Jakarta, Metrosiar – Harga emas dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Asia, Senin, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati kerangka perjanjian perdamaian sementara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut memicu optimisme pasar, menekan harga minyak, dan meredakan kekhawatiran terhadap inflasi serta kebijakan suku bunga tinggi.
Di pasar spot, harga emas tercatat naik 2,3 persen menjadi 4.317,32 dolar AS per ounce pada pukul 21.48 ET (01.48 GMT). Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Agustus menguat 2,4 persen menjadi 4.338,75 dolar AS. Kenaikan ini sekaligus memperpanjang rebound setelah pekan lalu emas sempat menyentuh level terendah dalam beberapa bulan terakhir di kisaran 4.000 dolar AS per ounce.
Berdasarkan keterangan pejabat AS dan Iran pada Minggu, kedua negara telah mencapai kerangka perdamaian yang akan menghentikan permusuhan, mengakhiri blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengatakan bahwa perjanjian tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Pengumuman itu langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah Brent anjlok lebih dari 4 persen ke kisaran 84 dolar AS per barel, seiring ekspektasi para pelaku pasar terhadap pulihnya aliran minyak dari kawasan Teluk dan berkurangnya risiko gangguan pasokan global.
Di sisi lain, dolar AS juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks Dolar AS terakhir tercatat turun 0,2 persen. Kondisi ini turut mendukung penguatan harga emas karena logam mulia tersebut menjadi lebih menarik bagi investor ketika nilai dolar melemah.
Sebelumnya, konflik di Timur Tengah justru menekan pergerakan emas. Meski dikenal sebagai aset safe haven, lonjakan harga minyak akibat perang sempat memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Situasi tersebut memperkuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Setelah adanya pengumuman perdamaian, ekspektasi pasar terhadap pengetatan moneter AS kembali mereda. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember sebesar 49 persen, turun dari 69 persen pada pekan sebelumnya.
Investor saat ini juga menantikan hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 16-17 Juni. Bank sentral AS tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, sembari menyampaikan proyeksi ekonomi terbaru.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan bank sentral utama lainnya. Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1 persen, sementara Bank of England diproyeksikan tetap mempertahankan tingkat suku bunganya.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik 3,3 persen menjadi 70,24 dolar AS per ounce, sedangkan platinum menguat 3,2 persen menjadi 1.776,60 dolar AS per ounce.









