Komitmen Iklim Global Mandek: Lebih dari 170 Negara Belum Serahkan Target Baru

Avatar photo

Senin, 12 Mei 2025 - 23:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dampak perubahan iklim global (Foto: Freepik)

Ilustrasi dampak perubahan iklim global (Foto: Freepik)

Metrosiar – Lebih dari 170 negara belum memperbarui komitmen iklim mereka sebagaimana diatur dalam Perjanjian Paris, menurut laporan dari International Institute for Environment and Development (IIED).

Keterlambatan kolektif ini mengancam efektivitas agenda global untuk merespons krisis iklim yang terus memburuk.

Pembaruan target tersebut, yang seharusnya sudah dikirimkan paling lambat awal 2025, sangat penting untuk dievaluasi menjelang Konferensi Perubahan Iklim COP30.

Dalam skema Perjanjian Paris, setiap negara diminta menyusun Nationally Determined Contributions (NDC), peta jalan nasional dalam menurunkan emisi karbon dan mengelola dampak iklim.

Target utama dari kebijakan ini adalah membatasi pemanasan global agar tidak melebihi 2°C, dengan ambisi lebih besar untuk menjaga di bawah 1,5°C dibandingkan suhu rata-rata sebelum era industri.

Baru 21 Negara Serahkan NDC, Tenggat Waktu Mepet

Pihak-pihak dalam Perjanjian Paris wajib menyerahkan NDC terbaru mereka untuk tahun 2035 paling lambat 10 Februari 2025.

Namun, hingga kini hanya 15 dari 195 negara yang sudah memenuhi tenggat waktu tersebut. Per Mei 2025, total baru 21 negara yang telah menyampaikan pembaruan NDC.

Baca juga:  Trump Terapkan Tarif Impor Baru, Indonesia Terkena Dampak Serius

Negara-negara tersebut antara lain Jepang, Kanada, Brasil, Inggris Raya, Uni Emirat Arab, Zambia, Kuba, Maladewa, Montenegro, Kepulauan Marshall, Singapura, Zimbabwe, Ekuador, Saint Lucia, Andorra, Selandia Baru, Swiss, Uruguay, Kenya, dan Moldova.

Sementara itu, Amerika Serikat justru menarik diri dari Perjanjian Paris setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif awal tahun ini. Padahal, hanya tersisa 6 bulan sebelum COP30 digelar di Brasil.

“Kita benar-benar perlu melihat negara-negara menyerahkan target iklim terbaru mereka. Target-target ini menunjukkan apakah para pemimpin dunia serius atau tidak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, yang sudah menimbulkan malapetaka di seluruh dunia,” kata Camilla More, peneliti diplomasi iklim di IIED, dikutip dari Down to Earth, Senin (12/5/25).

Penilaian Climate Action Tracker: Hanya Inggris yang Sesuai Target 1,5°C

Dokumen pembaruan tersebut seharusnya diserahkan paling lambat pada awal 2025, agar bisa dianalisis sebelum digelarnya Konferensi Iklim COP30. Salah satu komponen utama dalam Perjanjian Paris adalah penyusunan Nationally Determined Contributions (NDC), yakni strategi masing-masing negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Tujuan dari NDC adalah membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 2°C, dan sebisa mungkin mendekati 1,5°C dibandingkan kondisi sebelum revolusi industri.
Ilustrasi dampak perubahan iklim secara global (Foto: Freepik)

Climate Action Tracker, lembaga independen berbasis sains yang menilai komitmen iklim global, telah memantau 20 negara yang telah mengirimkan NDC mereka dan menganalisis 10 di antaranya.

Hasilnya menunjukkan bahwa hanya target dari Inggris Raya yang kompatibel dengan tujuan menjaga pemanasan global tidak lebih dari 1,5°C.

Baca juga:  Momen Lisa BLACKPINK Bertemu Aktor Indonesia di Busan International Film Festival 2025

Walaupun target tersebut dianggap ambisius, menurut Climate Analytics, kontribusi Inggris belum mencerminkan tanggung jawab yang adil secara global. Lembaga ini merekomendasikan agar Inggris meningkatkan pendanaan iklim guna membantu negara-negara berkembang.

