Ancaman Hujan Mikroplastik: Riset Ungkap Bakar Sampah Pemicu Utama Polusi Udara

Avatar photo

Rabu, 10 Desember 2025 - 17:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Partikel mikroplastik yang ditemukan di lautan. (Foto: Florida Sea Grant/CC BY-NC-ND 2.0 melalui eco-business.com)

Ilustrasi: Partikel mikroplastik yang ditemukan di lautan. (Foto: Florida Sea Grant/CC BY-NC-ND 2.0 melalui eco-business.com)

Jakarta, Metrosiar – Kebiasaan membakar sampah ternyata menjadi kontributor utama yang mempercepat proses pengiriman partikel mikroplastik ke udara, yang pada akhirnya mencemari air hujan.

Penelitian terbaru dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bekerja sama dengan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SEIJ) mengungkap fakta mengejutkan mengenai dominasi partikel ini di udara.

Poliofelin Dominan dari Pembakaran Sampah
Hasil riset Ecoton dan SEIJ menemukan bahwa unsur poliolefin mendominasi komposisi mikroplastik di udara. Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton, menduga kuat dominasi ini berasal dari pembakaran sampah plastik, seperti kantong atau kemasan.

“Dominasi komposisi poliolefin partikel mikroplastik di udara kuat dugaan berasal dari pembakaran sampah plastik, baik kantong maupun kemasan,” ungkap Rafika.

Pemandangan pesisir Cilincing, Jakarta, yang tercemar sampah plastik, di mana seekor burung merpati tengah mencari rezeki.
Burung merpati terlihat mencari makan di pesisir Cilincing, Jakarta, yang dipenuhi tumpukan sampah plastik. (Kredit Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia)

Selain poliolefin, ditemukan juga unsur poliamida dan politetrafluoroetilena (PTFE) yang biasanya bersumber dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas.

Berdasarkan data penelitian, aktivitas pembakaran sampah plastik berkontribusi hingga 55% terhadap paparan mikroplastik, jauh melampaui aktivitas transportasi yang hanya menyumbang 33,3%. Fakta ini menegaskan bahwa paparan mikroplastik adalah murni akibat aktivitas manusia karena buruknya sistem pengelolaan sampah.

Jakarta “Juara” Kontaminasi Udara
Dari 18 kota yang diteliti, lima kota menunjukkan tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi, dengan DKI Jakarta menduduki peringkat pertama:

  • Jakarta Pusat (37 partikel /2 jam/9 cm)
  • Jakarta Selatan (30)
  • Bandung (16)
  • Semarang (13)
  • Kupang (13).

Sofi Azilan Aini, peneliti Ecoton, menyebut Jakarta secara umum menjadi kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik udara tertinggi.

“Terdapat 37 partikel dalam periode waktu dua jam di Jakarta,” ujarnya.

Baca juga:  BPJS Naik, Cak Imin Dukung dan Rakyat Jadi Tumbal

Pasar Tanah Abang bahkan diidentifikasi sebagai hotspot mikroplastik karena kombinasi lalu lintas tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas bongkar-muat, dan pelepasan serat tekstil sintetis. Sementara itu, Malang mencatatkan kelimpahan terendah, hanya dua partikel dalam dua jam, berkat rendahnya aktivitas industri dan pembakaran sampah.

Ancaman “Hujan Mikroplastik” dan Dampak Kesehatan
Rafika menjelaskan bahwa mikroplastik (potongan plastik berukuran kurang dari lima milimeter) menjadi persoalan serius karena sifatnya yang mudah mengikat zat beracun, termasuk logam berat dan bahan kimia berbahaya lainnya.

“Karena itu, mikroplastik bisa menjadi hingga 106 kali lebih beracun dibanding logam berat tunggal, sebab membawa campuran berbagai polutan sekaligus,” katanya.

Air hujan di Malang Raya terbukti mengandung mikroplastik berdasarkan penelitian dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).
Penemuan mengkhawatirkan: Peneliti ECOTON mendeteksi mikroplastik dalam air hujan di Malang Raya. (Dokumentasi Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia)

Pembakaran plastik menghasilkan aerosol sintetis dan partikel mikroplastik yang dapat terbawa angin jauh. Para peneliti menjelaskan fenomena yang kini menjadi sorotan:

“Ketika partikel-partikel ini bereaksi dengan uap air di atmosfer, mereka dapat turun bersama air hujan dan membentuk fenomena yang kini terkenal sebagai hujan mikroplastik,” terangnya.

Dampak mengerikan mikroplastik juga ditemukan dalam tubuh manusia. Penelitian dari Greenpeace Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan kandungan mikroplastik pada 95% sampel dari 67 partisipan. Plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET), yang umum pada botol air minum kemasan (AMDK), menjadi material paling banyak terdeteksi.

