Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

Avatar photo

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Karikatur Preman

Foto : Karikatur Preman

Kabupaten Tangerang, Metrosiar – DEMOKRASI adalah sistem yang sangat terbuka. Demokrasi tidak bertanya terlalu jauh tentang siapa seseorang sebelum masuk ke arena kekuasaan. Demokrasi tidak meminta syarat bahwa seseorang harus bijaksana, luhur, atau bermoral tinggi untuk bisa menjadi penguasa.

Demokrasi hanya menyediakan prosedur. Siapa pun yang mampu memenuhi prosedur itu memiliki peluang yang sama untuk naik ke panggung kekuasaan. Di sinilah letak kekuatan sekaligus kelemahan demokrasi. Kekuatan demokrasi adalah keterbukaannya. Anak tukang becak bisa menjadi presiden. Orang miskin bisa menjadi anggota parlemen.

Kelompok kecil bisa menjadi kekuatan politik besar. Sementara itu, kelemahan demokrasi adalah membuka pintu bagi orang-orang yang secara standar moral problematik. Oportunis, manipulator massa, preman pasar, diberi “karpet merah” yang sama oleh demokrasi. Demokrasi menilai legitimasi dari dukungan publik, bukan dari kualitas moral manusia.

Selama seseorang mampu mengumpulkan massa, memenangkan suara, dan mengendalikan pengaruh, ia dapat memperoleh kekuasaan yang sah secara konstitusional. Populisme dan Negara yang Butuh Musuh

Demokrasi hanya menyediakan pintu, tidak menyediakan kunci moral. Demokrasi memberi kesempatan kepada semua orang, termasuk mereka yang mungkin suatu hari merusak semangat demokrasi itu sendiri dari dalam kekuasaan yang diperolehnya.

Moralitas vs Loyalitas Dalam praktik politik modern, kekuasaan lebih sering diraih oleh orang yang mampu membangun loyalitas massa dibandingkan dengan orang yang paling bermoral. Ini kenyataan politik yang terasa pahit, tetapi nyata dalam sejarah banyak negara.

Mengapa demikian? Karena politik pada dasarnya adalah soal kekuatan sosial. Kekuatan sosial lahir dari jumlah pendukung, solidaritas kelompok, kemampuan mobilisasi, jaringan, dan loyalitas. Moralitas pribadi tidak otomatis menghasilkan kekuasaan. Seseorang bisa jujur, bersih, cerdas, bahkan sangat bijaksana, tetapi jika ia tidak memiliki pengikut, organisasi, kemampuan komunikasi, dan basis dukungan, maka ia sering kalah dalam kontestasi politik.

Baca juga:  Ketua DPD Partai Gelora Kota Tangerang Soroti Peran Strategis Polri dalam Menjaga Stabilitas Nasional

Sebaliknya, figur yang mampu menciptakan loyalitas emosional dapat menjadi sangat kuat walaupun kualitas moralnya diperdebatkan. Massa manusia tidak selalu bergerak berdasarkan standar etika. Massa sering bergerak karena rasa kedekatan, identitas kelompok, ketakutan, harapan, kemarahan, atau rasa dilindungi. Di sinilah loyalitas menjadi mata uang politik yang sangat berharga. Sosok yang memiliki pendukung loyal sebenarnya memiliki energi kekuasaan.

Para pendukungnya rela membela, rela bergerak, rela menyebarkan pengaruh, bahkan kadang rela mengabaikan kesalahan pemimpinnya. Orang yang hanya bermoral tinggi tetapi tidak mampu membangun loyalitas sering berakhir sebagai tokoh yang dihormati, tetapi tidak berkuasa.

Ini sebabnya sejarah politik dunia penuh dengan paradoks, yaitu banyak orang baik tidak pernah memimpin, sementara banyak penguasa kuat justru sangat problematik secara moral. Namun, keadaan tersebut tidak berarti moralitas tidak penting. Ketika saya mengatakan bahwa kekuasaan sering diraih oleh orang yang memiliki pendukung loyal bukan berarti membenarkan keburukan moral.

Sama seperti dokter yang menjelaskan penyakit bukan berarti mendukung penyakit tersebut. Itu hanya pembacaan realistis terhadap cara politik bekerja. Ketika saya menjelaskan bahwa loyalitas massa lebih menentukan daripada moralitas bukan berarti membenci moralitas. Justru dengan memahami kenyataan secara jujur, kita dapat melihat titik masalah yang sebenarnya.

Jika politik hanya dibaca secara “moralistis dan romantis”, kita sering gagal memahami mengapa tokoh-tokoh problematik bisa tetap menang dan dicintai massa. Kita harus mampu membedakan antara memahami realitas, dan membenarkan realitas. Ketika kita menolak melihat kenyataan politik, sering hanya menghasilkan slogan moral. Sedangkan kalau memahaminya, kita memiliki peluang besar untuk memperbaikinya secara nyata.

