Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Avatar photo

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Calon Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel (ketiga dari kiri0, ingatkan pemerintah untuk kolaborasi bukan monopoli ekspor. (dok. Istimewa)

Calon Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel (ketiga dari kiri0, ingatkan pemerintah untuk kolaborasi bukan monopoli ekspor. (dok. Istimewa)

Gorontalo, Metrosiar – Rencana pembentukan sistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai eksportir tunggal untuk komoditas strategis melalui BP Danantara menuai respons dari kalangan dunia usaha.

Calon Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel, menilai langkah tersebut berpotensi menjadi lompatan besar bagi perekonomian nasional. Namun dengan catatan, kebijakan wajib mengedepankan kolaborasi dan keberpihakan pada pengusaha lokal.

Menurut Fauzan, penguatan kendali negara terhadap ekspor sumber daya alam memang krusial untuk mengamankan devisa, menjaga transparansi harga, dan mendongkrak daya tawar Indonesia di pasar internasional. Meski demikian, ia mengingatkan agar regulasi baru ini tidak mematikan ekosistem bisnis yang sudah ada.

“BUMN ekspor tunggal jangan hanya menjadi instrumen kontrol negara. Ini harus menjadi instrumen penguatan pengusaha nasional agar bisa naik kelas dan memiliki daya tawar global yang lebih kuat,” ujar Fauzan dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).

Potensi Nilai Ekspor dan ‘Multiplier Effect’

Bukan tanpa alasan sektor ini menjadi sorotan tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), performa ekspor Indonesia sepanjang tahun 2025 sukses menembus angka sekitar US$282,9 miliar, atau tumbuh 6,15% secara tahunan (year-on-year).

Di sisi lain, laporan Reuters mencatat nilai ekspor dari tiga komoditas andalan kelapa sawit (CPO), batu bara, dan nikel/ferro alloy—menyumbang angka fantastis mencapai US$65 miliar dalam setahun terakhir. Bahkan, pada semester I 2025, komoditas CPO, batu bara, dan besi baja mendominasi lebih dari 30% total ekspor nonmigas nasional.

Baca juga:  Dari Kantor ke Masyarakat: Green Movement Pertamina NRE untuk Indonesia Hijau Resmi diluncurkan

Fauzan menegaskan, besarnya angka tersebut membuktikan bahwa sektor komoditas adalah tulang punggung devisa. Oleh karena itu, tata kelolanya harus mampu menciptakan dampak berganda (multiplier effect) yang konkret bagi dunia usaha, mulai dari eksportir mapan hingga pelaku UMKM.

Jika dieksekusi secara tepat, Fauzan mengidentifikasi enam keuntungan utama yang bisa dinikmati pelaku usaha domestik melalui sistem terpusat ini:

Kepastian pasar dan akses terhadap pembeli (buyer) global.

Stabilitas harga komoditas ekspor di pasar internasional.

Efisiensi logistik nasional lewat konsolidasi volume kargo.

Penguatan akses pembiayaan bagi para pelaku usaha.

Menghilangkan perang harga yang kerap terjadi antar-eksportir lokal.

Peningkatan posisi tawar (bargaining position) saat berhadapan dengan pembeli asing.

“Selama ini banyak eksportir Indonesia saling bersaing sendiri di luar negeri sampai margin makin tipis. Kalau ada konsolidasi nasional yang sehat, justru posisi pengusaha Indonesia bisa lebih kuat menghadapi trader internasional,” jelas pengusaha yang bergerak di bidang logistik dan infrastruktur tersebut.

Jangan Terjebak Birokrasi

Kendati mendukung, Fauzan memberikan catatan kritis agar implementasi kebijakan di bawah Danantara ini tidak terjebak dalam jalur birokrasi yang rumit. Negara harus tetap menghormati fleksibilitas bisnis swasta. Ia mengingatkan bahwa sektor swasta memiliki keunggulan yang tidak mudah diadopsi oleh sistem birokrasi, seperti jaringan pasar, kedekatan relasi dengan buyer, kecepatan distribusi, dan keluwesan perdagangan.