Pukovisa Prawirohardjo, ahli saraf dari FKUI, mengungkapkan risiko kesehatan paling parah:

“Mereka memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat,” jelas dia.

Mikroplastik dalam tubuh juga berpotensi merusak sistem jantung, pembuluh darah, reproduksi, dan saraf, serta mengganggu keseimbangan mikrobiota usus.

Baca juga:  Perkuat Peran Posyandu, Kecamatan Kemiri Gelar Bimtek Pemenuhan SPM 2026

Perlunya Solusi Komprehensif dari Hulu ke Hilir
Peningkatan sampah plastik di Indonesia menjadi masalah yang kian serius. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan volume sampah plastik naik dari 4,38 juta ton (2019) menjadi 7,86 juta ton (2023). Situasi ini diperburuk oleh impor sampah plastik, di mana Indonesia menerima 252.473 ton dari 27 negara pada tahun 2023.

Muhammad Reza Cordova, Peneliti Kimia Laut dan Ekotoksikologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang tepat dan benar untuk mengurangi paparan mikroplastik, terutama di darat.

“Berdasarkan penelitian kami, 10-20 persen limbah plastik yang bocor dari bagian utara Jakarta dan bagian barat Jawa akan langsung menuju Samudera Hindia,” katanya, menekankan betapa cepatnya sampah di darat mencapai laut.

Peneliti BRIN lainnya, Dwi Amanda Utami, juga menyoroti temuan mikroplastik di berbagai lingkungan laut Indonesia, bahkan dalam perut ikan: “Jumlah sampel ikan di Indonesia yang mengandung mikroplastik bahkan lima kali lebih banyak dibandingkan di Amerika,” ucapnya.

Untuk mengatasi krisis ini, perlu langkah konkret yang melibatkan:

  • Percepatan dan perluasan larangan penggunaan plastik sekali pakai.
  • Mendorong kemasan guna ulang (reuse).
  • Penetapan standar pengujian mikroplastik dan ambang batas kontaminasi dalam produk pangan.
  • Produsen harus mengurangi produksi dan meningkatkan transparansi komposisi plastik.

Pengelolaan sampah dari hulu ke hilir serta sinergi multipihak menjadi faktor kunci untuk menanggulangi ancaman mikroplastik di Indonesia.*

Editor : Nedu Wodo

Sumber Berita: mongabay.co.id

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Driver Ojol Diminta Waspada
Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ojol Diminta Waspada
Ratna Jumila A.Md.Keb., Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Kesehatan
Bakti Sosial Mabes Polri, Ratusan Driver Ojol Dapat Layanan Kesehatan Gratis
GMKI Palangka Raya Kritik Penanganan Karhutla Kalteng: Negara Harus Hadir Sebelum Asap
Karhutla Kalteng Jadi Sorotan GMKI Palangka Raya Bukan Sekadar Api
Apresiasi Ibu Lulus ASI Eksklusif, Dinkes Kab. Tangerang Gelar Wisuda ASI 2026 demi Cegah Stunting
Bangun Industri Kosmetik Berkualitas, PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Utamakan Kepercayaan dan Inovasi
Berita ini 31 kali dibaca
Kebiasaan bakar sampah memicu "hujan mikroplastik". Ecoton temukan Jakarta tertinggi. Paparan tinggi picu risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36x lipat!

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 12:27 WIB

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Driver Ojol Diminta Waspada

Minggu, 6 September 2026 - 23:50 WIB

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ojol Diminta Waspada

Minggu, 6 September 2026 - 11:42 WIB

Ratna Jumila A.Md.Keb., Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Kesehatan

Selasa, 1 September 2026 - 08:38 WIB

Bakti Sosial Mabes Polri, Ratusan Driver Ojol Dapat Layanan Kesehatan Gratis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:09 WIB

GMKI Palangka Raya Kritik Penanganan Karhutla Kalteng: Negara Harus Hadir Sebelum Asap

Berita Terbaru

Hukum & Kriminal

Kasus Dugaan Penganiayaan Advokat di Bogor, Jadi Tersangka

Selasa, 8 Sep 2026 - 10:44 WIB

Alexander Salembun, jurnalis Metrosiar (kiri), bersama personel TNI AD di lokasi kegiatan pembersihan abu vulkanik menggunakan mobil water tank TNI AD.

Peristiwa & Bencana

Abu Vulkanik Ganggu Jalan, Koramil 11 Pasar Kemis Turunkan Water Tank

Selasa, 8 Sep 2026 - 06:49 WIB

Kesehatan

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Driver Ojol Diminta Waspada

Senin, 7 Sep 2026 - 12:27 WIB