Miami, Metrosiar – Dalam sebuah pemandangan yang luar biasa, yang mencuri perhatian penonton dan lensa media selama kompetisi Piala Dunia 2026, tim nasional Arab Saudi menonjol dibandingkan tim-tim peserta lainnya karena bendera mereka tidak terlihat di lapangan selama upacara perkenalan tim, sebuah langkah yang tidak lazim dalam protokol resmi turnamen tersebut.
Sementara bendera negara-negara lain berbaris di lapangan sesuai prosedur regulasi yang biasa, para penonton memperhatikan ketidakhadiran bendera Saudi dari pemandangan tersebut, yang memicu pertanyaan mengenai latar belakang keputusan ini yang tampak disengaja dan direncanakan.
Menurut sumber di panitia penyelenggara, langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap keistimewaan bendera Saudi yang memuat kalimat tauhid “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”, yang merupakan kata-kata suci dalam ajaran Islam, yang tidak boleh diletakkan di tanah atau diperlakukan dengan cara yang dapat dipahami sebagai merendahkan martabat religiusnya.
Berdasarkan pertimbangan ini, telah disepakati protokol khusus yang menjamin bendera tetap dikibarkan di tempat yang layak dan sesuai dengan kesuciannya, jauh dari praktik simbolis apa pun yang dapat merusak makna atau martabatnya.
Langkah ini mendapat pujian luas dari masyarakat Arab dan Islam, yang melihatnya sebagai contoh penghormatan terhadap nilai-nilai agama dalam ajang olahraga internasional.
Ini bukanlah kali pertama aspek ini diperhatikan dalam forum internasional, karena penyelenggara turnamen besar telah terbiasa menangani bendera Saudi sesuai dengan aturan khusus yang menghormati simbol keagamaannya, baik dalam upacara resmi maupun dalam materi promosi dan pertunjukan pendamping.
Selama pertandingan Arab Saudi melawan Uruguay, pemandangan tersebut terlihat jelas di dalam Stadion Kansas City, di mana semua bendera tim peserta ditata berjejer di atas lapangan, kecuali bendera Arab Saudi yang tetap dikibarkan di tempat yang telah ditentukan, dalam sebuah adegan yang digambarkan media sebagai “perwujudan keseimbangan antara kesucian simbol-simbol agama dan tuntutan organisasi olahraga modern”.