Metrosiar – Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengungkapkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih kecil dibandingkan pembangkit konvensional berbahan bakar batu bara atau gas.
Menurut Fahmy, dengan dukungan teknologi modern, potensi terjadinya aktivitas seismik dari panas bumi sangat minim dan bersifat lokal, sehingga tidak terkait dengan gempa bumi.
“Getaran dari panas bumi sangat rendah. Di negara lain pun, tidak ditemukan kerusakan seperti yang dikhawatirkan,” ujarnya, Kamis (7/8/25).
Pernyataan ini menanggapi rencana pengembangan PLTP di Cipanas, Kabupaten Cianjur, yang telah ditetapkan sebagai Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi Panas Bumi (WPSPE) melalui Keputusan Menteri Investasi/Kepala BKPM atas nama Menteri ESDM No. 1/1/PSPB/PMDN/2022.
Area eksplorasi hanya mencakup 0,02 persen dari total wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan berada di zona pemanfaatan yang selama ini digunakan sebagai lahan perkebunan sayur (eks Perhutani).
Fahmy menjelaskan, energi panas bumi memanfaatkan sumber panas alami dari dalam bumi melalui sistem siklus tertutup, sehingga emisi karbon yang dihasilkan sangat rendah. PLTP juga tidak menggunakan air tanah dangkal, serta tidak mengganggu vegetasi maupun aktivitas pertanian warga sekitar.

“Panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi juga langkah nyata menjaga bumi tetap cerdas dan berkelanjutan,” ungkapnya seperti dikutip Antara.
Indonesia diketahui memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, dengan kapasitas terpasang saat ini mencapai 2,8 gigawatt (GW), tertinggi kedua setelah Amerika Serikat yang mencapai 3,9 GW.
Pemerintah menargetkan kapasitas panas bumi nasional mencapai 7,2 GW pada 2030, sejalan dengan Astacita keenam untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengembangan sektor strategis.
“Pemanfaatan panas bumi secara optimal dapat menjadi pilar ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan,” tutup Fahmy Radhi.*
Editor : Nedu Wodo Mezhe
Sumber Berita: Siaran Pers









