Ubah Beban Jadi Aset Melalui Strategi Monetisasi Emisi Karbon di Seminar Nasional ATKARBONIST

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seminar Nasional ATKARBONIST Bedah Transformasi Emisi Karbon Menjadi Aset Ekonomi Strategis di Perbanas Institute, Jumat (13/2/2026). (Foto: Konrad)

Seminar Nasional ATKARBONIST Bedah Transformasi Emisi Karbon Menjadi Aset Ekonomi Strategis di Perbanas Institute, Jumat (13/2/2026). (Foto: Konrad)

Jakarta, Metrosiar – Lanskap bisnis saat ini tengah mengalami revolusi cara pandang yang sangat signifikan. Jika sebelumnya emisi karbon hanya dianggap sebagai beban ekologis dan urusan kepatuhan regulasi, kini ia telah beralih fungsi menjadi aset ekonomi strategis yang mampu memperkuat nilai perusahaan secara nyata.

Peluang transformatif tersebut dikupas tuntas dalam Seminar Nasional bertema “Monetisasi Emisi Karbon Strategi Baru Meningkatkan Nilai Perusahaan” yang berlangsung di Auditorium Perbanas Institute, Jakarta Selatan, pada Jumat (13/2/2026).

Rektor Perbanas Institute, Prof Hermanto Siregar. (Konrad/Metrosiar)

Gelaran yang diprakarsai oleh ATKARBONIST ini menjadi wadah kolaborasi produktif bagi kalangan akademisi, pelaku industri, serta pakar keberlanjutan.

Kesuksesan forum ini juga didukung penuh oleh sinergi strategis antara Perbanas Institute, Sucofindo, Daya Mitra Bersama Global, serta ecobiz.asia.

Transformasi Karbon dari Isu Hijau Menjadi Variabel Keuangan

Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, Chairman ATKARBONIST, yang hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker).
Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, Chairman ATKARBONIST, yang hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker). (Konrad/Metrosiar)

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor Perbanas Institute, Prof Hermanto Siregar, menekankan pentingnya sektor pendidikan dan bisnis untuk bergerak selaras dalam merespons dinamika pasar karbon.

Hal ini diperkuat oleh Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, Chairman ATKARBONIST, yang hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker).

Musdhalifah menggarisbawahi saat ini pengurangan emisi bukan lagi sekadar tanggung jawab moral terhadap lingkungan, melainkan sebuah peluang penciptaan nilai (value creation).

Dikman Purnama, Kepala PMU CSSE dari PT SUCOFINDO (PERSERO) menyoroti peran penting audit dan sertifikasi untuk memastikan nilai ekonomi karbon yang kredibel dan terukur.
Dikman Purnama, Kepala PMU CSSE dari PT SUCOFINDO (PERSERO) menyoroti peran penting audit dan sertifikasi untuk memastikan nilai ekonomi karbon yang kredibel dan terukur. (Konrad/Metrosiar)

“Karbon telah berevolusi dari sekadar angka dalam laporan keberlanjutan menjadi elemen strategis dalam perencanaan bisnis. Ini adalah instrumen yang memengaruhi akses pembiayaan, reputasi merek, hingga daya saing di level global,” ungkapnya.

Baca juga:  RUPST Bank BJB 2024: Dedi Mulyadi Pilih Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya untuk Jajaran Komisaris

Sinergi Lintas Sektor untuk Masa Depan Bisnis

Jerry Marmen, Ph.D. (Komisaris Utama KB Bank & Founder Atkarbonist) mengulas karbon sebagai variabel dalam manajemen risiko usaha dan daya tarik investasi di sektor perbankan.
Jerry Marmen, Ph.D. (Komisaris Utama KB Bank & Founder Atkarbonist) mengulas karbon sebagai variabel dalam manajemen risiko usaha dan daya tarik investasi di sektor perbankan. (Konrad/Metrosiar)

Seminar ini menghadirkan empat narasumber berkompeten yang membedah monetisasi karbon dari berbagai perspektif yang saling melengkapi:

Jerry Marmen, Ph.D. (Komisaris Utama KB Bank & Founder Atkarbonist) mengulas karbon sebagai variabel dalam manajemen risiko usaha dan daya tarik investasi di sektor perbankan.

Dikman Purnama, Kepala PMU CSSE dari PT SUCOFINDO (PERSERO) menyoroti peran penting audit dan sertifikasi untuk memastikan nilai ekonomi karbon yang kredibel dan terukur.

