Pengelolaan Sampah di Indonesia Butuh Skema Pendanaan Baru dan Ekonomi Sirkular

Avatar photo

Jumat, 16 Mei 2025 - 17:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Strategi Pengelolaan Sampah Gagal? Ini Saatnya Ubah Skema dan Sistemnya. (Foto: Ilustrasi/Istimewa)

Strategi Pengelolaan Sampah Gagal? Ini Saatnya Ubah Skema dan Sistemnya. (Foto: Ilustrasi/Istimewa)

Metrosiar – Pengelolaan sampah di Indonesia tengah memasuki masa kritis.

Di tengah peningkatan volume sampah yang kian mengkhawatirkan, sistem pendanaan dan manajemen sampah nasional masih berkutat pada pola lama yang kurang responsif terhadap perubahan zaman.

Mohamad Bijaksana Junerosano, CEO dan Founder Waste4Change, menyoroti strategi saat ini tak lagi mampu menjawab tantangan.

“Pendanaan dari APBD tidak mencukupi untuk menjamin cakupan layanan yang merata di seluruh Indonesia. Tanpa skema pendanaan baru yang inovatif dan berkelanjutan, sistem ini akan terus pincang,” ujar Sano, Kamis (15/5/2025).

Pendekatan Tradisional Tak Lagi Cukup

Sampah yang dihasilkan masyarakat terus meningkat, namun respons sistemik pemerintah belum menunjukkan sinyal reformasi besar.

Ketergantungan pada dana daerah dinilai tidak cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan.

Sano menekankan pentingnya membangun strategi yang bankable, artinya layak secara finansial dan menarik bagi pihak luar untuk ikut berkontribusi.

“Kita tidak butuh sekadar program baru, kita butuh arah yang jelas, dukungan pendanaan yang nyata, dan ruang kolaborasi yang terbuka,” tegasnya.

Hal ini juga menyentil persoalan koordinasi antar instansi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi lintas level pemerintahan.

Baca juga:  Saham TOBA Naik 212%, Transformasi Bisnis ke Waste-to-Energy dan Energi Hijau

Volume Sampah Tinggi, Solusi Masih Lambat

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, pada 2024 jumlah timbulan sampah nasional mencapai 33 juta ton per tahun.

Namun, banyak wilayah masih belum memiliki fasilitas pemilahan sampah dari sumber, yang membuat beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin berat.

“Bahkan, masih banyak kota dan kabupaten yang belum memiliki sistem pemilahan di sumber, sementara TPA terus menumpuk tanpa kejelasan solusi jangka panjang,” ungkap Sano.

Kesenjangan antara volume timbulan dan kapasitas pengelolaan menjadi tantangan besar yang membutuhkan intervensi cepat dan terukur.

Ekonomi Sirkular: Dari Limbah Jadi Sumber Daya

Alih-alih terus mengandalkan sistem linier yang berujung di TPA, pendekatan ekonomi sirkular dinilai sebagai jalan keluar paling rasional.

Konsep ini mendorong penggunaan ulang, daur ulang, dan pemanfaatan kembali material yang sebelumnya dianggap limbah.

“Kami percaya bahwa saatnya Indonesia berpindah ke arah ekonomi sirkular, bukan karena itu tren global, tetapi karena itu satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dan berkelanjutan,” tutur Sano.

Baca juga:  Krisis Sampah Indonesia: Solusi Teknologi Tinggi Tapi Gagal Atasi Masalah Tata Kelola

Kesadaran publik dan regulasi yang adaptif menjadi kunci agar transisi ke sistem ini berjalan mulus.

Inovasi Waste4Change dan Kolaborasi Multipihak

Di tengah tantangan nasional, Waste4Change menjadi contoh konkret bagaimana inovasi bisa mengubah wajah pengelolaan sampah.

Melalui program Extended Producer Responsibility (EPR), mereka menggandeng produsen untuk bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi.

Tak hanya itu, Waste4Change juga membangun fasilitas pengolahan organik dan anorganik, memproduksi kompos, serta mengolah bahan daur ulang bernilai tinggi.

Proyek ini melibatkan komunitas lokal melalui sistem bank sampah digital.

“Kami melibatkan komunitas dan mitra lokal melalui digitalisasi sistem bank sampah untuk memastikan alur material tidak putus dan bisa bernilai kembali,” jelas Sano.

Waktunya Menyusun Ulang Peta Jalan

Tantangan pengelolaan sampah di Indonesia menuntut keberanian untuk meninggalkan pola lama.

Skema pendanaan inovatif, kolaborasi lintas sektor, dan transisi ke ekonomi sirkular menjadi fondasi penting untuk menciptakan sistem yang tahan banting dan berkelanjutan.

Jika krisis ini ditanggapi dengan langkah progresif, bukan tidak mungkin sampah bisa menjadi peluang ekonomi baru bagi Indonesia.(*)

Editor : Konradus Fedhu

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven
Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia
KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat
Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi
Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli
Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Berita ini 26 kali dibaca
Pengelolaan sampah di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat skema pendanaan yang usang dan tidak merata. Dengan timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton per tahun, sistem lama tak lagi mampu menanggulangi krisis ini. Diperlukan pendekatan baru yang bankable, kolaboratif, dan didukung sistem retribusi yang transparan. Waste4Change hadir sebagai inovator dengan mengusung konsep Extended Producer Responsibility dan ekonomi sirkular sebagai solusi berkelanjutan. Melalui kolaborasi multipihak dan digitalisasi pengelolaan sampah, Indonesia dapat membalik krisis ini menjadi peluang. Inilah saatnya meninggalkan pola lama dan membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berdampak nyata.

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 12:37 WIB

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:00 WIB

Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:03 WIB

KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Berita Terbaru