Metrosiar – Tidak ada yang menyangka di tengah kegemerlapan Kota Bandung terdapat sebuah rumah kecil di pinggiran sungai Cikapundung menjadi tempat tinggal seorang ayah dan anak laki-lakinya dengan segala keterbatasan.
Rumah tersebut ditemukan saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi lokasi banjir.
Keadaan rumah yang sangat sempit dan tidak layak huni mengundang perhatian Dedi.
“Bapak teh nyelepet di dieu?” (Bapak tinggal di tempat sempit ini?) tanya Dedi saat mendekati rumah tersebut, yang kemudian diunggah di akun YouTube Kang Dedi Mulyadi (KDM), pada Jumat (21/3/2025).
Rumah tersebut memiliki ruang sempit, dengan sebuah kasur dan televisi tabung tua di dalamnya.
Tidak jauh dari sana terdapat sumur kecil yang digunakan untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari.
Sang ayah, yang bekerja sebagai tukang servis payung, bersama anak laki-lakinya yang putus sekolah, bertahan hidup di tempat tersebut meski menghadapi ancaman banjir.
Kondisi rumah yang sangat sederhana ini seringkali terancam saat hujan deras karena meluapnya air sungai yang bisa menggenangi tempat tinggal mereka.
“Lamun banjir kumaha?” (Kalau banjir gimana?), tanya Dedi khawatir, dan dijawab sang ayah, “Lumpat kaitu” (lari ke arah sumur), dengan pasrah.
Dedi Mulyadi, yang tergerak dengan kondisi mereka, menawarkan bantuan berupa pindah ke tempat yang lebih layak.
Tetapi, sang ayah menolak bantuan tersebut karena alasan keterbatasan dana.
Bahkan tawaran bantuan biaya kontrakan sementara untuk menghindari banjir juga ditolak.
Sang ayah merasa lebih nyaman di tempat tersebut karena selama ini air sungai hanya naik setinggi betisnya, dan ia merasa kebutuhan utama mereka adalah perbaikan rumah, terutama bagian depan yang lebih kokoh untuk menghadapi banjir.
Sebagai bentuk kepedulian, Dedi akhirnya memberikan sejumlah uang untuk memperkuat struktur rumah mereka, meski tidak dapat memberikan kenyamanan sepenuhnya.
Kondisi ini mencerminkan betapa kerasnya perjuangan hidup ayah dan anaknya saat kawasan sekitar sungai Cikapundung sering dilanda banjir.
Ini juga menunjukkan dua hal yang kontras antara kawasan kumuh di sekitar sungai dengan kemewahan yang terlihat di pusat wisata Braga Kota Bandung.(*)
Editor : Konrad
Sumber Berita: YouTube KDM Channel









