Bajawa.Metrosiar- Gempa Flores mungkin telah berhenti mengguncang tanah Ngada. Namun bagi sebagian warga terdampak, guncangan itu belum sepenuhnya berhenti di dalam ingatan.
Trauma, kecemasan hingga persoalan kesehatan masih menjadi bagian dari hari-hari masyarakat pascabencana.
Di tengah situasi itulah Palang Merah Indonesia (PMI) kembali hadir.
Melalui misi kemanusiaan My Medical My Adventure, Melayani Tanpa Batas, PMI menggelar pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis bagi masyarakat terdampak gempa di Desa Turamuri, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada, Jumat (4/9/2026).
Sejak pelayanan dibuka, warga tampak antusias mendatangi lokasi kegiatan. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia datang untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan dari tim medis serta relawan PMI.
Meski harus menunggu dan mengantre, warga tetap sabar.
Bagi masyarakat yang masih berjuang bangkit dari dampak gempa, kehadiran tenaga kesehatan yang datang langsung ke tengah desa menjadi perhatian yang sangat berarti.
Bukan hanya obat yang mereka dapatkan.
Kehadiran PMI juga membawa ketenangan, perhatian dan keyakinan bahwa masyarakat terdampak gempa tidak sedang menghadapi masa sulit ini sendirian.
Tokoh masyarakat Desa Turamuri, Yakobus Siba, mengaku bersyukur atas perhatian PMI yang kembali turun langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Menurutnya, sebagian warga hingga saat ini masih merasakan trauma akibat gempa yang mengguncang Flores. Namun, kehadiran PMI melalui pelayanan kesehatan dan berbagai aksi kemanusiaan memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk bangkit.
“Kami dari masyarakat Desa Turamuri menyampaikan terima kasih banyak kepada Tim Kesehatan dan Relawan Palang Merah Indonesia yang sudah dua kali terjun langsung untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Terima kasih banyak sudah memperhatikan kami masyarakat kecil,” ungkap Yakobus.
Ucapan sederhana namun penuh makna juga disampaikan salah seorang warga, Florentina Meo.
“Terima kasih banyak PMI,” ucapnya singkat.

Pascagempa, Kesehatan Warga Tak Boleh Terabaikan
Camat Bajawa Utara, Federikus Doi, turut memberikan apresiasi kepada PMI, baik dari tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten yang terus memberikan perhatian kepada masyarakat terdampak gempa.
Menurutnya, pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan penting yang harus mendapat perhatian serius dalam masa pemulihan pascabencana.
“Terima kasih banyak kepada pengurus PMI, baik dari tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten,” ujar Federikus.
Ia menjelaskan, gempa yang terjadi pada pertengahan Agustus lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga persoalan kesehatan dan trauma bagi masyarakat.
Dalam situasi panik dan darurat, banyak warga harus meninggalkan rumah dan tinggal sementara di tenda-tenda, baik yang dibangun secara swadaya maupun melalui bantuan berbagai pihak.

Kondisi tersebut, kata Federikus, berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan apabila tidak mendapat perhatian secara serius.
“Pasca tanggal 15 Agustus, masyarakat selain mengalami trauma, ada juga berbagai penyakit yang menimpa mereka. Dalam situasi panik dan darurat, mereka harus tinggal di tenda-tenda. Kondisi ini tentu berdampak pada kesehatan para korban. Karena itu, kami menyampaikan terima kasih atas dukungan dari jajaran PMI,” katanya.
Federikus menegaskan, kebutuhan masyarakat terdampak bencana terus berubah seiring berjalannya waktu.
Pada masa awal tanggap darurat, kebutuhan seperti tenda dan logistik menjadi prioritas. Namun memasuki masa pemulihan, masyarakat membutuhkan perhatian yang lebih luas.
Tidak hanya bantuan fisik, tetapi juga pelayanan kesehatan, pemulihan trauma dan dukungan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Kalau kita lihat dari waktu ke waktu, kebutuhan masyarakat itu berubah. Mungkin pada awalnya mereka membutuhkan tenda, tetapi saat ini tenda mungkin tidak lagi menjadi prioritas utama. Masyarakat membutuhkan sentuhan agar mereka bisa kembali beraktivitas secara normal dan keluar dari situasi trauma yang mereka alami,” ujarnya.
My Medical My Adventure, Membuka Akses Kesehatan hingga Wilayah Terdampak
Kepala Markas Pusat PMI, Arifin M. Hadi, mengatakan program My Medical My Adventure merupakan bentuk mobilisasi pelayanan kesehatan PMI untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan akses layanan medis, khususnya di wilayah terdampak bencana.
Menurutnya, misi tersebut menjadi bagian dari upaya PMI memastikan pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses.
“Kegiatan My Medical My Adventure ini merupakan mobilisasi kesehatan yang ada. Memang kita fokus untuk menjangkau wilayah-wilayah yang terisolir. Jadi ini benar-benar membuka jalur kesehatan bagi masyarakat,” kata Arifin.