Baca juga:  Profil Maharani Kemala yang Dituduh Rogoh Rp 10 Miliar Agar Nikita Mirzani Dipenjara, Bunda Corla Nangis Bantah Isu Tersebut

“Pengusaha itu bergerak berdasarkan kecepatan pasar. Karena itu negara harus menjadi enabler dan strategic partner, bukan mengambil seluruh ruang perdagangan,” cetus Fauzan.

Dampak Nyata Bagi Daerah

Lebih lanjut, Fauzan berharap dampak positif dari tata kelola baru ini tidak hanya berputar di pusat, melainkan menyentuh daerah penghasil komoditas seperti Provinsi Gorontalo. Ia mendorong agar penguatan ekspor diimbangi dengan percepatan hilirisasi di daerah, pembangunan kawasan industri, pelabuhan, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), hingga pembenahan infrastruktur logistik lokal.

Baginya, indikator keberhasilan kebijakan besar ini tidak boleh hanya diukur dari angka devisa yang masuk ke kas negara. Keberhasilan sejati tercermin dari:

Meningkatnya jumlah eksportir nasional yang tangguh.

Tumbuhnya kelas pengusaha baru di daerah.

Meluasnya volume industri hilirisasi di luar Jawa.

Terbukanya lapangan kerja baru dalam skala besar.

Meningkatnya daya saing performa logistik nasional.

“Kalau negara kuat tetapi pengusaha nasional melemah, itu bukan ekonomi yang sehat. Yang dibutuhkan adalah model kolaborasi di mana negara mendapat kontrol strategis, sementara dunia usaha mendapat ruang tumbuh yang lebih besar,” pungkas Fauzan, yang saat ini tengah maju memimpin KADIN Gorontalo dengan visi memperkuat investasi dan konektivitas ekonomi daerah.(*)

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Denyut Perdagangan Kambing dari Pasar Sentral Sudu Menuju Palopo Jelang Idul Qurban
LSP Takarsa Jakarta Menuju Lisensi Resmi, BNSP Apresiasi
Bambu Ngada Siap Tembus Pasar Nasional! ITB Latih Pengrajin Produksi Papan Laminasi Bernilai Tinggi
Forbisda HIPMI Banten: Raka Aditya Sebut Pengusaha Muda Kini Jadi “Game Changer” di Tengah Ketidakpastian Global
Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Pasar Dibayangi Kesepakatan AS-Iran
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:15 WIB

Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut

Senin, 18 Mei 2026 - 20:56 WIB

Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:33 WIB

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:27 WIB

Denyut Perdagangan Kambing dari Pasar Sentral Sudu Menuju Palopo Jelang Idul Qurban

Berita Terbaru

Jamaah haji dari berbagai negara berjalan kaki menuju Masjidil Haram di kawasan Misfalah, Makkah, Jumat (22/5/2026)

Internasional

Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:19 WIB

Momen kebersamaan jajaran Komunitas PPA Tangerang, Yayasan Gerakan Amal Shaleh, dan Sahabat Berbagi usai kegiatan berbagi makan malam dan penyaluran bantuan di kawasan Stasiun Kota Tangerang. Tampak hadir Priyadi (Ketua YAI Tangerang)bersama rombongan Komunitas PPA Tangerang, Robi Anggara (Presiden Gerakan Amal Shaleh), serta Supriyanti Dea (Founder Gerakan Sahabat Berbagi) bersama para relawan yang turut berpartisipasi.

Sosial Kemasyarakatan

Gerakan Jumat Berkah: Berbagi Makanan dan Kebutuhan Mandi untuk Sesama

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:03 WIB

Keterangan Gambar:
Bupati Enrekang H. Muh. Yusuf Ritangnga, SE bersama BPBD, DPRD, Kepolisian dan warga meninjau langsung perbaikan jalan amblas akibat hujan deras di Bubun Bia, Kecamatan Baroko.

Peristiwa & Bencana

Bupati Enrekang Pantau Langsung Perbaikan Jalan Amblas di Bubun Bia

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WIB