Selain itu, target iklim Inggris untuk 2030 dinilai masih belum cukup ambisius dan belum selaras dengan tujuan jangka panjang pembatasan pemanasan bumi hingga 1,5°C.

Kritik terhadap Investasi Teknologi Penangkapan Karbon

Inggris berencana mengalokasikan hampir 22 miliar poundsterling untuk pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Namun, langkah ini menuai kritik.

Mark Maslin, Profesor Ilmu Pengetahuan Alam dari University College London, menyatakan bahwa ketergantungan terhadap teknologi ini justru bisa memperlambat transisi menuju energi bersih dan memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Camilla More menambahkan, “Setiap tahun, biaya krisis iklim terus meningkat. Kita perlu melihat tindakan yang berani dan ambisius untuk memangkas emisi dan mendukung masyarakat beradaptasi dengan realitas baru serta mengatasi dampak yang tak terhindarkan. Kita tidak bisa membiarkan populisme jangka pendek bertindak sebagai rem pada aksi iklim.”(*)

Editor : Nedu Wodo Mezhe

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun
Markas Baru Ronaldinho di Italia: Stadio Bruno Benelli Siap Jadi Panggung Comeback R10
Ronaldinho Comeback di Usia 46 Tahun, Bidik Gol ke-300 Bersama Ravenna FC
Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol
Piala Dunia 2026 Jelang Perancis vs Inggris Perebutan Tempat ke 3
Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Ada 10 Fakta Menarik
Semi Final Piala Dunia 2026, Perancis Nilai Paling Tinggi, Argentina Paling Subur, Spanyol Paling Minim Kebobolan dan Inggris Dengan Supporter Yang Sangat Berisik.
Israel Ditantang Turki, Segini Teknologi Perangnya
Berita ini 20 kali dibaca
International Institute for Environment and Development (IIED) melaporkan bahwa lebih dari 170 negara belum memperbarui target iklim nasional mereka sebagaimana diwajibkan dalam Perjanjian Paris. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terhambatnya koordinasi global dalam menghadapi krisis iklim, terutama karena tenggat waktu internasional semakin dekat. Dokumen pembaruan tersebut seharusnya diserahkan paling lambat pada awal 2025, agar bisa dianalisis sebelum digelarnya Konferensi Iklim COP30. Salah satu komponen utama dalam Perjanjian Paris adalah penyusunan Nationally Determined Contributions (NDC), yakni strategi masing-masing negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Tujuan dari NDC adalah membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 2°C, dan sebisa mungkin mendekati 1,5°C dibandingkan kondisi sebelum revolusi industri.

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 15:21 WIB

Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Markas Baru Ronaldinho di Italia: Stadio Bruno Benelli Siap Jadi Panggung Comeback R10

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Ronaldinho Comeback di Usia 46 Tahun, Bidik Gol ke-300 Bersama Ravenna FC

Senin, 20 Juli 2026 - 19:35 WIB

Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:25 WIB

Piala Dunia 2026 Jelang Perancis vs Inggris Perebutan Tempat ke 3

Berita Terbaru

Personel penyidik (kiri) bersama dua orang lainnya (tengah dan kanan) melakukan pemeriksaan terhadap barang temuan berupa jeriken dalam rangka proses penyelidikan.

Peristiwa & Bencana

Tiga Barang Temuan di Selat Sunda Dipastikan Bukan Milik KM Arupadhatu 1

Minggu, 13 Sep 2026 - 18:11 WIB

Sejumlah tokoh menghadiri pembukaan pameran seni “Bersimpuh di Kaki Para Guru” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Para pengunjung tampak mengamati karya-karya yang dipamerkan.

Nusantara

Kapolri Hadiri Pameran Nasirun, Ada Pesan untuk Para Guru

Minggu, 13 Sep 2026 - 18:07 WIB