Ngada.Metrosiar- Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan saat nama Andra Maurensia Guwa Rodja diumumkan sebagai Best Speaker dalam lomba debat tingkat SMA di Kabupaten Ngada.
Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menyimpan rasa haru sekaligus bangga. Di balik pencapaian itu, tersimpan proses panjang, latihan tanpa lelah, serta keberanian untuk terus melampaui batas diri.
Lomba debat yang diikuti puluhan pelajar dari berbagai SMA di Ngada ini menjadi ajang adu gagasan, logika, dan ketajaman berpikir.
Setiap peserta dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menyampaikan argumen secara sistematis, lugas, dan meyakinkan. Di tengah persaingan ketat tersebut, Andra Maurensia Guwa Rodja tampil mencuri perhatian.
Sejak babak penyisihan, putri dari pasangan Johanes Rodja dan Margaretha Meda ini menunjukkan kualitasnya sebagai pembicara yang matang.
Ia tidak sekadar menyampaikan argumen, tetapi mampu membangun alur berpikir yang runtut, menyanggah lawan dengan elegan, serta menghidupkan suasana debat dengan gaya bicara yang percaya diri. Ketika peserta lain mulai kehilangan arah, Mauren panggilan akrabnya, justru tampil semakin tajam dan terukur.
“Debat bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita bisa menyampaikan ide dengan jelas dan menghargai pendapat orang lain,” ujar Mauren, Kamis (30/4/26).
Kalimat sederhana itu mencerminkan kedewasaan berpikir yang menjadi salah satu kekuatannya di atas panggung. Para juri pun sepakat bahwa Mauren layak menyandang predikat Best Speaker.
Penilaian tidak hanya didasarkan pada isi argumen, tetapi juga pada cara penyampaian, ketenangan, serta kemampuan merespons tekanan dalam debat. Mauren dinilai mampu menggabungkan ketiganya secara seimbang.

Di balik keberhasilannya, Mauren mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari. Latihan rutin bersama tim, membaca berbagai isu aktual, serta membiasakan diri berbicara di depan umum menjadi bagian dari kesehariannya. Dukungan dari guru dan teman-teman sekolah juga menjadi motivasi tersendiri.
Boy Zanda, guru Bahasa Indonesia di SMAK Regina Pacis Bajawa yang juga sebagai pembimbing mengaku, awalnya Mauren dikenal sebagai siswi yang pemalu. Namun karena terus ditempa ia akhirnya menemukan jati dirinya.
“Mauren itu saya didik awal itu pemalu. Dan saat latihan sering tidak konsisten. Kadang juga bersungut kalau terlalu padat,”. ungkap Boy Zanda.
Namun, selaku guru yang membimbing Mauren, Boy Zanda mengakui bahwa Mauren berubah total saat lomba di Aimere. Dia begitu dewasa. Dia tampil sebagai anak yang seperti baja tak muda goyah. Dia berubah menjadi siswa yang menyimak dengan baik apa yang pelatih omong. Dia tampil sebagai pribadi yang disiplin dan elegan.
Menariknya, sejak babak penyisihan, 8 besar, semi final dan final, dia selalu naik kapasitasnya. Tata bahasa dan publiknya sangat “membunuh” lawan dan begitu wibawa, ketus Boy Zanda.
Ajang ini tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda Ngada untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi. Kehadiran Mauren sebagai Best Speaker menjadi inspirasi bahwa dengan kerja keras dan konsistensi, pelajar daerah pun mampu tampil gemilang.
Saat lomba usai dan suasana kembali tenang, satu hal yang tersisa adalah jejak inspirasi. Mauren telah membuktikan bahwa suara anak muda bisa lantang, cerdas, dan penuh makna. Sebuah langkah kecil di panggung debat, namun menjadi pijakan besar menuju masa depan yang lebih cerah.*
Penulis : Elfrat Dhena
Editor : Frans Dhena
Sumber Berita: Metrosiar









