Metrosiar – Belum genap setahun Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden, namun Partai Golkar sudah menyatakan dukungan untuk pencalonannya kembali di Pilpres 2029.
Langkah ini bukan sekadar formalitas politik, melainkan sinyal bahwa skenario kekuasaan jangka panjang tengah disusun, bahkan sebelum rakyat merasakan hasil nyata dari kepemimpinannya saat ini.
Guru yang Sama, Sandiwara yang Diulang?
Pemilu 2024 meninggalkan jejak kontroversi yang mendalam.
Dari perubahan syarat usia calon wakil presiden oleh Mahkamah Konstitusi hingga dugaan intervensi aparat negara dalam kampanye, semua mengingatkan pada praktik-praktik yang mencederai demokrasi.
Ahli hukum tata negara, Refly Harun, menyatakan Pemilu 2024 penuh dengan kecurangan yang kasat mata.
Ia menuding Presiden Joko Widodo sebagai sumber dari kerusakan demokrasi tersebut, dengan menyebut demokrasi Indonesia mulai hancur karena campur tangannya.
Kekuasaan yang Didesain, Bukan Dipilih?
Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, mengungkapkan dalam politik Indonesia, oligarki memainkan peran utama dalam menentukan arah kekuasaan.
Ia membagi aktor politik menjadi tiga lapis, dengan oligarki sebagai lapis utama, diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.
Dukungan dini Golkar kepada Prabowo seolah memperkuat pandangan bahwa kekuasaan di Indonesia lebih banyak didesain oleh elite politik daripada benar-benar dipilih oleh rakyat melalui proses demokratis yang sehat.
Demokrasi Tak Lagi Menjawab Siapa yang Dipilih Rakyat

Jika segala sesuatunya sudah dikondisikan dari sekarang dukungan partai, penguasaan media, hingga regulasi yang bisa dijahit sesuai kepentingan penguasa, maka pesta demokrasi tinggal panggung teater.
Rakyat datang ke TPS hanya sebagai figuran, bukan pemegang kendali.
Apakah kita akan membiarkan “guru” yang sama memainkan “ilmu” yang sama di tahun 2029?
Ataukah rakyat akan cukup sadar untuk mengganti naskah sebelum pentas benar-benar dimulai?
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga saat ini dan bertujuan untuk memberikan perspektif kritis terhadap dinamika politik Indonesia. Pendapat yang disampaikan oleh para ahli mencerminkan kekhawatiran terhadap arah demokrasi di negara ini.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Dari Berbagai Sumber









