Kaki Tak Ia Miliki, Tapi Mimpinya Melangkah Jauh: Rinto Moti dan Lukisan yang Menyentuh Jiwa dari Boradho

Avatar photo

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di sebuah sudut sederhana Kampung Boradho, Desa Boradho, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, seorang pemuda menantang keterbatasan dengan cara yang sunyi namun luar biasa. Namanya Rinto Moti. Ia lahir tanpa kedua kaki, tetapi dari jepitan tangannya lahir lukisan-lukisan yang mampu membuat orang terdiam haru. (Foto: Suru Oktaviano)

Di sebuah sudut sederhana Kampung Boradho, Desa Boradho, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, seorang pemuda menantang keterbatasan dengan cara yang sunyi namun luar biasa. Namanya Rinto Moti. Ia lahir tanpa kedua kaki, tetapi dari jepitan tangannya lahir lukisan-lukisan yang mampu membuat orang terdiam haru. (Foto: Suru Oktaviano)

Bajawa.Metrosiar- Di sebuah sudut sederhana Kampung Boradho, Desa Boradho, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, seorang pemuda menantang keterbatasan dengan cara yang sunyi namun luar biasa.

Namanya Rinto Moti. Ia lahir tanpa kedua kaki, tetapi dari jepitan tangannya lahir lukisan-lukisan yang mampu membuat orang terdiam haru.

Di rumah kecilnya, Rinto menjalani hari-hari bersama pensil, kertas, dan mimpi yang tak pernah padam.

Meja kecil di depannya menjadi ruang perjuangan. Di situlah garis-garis sederhana berubah menjadi wajah manusia yang hidup, penuh emosi, dan seolah bisa berbicara.

Tidak mudah bagi Rinto untuk menghasilkan satu karya. Ia harus menunduk berjam-jam, menahan pegal di punggung dan tangannya demi menyelesaikan satu gambar.

Namun, rasa sakit tidak pernah lebih besar dari keinginannya untuk terus berkarya.

“Kalau berhenti, ceritanya tidak akan selesai,” katanya pelan.

Kalimat sederhana itu menjadi cermin keteguhan hidupnya.

Rinto adalah anak ke-6 dari tujuh bersaudara, putra pasangan Benediktus Pawo yang hidup dalam kesederhanaan. Sejak kecil, ia tumbuh dengan banyak keterbatasan.

Namun keluarga tidak pernah membiarkannya merasa sendiri. Ayah, mama, dan saudara-saudaranya menjadi kekuatan yang menjaga semangatnya tetap hidup.

Tak ada sekolah seni yang mengajarinya melukis. Tak ada guru gambar profesional. Semua ia pelajari sendiri. Dari mencoba, gagal, lalu bangkit lagi. Dari pensil murah dan kertas seadanya, Rinto perlahan menemukan bakat yang luar biasa.

Baca juga:  Reindustrialisasi sebagai Spirit Pancasila “Perspektif Insinyur dalam Menjawab Tantangan Ekonomi dan Kemandirian Bangsa"

Setiap goresannya terasa tenang dan penuh rasa. Ia mampu menangkap detail wajah dengan ketelitian yang mengagumkan.

Sorot mata, senyum tipis, bahkan kesedihan seseorang dapat hidup kembali di atas kertas.

Karena itu, orang-orang yang melihat hasil lukisannya sering terpukau. Bukan sekadar mirip, tetapi terasa memiliki jiwa.

Kini nama Rinto mulai dikenal lebih luas. Lewat media sosial, pesanan potret wajah datang dari berbagai daerah.

Banyak orang ingin diabadikan lewat sentuhan tangannya. Mereka datang bukan karena kasihan, melainkan karena kagum pada kualitas karya yang lahir dari perjuangan luar biasa.

Namun di balik bakat besar itu, Rinto masih bergulat dengan keterbatasan alat. Kertas gambar, pensil, cat, dan kanvas bukan barang mudah baginya. Di desa, alat melukis sulit didapat dan harganya mahal. Kadang ia harus menabung lama hanya untuk membeli beberapa lembar kertas.

Meski begitu, semangatnya tidak pernah habis. Di sela waktunya melukis, Rinto juga membantu mamanya menggulung benang untuk ditenun.

Jepitan tangan yang biasa menghidupkan wajah manusia di atas kertas, kini dengan sabar membantu pekerjaan keluarga.

Baca juga:  Menuju Masa Tua: Renungan Penuh Makna untuk Menikmati Hidup dengan Bijak

Baginya, membantu orang tua adalah bagian dari rasa syukur atas hidup yang masih Tuhan percayakan.

Rumah sederhana keluarga Moti kini bukan hanya tempat tinggal. Rumah itu telah menjadi ruang lahirnya harapan.

Tempat di mana keterbatasan tidak dipandang sebagai kelemahan, tetapi sebagai kekuatan untuk bertahan dan terus melangkah.

Kisah Rinto Moti adalah pengingat bahwa manusia tidak ditentukan oleh apa yang tidak dimilikinya, tetapi oleh keberanian untuk menggunakan apa yang masih ia punya.

Ia memang tidak memiliki kaki.
Tetapi ia memiliki mimpi yang berjalan jauh.

Hasil Goresan Rinto.

Ia memiliki hati yang tidak menyerah.
Dan lewat jepitan tangannya, Rinto membuktikan bahwa karya yang lahir dari perjuangan akan selalu menemukan jalan menuju hati manusia.

Dari Kampung Boradho, ia mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh di mana saja — bahkan di tengah keterbatasan yang paling sunyi sekalipun.

Semoga kisah ini sampai kepada banyak hati baik. Semoga ada tangan-tangan tulus yang tergerak membantu Rinto dengan alat lukis, kertas, pensil, cat, atau kanvas.

Karena selama semangat itu masih menyala, Rinto akan terus berkarya — menghidupkan wajah, menyalakan harapan, dan menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada hidup.*

Oleh: Oktavianus Suru

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?
Banten Never Changes !
Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”
Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja
Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina
Diduga Langgar HAM, Tim Seleksi Pegawai Non-ASN Dinkes Kota Tangerang Disorot
Presiden RI Prabowo Subianto Tetapkan Bahasa Portugis Diajarkan Di Sekolah Sekolah Indonesia Menlu Ungkap Alasannya.
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:26 WIB

Kaki Tak Ia Miliki, Tapi Mimpinya Melangkah Jauh: Rinto Moti dan Lukisan yang Menyentuh Jiwa dari Boradho

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:33 WIB

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:21 WIB

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:24 WIB

Banten Never Changes !

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:07 WIB

Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”

Berita Terbaru

Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea memberikan keterangan terkait imbauan kepada masyarakat untuk menghentikan aksi balap liar demi menjaga keselamatan dan ketertiban berlalu lintas di wilayah Banten.

Hukum & Kriminal

Polda Banten Buka Suara, Balap Liar Bisa Hancurkan Masa Depan

Senin, 1 Jun 2026 - 00:39 WIB