Ia menegaskan, pelayanan kesehatan di wilayah terdampak bencana dan lokasi pengungsian harus terus mendapat perhatian.
Melalui pemeriksaan kesehatan secara langsung, berbagai persoalan medis dapat dideteksi lebih awal sehingga masyarakat bisa segera mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Ke depan, PMI juga akan terus mendorong penyaluran bantuan kemanusiaan sesuai kebutuhan masyarakat, mulai dari tenda, selimut, dukungan terhadap fasilitas pendidikan hingga pelayanan kesehatan.
Arifin menilai Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Flores, merupakan wilayah yang memiliki kerawanan terhadap berbagai jenis bencana.
Karena itu, selain penanganan ketika bencana terjadi, kesiapsiagaan masyarakat juga harus terus diperkuat sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
“Daerah ini rawan bencana. Mau tidak mau kita harus bersahabat dan berdamai dengan bencana. Kita berupaya melakukan hal terbaik untuk meminimalkan risiko, sehingga ketika bencana terjadi masyarakat sudah siap menghadapi,” ujarnya.
PMI Ngada Kerahkan Tim Medis dan Relawan
Sementara itu, Ketua PMI Cabang Ngada, Romilus Juji, mengatakan pelayanan kesehatan di Desa Turamuri merupakan bagian dari aksi kemanusiaan PMI untuk membantu masyarakat terdampak gempa Flores di Kabupaten Ngada.
Aksi tersebut tidak hanya berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, tetapi juga mencakup penyaluran bantuan logistik sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Khusus pelayanan kesehatan di Turamuri, PMI menyasar seluruh kelompok masyarakat, mulai dari lansia dan kelompok rentan, orang dewasa, remaja, anak-anak, balita hingga ibu hamil.
“Hari ini PMI menggerakkan personel yang cukup komplit. Kegiatan My Medical My Adventure ini dilaunching oleh Bupati Ngada dan akan difokuskan pada lokasi-lokasi terdampak bencana,” kata Romilus.

Menurutnya, PMI akan terus menyesuaikan bantuan dan pelayanan dengan kebutuhan terkini masyarakat terdampak.
Dalam menentukan sasaran penerima bantuan, PMI Ngada juga berkolaborasi dengan Posko Kabupaten serta relawan PMI yang telah mendapatkan pembekalan dari tim pusat terkait teknik pengumpulan data, sampling dan asesmen di lapangan.
“Secara data tentunya kita berkolaborasi dengan Posko Kabupaten dan para relawan PMI yang sudah dibekali dengan baik oleh Tim PIC Pusat terkait teknik sampling, pengambilan data dan asesmen di lapangan. Sehingga yang menerima bantuan ini adalah orang-orang yang benar-benar menjadi sasaran,” jelasnya.
Bagi warga Turamuri, kehadiran PMI menjadi lebih dari sekadar kegiatan pemeriksaan kesehatan.

Di tengah rumah-rumah yang rusak, kehidupan yang berubah dan trauma yang belum sepenuhnya hilang, kedatangan tim medis dan relawan membawa pesan kuat bahwa masyarakat terdampak gempa Flores tidak ditinggalkan sendirian.
PMI datang membawa obat untuk merawat tubuh yang sakit.
Namun lebih dari itu, PMI juga datang membawa harapan untuk menguatkan hati masyarakat yang masih berjuang bangkit.
Dari Turamuri, pesan kemanusiaan itu kembali terdengar.
Gempa boleh mengguncang tanah, tetapi kepedulian tak boleh berhenti menguatkan sesama.*










