer sepihak Israel yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintahan Donald Trump.
Iran diperkirakan mampu bertahan dalam konflik ini, namun dampak terbesar justru dirasakan negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat sekaligus memiliki hubungan dengan Israel. Setelah perang berakhir, bukan tidak mungkin akan muncul musuh bersama baru di kawasan Teluk dan sekitarnya, yakni Israel.
Mahfuz Sidik
Sekjen Partai Gelora Indonesia
Ketua Komisi I DPR RI, periode 2010–2017









