Antara MBG dan Keracunan, Ini Tanggapan Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji

Jumat, 28 November 2025 - 10:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Bajawa, Metrosiar – MBG adalah program penyediaan makanan gratis untuk siswa dan penerima manfaat lain. Namun sejumlah kejadian menunjukkan bahwa makanan MBG beberapa kali menyebabkan keracunan.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), sampai 5 Oktober 2025 tercatat ~11.660 kasus dari 119 kejadian di 25 provinsi. Beberapa sekolah sampai menghentikan pasokan MBG sementara usai siswa diduga keracunan setelah sekitar 20 siswa menunjukkan gejala setelah makan MBG.

Demikian hal ini disampaikan Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji kepada Media ini melalui pesan whatsapp, Kamis (27/11/25)

Mengapa Bisa Terjadi — Penyebab Utama

Menurut pemeriksaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan pihak terkait, beberapa penyebab keracunan MBG antara lain:

  1. Kontaminasi bahan mentah — makanan bisa tercemar sejak dari bahan dasarnya sebelum dimasak.
  2. Pertumbuhan bakteri — setelah dimasak, jika makanan disimpan atau distribusinya terlambat, suhu dan proses penyajian bisa memicu bakteri berkembang, membuat makanan tidak aman.
  3. Kegagalan penerapan standar keamanan & hygienitas — misalnya penggunaan dapur yang tidak higienis, alat makan yang tidak steril, pengolahan makanan yang tidak sesuai SOP.
Baca juga:  KontraS Laporkan Tiga Orang Hilang Pascademo, Yusril Koordinasi dengan Polri

Beberapa contoh nyata: ada laporan makanan “basi” atau “tidak layak konsumsi”, ayam goreng tepung yang kurang matang, atau makanan sudah tidak segar saat disajikan — faktor-faktor semacam ini terkait langsung dengan kejadian keracunan.

Skala dan Dampak — Seberapa Luas Masalah Ini

Data nasional menunjukkan hampir 12 ribu kasus keracunan MBG dilaporkan sampai awal Oktober 2025. Kasus tidak terbatas hanya satu atau dua daerah — tersebar di banyak provinsi dan kabupaten/kota.

Sudah banyak sekolah dan penyedia MBG (unit/pusat dapur) yang diberhentikan sementara operasi atau ditutup untuk investigasi dan evaluasi.

Karena itu, insiden ini bukan terpisah — dianggap serius dan mempengaruhi citra serta implementasi MBG secara luas.

Respon DPRD dan Tindak Lanjut

DPRD mendukung Pemerintah Kabupaten Ngada untuk menutup sementara  unit penyedia makan (SPPG) yang bermasalah untuk dilakukan evaluasi. Aparat penegak hukum juga dilibatkan untuk investigasi — untuk memastikan apakah kasus akibat kelalaian, kelalaian berat, atau bahkan unsur kesengajaan.

Baca juga:  Wakil Ketua DPRD Ngada Apresiasi Suksesnya Pacuan Kuda Bupati Cup 2025

Evaluasi terhadap prosedur pengolahan, sanitasi, distribusi, serta standar keamanan pangan telah ditekankan sebagai langkah penting agar kejadian serupa tak terulang.

Pada dasarnya, MBG dibuat untuk membantu gizi dan pendidikan anak — tetapi keracunan massal membalikkan tujuan itu. Kasus ini menunjukkan bahwa konsep saja tidak cukup: pelaksanaan, pengawasan, sanitasi, dan manajemen distribusi harus benar-benar siap.

Jika tidak ditangani dengan serius, tidak hanya mengganggu kesehatan anak, tapi juga bisa merusak kepercayaan publik terhadap program.

DPRD Kabupaten Ngada sangat berempati yang sedalamnya bagi anak siswa/siswi yang mengalami keracunan MBG, dan mendoakan ketegaran bagi orang tua, wali yang anaknya  mengalami keracunan MBG. Semoga segera pulih dari perasaan traumatis.*

Editor : Frans Dhena

Sumber Berita: Metrosiar

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!
Minggu Kasih Tigaraksa Bikin Heboh, Kehadiran Polisi Jadi Sorotan
Kartini Belum Usai! Srikandi Banten Siapkan Perayaan Spektakuler Penuh Kejutan
TNI Perketat Keamanan di Wilayah PT Freeport Indonesia Usai Gangguan KKB
Muscab PKB Tiga Daerah: Nama Lama Mendominasi, Siapa yang Akan Terpilih?
Sampah Jadi Uang! Warga RW 12 Kutabumi Siap Jalankan Program Bank Sampah
Rakernis Bidkum 2026 Dibuka, Kapolda Banten Tekankan Hukum Harus Adaptif dan Berkeadilan
Aset Amburadul & Pajak Menunggak, Pemda Ngada Bergerak!
Berita ini 265 kali dibaca
MBG adalah program penyediaan makanan gratis untuk siswa dan penerima manfaat lain. Namun sejumlah kejadian menunjukkan bahwa makanan MBG beberapa kali menyebabkan keracunan. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), sampai 5 Oktober 2025 tercatat ~11.660 kasus dari 119 kejadian di 25 provinsi. Beberapa sekolah sampai menghentikan pasokan MBG sementara usai siswa diduga keracunan setelah sekitar 20 siswa menunjukkan gejala setelah makan MBG. Demikian hal ini disampaikan Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji kepada Media ini melalui pesan whatsapp, Kamis (27/11/25)

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 23:31 WIB

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!

Minggu, 26 April 2026 - 21:09 WIB

Minggu Kasih Tigaraksa Bikin Heboh, Kehadiran Polisi Jadi Sorotan

Minggu, 26 April 2026 - 18:56 WIB

Kartini Belum Usai! Srikandi Banten Siapkan Perayaan Spektakuler Penuh Kejutan

Minggu, 26 April 2026 - 14:12 WIB

TNI Perketat Keamanan di Wilayah PT Freeport Indonesia Usai Gangguan KKB

Minggu, 26 April 2026 - 11:40 WIB

Muscab PKB Tiga Daerah: Nama Lama Mendominasi, Siapa yang Akan Terpilih?

Berita Terbaru

Kondisi rangkaian KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line mengalami kerusakan parah akibat tabrakan di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan sejumlah korban.

Peristiwa & Bencana

Tragis! Korban Tewas Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi Timur Bertambah

Selasa, 28 Apr 2026 - 07:39 WIB

Puluhan buah durian hasil panen tersusun rapi di teras rumah warga sebelum dipasarkan, menunjukkan melimpahnya hasil panen durian

Advertorial

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!

Senin, 27 Apr 2026 - 23:31 WIB

Foto Ilustrasi/Gemini

Hukum & Kriminal

Daycare Little Aresha, Ruang Penitipan yang Menjelma Jadi Labirin Trauma

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:28 WIB