Moralitas tetap penting sebagai pengarah kekuasaan, pembatas kesewenang-wenangan, dan sumber legitimasi jangka panjang. Namun, moralitas tanpa kekuatan sosial sering tidak cukup untuk memenangkan arena kekuasaan. Kekuasaan berbeda dengan ruang filsafat atau ruang agama. Dalam filsafat, kebenaran argumentasi bisa menjadi ukuran utama.

Baca juga:  Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap

Dalam agama, moralitas bisa menjadi pusat penilaian. Namun dalam kekuasaan, yang paling menentukan sering kali adalah siapa yang mampu mengorganisasi manusia. Dalam demokrasi modern, suara adalah fondasi legitimasi. Dan suara tidak datang otomatis kepada orang paling baik. Suara datang kepada mereka yang berhasil membangun identitas bersama dan dan menciptakan loyalitas massa.

Celakanya, loyalitas massa tidak selalu rasional. Kadang massa lebih setia kepada figur yang keras, berani, dekat secara emosional, daripada kepada figur yang sebenarnya lebih bersih dan kompeten. Lalu, apakah ini berarti kekuasaan pasti akan dikuasai orang-orang tanpa moral? Tidak selalu.

 Demokrasi terbaik adalah ketika loyalitas dan moralitas bertemu dalam satu figur, yaitu pemimpin yang memiliki dukungan massa sekaligus memiliki etika kekuasaan. Namun, pertemuan itu tidak mudah. Karena membangun moral pribadi jauh lebih mudah dibanding membangun loyalitas jutaan manusia. Dan membangun loyalitas massa sering menggoda orang untuk memakai manipulasi emosi, termasuk politik ketakutan.

Simpelnya, kekuasaan selalu menjadi arena yang rumit. Ia tidak otomatis dimenangkan oleh manusia paling baik, tetapi oleh manusia yang paling mampu mengubah dukungan sosial menjadi kekuatan nyata.

Seorang tokoh pemikir ketatanegaraan Islam klasik dan filosof dari Asia Tengah, Al-Farabi, dalam karyanya al-Madinah al-Fadhilah (Negara Unggul), menyatakan, ketika rakyat lebih tertarik pada kekuatan, sensasi, dan keuntungan pragmatis daripada kebijaksanaan, maka yang akan muncul adalah negara yang dipenuhi kejadian perebutan kuasa.

Penulis : Ijat Suntana (Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung)  

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolda Banten: Nilai Pancasila Harus Dibuktikan dengan Tindakan Nyata
Pigai Buka Fakta Aduan HAM: Polri Paling Banyak Dilaporkan, Pers Diminta Ambil Peran Besar
Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Tebus Sembako Cuma Setengah Harga, Warga Pasar Kemis Diserbu Paket Murah Jelang Idul Adha
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
“Kampus Bergerak, Politik Busuk Panik!” Bawaslu Ngada Gandeng STIPER FB dan STKIP Citra Bhakti, Mahasiswa Disiapkan Jadi Pasukan Pengawal Demokrasi
Heboh Pembangunan Koperasi Merah Putih di Buntu Sugi, Harga Jadi Penentu Nasib!
Suasana Santai Tapi Serius! Pendamping Desa Enrekang Fokus Bahas Dana Desa 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:16 WIB

Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

Senin, 1 Juni 2026 - 23:46 WIB

Kapolda Banten: Nilai Pancasila Harus Dibuktikan dengan Tindakan Nyata

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:07 WIB

Pigai Buka Fakta Aduan HAM: Polri Paling Banyak Dilaporkan, Pers Diminta Ambil Peran Besar

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:15 WIB

Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut

Kamis, 21 Mei 2026 - 02:50 WIB

Tebus Sembako Cuma Setengah Harga, Warga Pasar Kemis Diserbu Paket Murah Jelang Idul Adha

Berita Terbaru

Foto : Karikatur Preman

Politik & Pemerintahan

Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

Jumat, 5 Jun 2026 - 16:16 WIB

Foto : Samudra Atlantik

Internasional

Ditemukan di Dasar Samudra Atlantik Dunia Yang Hilang

Jumat, 5 Jun 2026 - 15:16 WIB

Gubernur Banten Andra Soni (tengah kiri) dan Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki (kiri dari Andra Soni) berfoto bersama unsur Forkopimda Provinsi Banten usai Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Kota Serang.

Politik & Pemerintahan

Kapolda Banten: Nilai Pancasila Harus Dibuktikan dengan Tindakan Nyata

Senin, 1 Jun 2026 - 23:46 WIB