Dr. (Cand) Ir. Diah Y. Suradiredja, (Sekretaris Jenderal ATKARBONIST) memaparkan regulasi serta potensi pasar karbon sebagai aset ekonomi baru bagi institusi keuangan.
Dr. (Cand) Ir. Diah Y. Suradiredja, (Sekretaris Jenderal ATKARBONIST) memaparkan regulasi serta potensi pasar karbon sebagai aset ekonomi baru bagi institusi keuangan. (Konrad/Metrosiar)

Dr. B. Andreas Mada W.K. (Dosen Senior Perbanas Institute) membedah dari sisi akademis mengenai bagaimana dekarbonisasi memengaruhi nilai fundamental perusahaan.

Baca juga:  KLH Teken Perjanjian Internasional Perluas Jangkauan Pasar Karbon

Dr. (Cand) Ir. Diah Y. Suradiredja, (Sekretaris Jenderal ATKARBONIST) memaparkan regulasi serta potensi pasar karbon sebagai aset ekonomi baru bagi institusi keuangan.

Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh Dr. Janita Sembiring Meliala, Staf Ahli Banggar DPR RI, yang bertindak sebagai moderator.

Mengubah Beban Kepatuhan Menjadi Profitabilitas

Dr. B. Andreas Mada W.K. (Dosen Senior Perbanas Institute) membedah dari sisi akademis mengenai bagaimana dekarbonisasi memengaruhi nilai fundamental perusahaan.
Dr. B. Andreas Mada W.K. (Dosen Senior Perbanas Institute) membedah dari sisi akademis mengenai bagaimana dekarbonisasi memengaruhi nilai fundamental perusahaan. (Konrad/Metrosiar)

Pesan utama yang dibawa dalam forum ini adalah urgensi bagi setiap perusahaan untuk segera beradaptasi.

Pasar karbon yang terus berkembang menawarkan jalan bagi korporasi untuk mengubah beban kepatuhan (compliance) menjadi sumber profit baru.

Dengan monetisasi yang tepat, perusahaan tidak hanya berkontribusi pada kesehatan bumi, tetapi juga membangun masa depan bisnis yang lebih tangguh dan kompetitif di kancah internasional.

Seminar ini menegaskan bahwa keberlanjutan dan profitabilitas kini menjadi dua sisi dari mata uang yang sama dalam ekonomi hijau.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: Atkarbonist.org

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi
Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap
Ngada Mulai Dilirik! Dewi Cokorda Sentil Peluang Investasi Pariwisata
Optimalkan Layanan Jasa Perbankan, Pemkab Ngada dan Bank NTT Teken PKS
Harga Emas semakin Menguat dalam 1 bulan terakhir
Bukan Lagi Beban, ATKARBONIST: Emisi Karbon Kini Jadi Aset Strategis Perusahaan!
Lupakan Greenwashing! Atkarbonist-Sucofindo Tegaskan Data Kredibel Adalah ‘Mata Uang’ Baru di Pasar Karbon
Kesimpulan Strategis Seminar Nasional ini memberikan satu pesan kuat bagi dunia usaha: Era di mana emisi karbon dianggap sebagai beban biaya sudah berakhir. Secara garis besar, forum ini menyimpulkan tiga poin utama: Perubahan Paradigma: Pengurangan emisi kini menjadi strategi penciptaan nilai (value creation) yang langsung berdampak pada valuasi perusahaan. Aset Ekonomi Baru: Melalui monetisasi yang tepat, karbon bertransformasi dari sekadar angka laporan keberlanjutan menjadi instrumen finansial yang meningkatkan daya saing global. Sinergi Adaptif: Keberhasilan di masa depan bergantung pada kecepatan perusahaan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan dengan profitabilitas, didukung oleh standar audit dan regulasi yang kredibel. Intinya, dekarbonisasi bukan lagi sekadar upaya menyelamatkan bumi, melainkan langkah cerdas untuk memastikan bisnis tetap tangguh, bankabel, dan menguntungkan di tengah ekonomi hijau yang terus berkembang.

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:46 WIB

Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Rabu, 15 April 2026 - 06:50 WIB

Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi

Rabu, 15 April 2026 - 00:41 WIB

Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap

Selasa, 14 April 2026 - 21:14 WIB

Ngada Mulai Dilirik! Dewi Cokorda Sentil Peluang Investasi Pariwisata

Kamis, 9 April 2026 - 18:50 WIB

Optimalkan Layanan Jasa Perbankan, Pemkab Ngada dan Bank NTT Teken PKS

Berita Terbaru

Foto Ilustrasi/Gemini

Hukum & Kriminal

Daycare Little Aresha, Ruang Penitipan yang Menjelma Jadi Labirin Trauma

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:28 WIB