Lupakan Greenwashing! Atkarbonist-Sucofindo Tegaskan Data Kredibel Adalah ‘Mata Uang’ Baru di Pasar Karbon

Avatar photo

Senin, 16 Februari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dikman Purnama selaku Kepala PMU CSSE menggarisbawahi musuh utama dalam bisnis karbon adalah greenwashing alias klaim pelestarian lingkungan yang palsu atau tidak berdasar. (Dok. Atkarbonist)

Dikman Purnama selaku Kepala PMU CSSE menggarisbawahi musuh utama dalam bisnis karbon adalah greenwashing alias klaim pelestarian lingkungan yang palsu atau tidak berdasar. (Dok. Atkarbonist)

Jakarta, Metrosiar – Isu perubahan iklim kini bergerak melampaui sekadar ajakan menjaga alam.

Di tengah kekhawatiran atas pemanasan global, muncul realitas baru: krisis iklim juga membuka ruang ekonomi yang sangat besar.

Instrumen seperti perdagangan karbon menjadi wajah baru ekonomi hijau yang kian diperhitungkan.

Indonesia berada pada posisi strategis dalam peta ini. Dengan kekayaan hutan tropis, mangrove, dan lahan gambut, potensi ekonomi dari sektor karbon diperkirakan bisa menembus Rp8.000 triliun.

Angka tersebut bukan sekadar proyeksi, melainkan cerminan peluang yang dapat dimonetisasi jika didukung regulasi dan tata kelola yang tepat.

Gambaran tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Monetisasi Emisi Karbon yang digelar di Auditorium Perbanas Institute, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).

Forum ini menghadirkan akademisi, pakar, serta pelaku industri untuk mengurai bagaimana komitmen pengurangan emisi dapat diterjemahkan menjadi nilai ekonomi nyata.

Para pembicara menekankan bahwa perdagangan karbon bukan hanya soal menjual sertifikat emisi, melainkan membangun sistem yang kredibel, transparan, dan berkelanjutan.

Tanpa fondasi tata kelola yang kuat, peluang besar itu bisa terlewat atau bahkan menimbulkan risiko baru.

Pada akhirnya, perubahan iklim menghadirkan dua sisi sekaligus: ancaman dan kesempatan.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan bahwa peluang ekonomi hijau ini mampu berjalan seiring dengan misi utama melindungi bumi dan menjaga keseimbangan lingkungan untuk generasi mendatang.

Berikut pandangan pakar yang dirangkum Metrosiar.com untuk Anda.

Mengubah Pola Pikir Dari Polusi Jadi Investasi

Rektor Perbanas Institute Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., saat berbicara dalam Seminar Nasional Monetisasi Emisi Karbon di Auditorium Perbanas Institute, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Atkarbonist)

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., dalam paparannya membuka wawasan bahwa upaya penurunan emisi karbon kini bisa dilakukan dengan pendekatan pasar.

Baca juga:  Apa Itu Perdagangan Karbon? Peluang Ekonomi Besar Senilai Rp3.000 Triliun!

“Salah satu mekanisme yang paling efektif adalah perdagangan karbon,” ujar Profesor Hermanto yang juga Rektor Perbanas Institute.

Namun, ia mengakui adanya tantangan di lapangan.

“Perdagangan karbon terbukti efektif mengendalikan emisi, namun implementasinya di negara berkembang seperti Indonesia masih terbilang lamban,” ujarnya.

Lanjut Prof. Hermanto, kelambanan ini berakar pada minimnya literasi. Masih banyak pihak yang belum menyadari carbon trading bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan memiliki potensi benefit ekonomi yang nyata.

Di sinilah industri perbankan dan keuangan memegang peranan kunci sebagai katalisator untuk mewujudkan nilai tambah tersebut.

2026 Era Kematangan Pasar Karbon

Chairman Atkarbonist, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., Pembicara Utama dalam Seminar Nasional Monetisasi Emisi Karbon, di Auditorium Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Jumat 13 Februari 2026. (Atkarbonist)

Menyambung optimisme tersebut, Chairman Atkarbonist, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., mengungkapkan tahun 2026 pasar karbon telah naik kelas.

“Pasar karbon telah berevolusi dari sekadar eksperimen kebijakan menjadi struktur pasar yang matang. Emisi karbon kini bukan lagi beban lingkungan semata, tetapi instrumen ekonomi strategis,” terang Musdhalifah.

Ia memaparkan data yang menggembirakan bursa karbon nasional mencatat volume perdagangan melampaui 1,9 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi di atas Rp91 miliar.

Momentum ini semakin kuat dengan terbitnya Perpres Nomor 110 Tahun 2025 yang membuka konektivitas pasar karbon Indonesia ke kancah internasional.

“Indonesia memiliki potensi ekonomi karbon sekitar Rp8.000 triliun, terutama dari sektor kehutanan, gambut, dan mangrove. Bahkan, ‘Karbon Biru’ dari ekosistem pesisir kita menjadi primadona baru karena kemampuan penyerapannya yang jauh lebih besar dari hutan daratan,” tambahnya.

Baca juga:  Sambut Hari Pahlawan, Squad Nusantara Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Sertifikasi Halal

Kepercayaan Adalah Mata Uang Utama

Dikman Purnama, Kepala PMU CSSE dari PT SUCOFINDO (PERSERO) menyoroti peran penting audit dan sertifikasi untuk memastikan nilai ekonomi karbon yang kredibel dan terukur.
Dikman Purnama, Kepala PMU CSSE dari PT SUCOFINDO (PERSERO) menyoroti peran penting audit dan sertifikasi untuk memastikan nilai ekonomi karbon yang kredibel dan terukur. (Konrad/Metrosiar)

Namun, besarnya potensi ekonomi ini tidak akan berarti tanpa data yang valid. Di sinilah peran krusial PT Sucofindo (Persero).

Mewakili Direktur Utama Sucofindo, Dikman Purnama selaku Kepala PMU CSSE menggarisbawahi musuh utama dalam bisnis karbon adalah greenwashing alias klaim pelestarian lingkungan yang palsu atau tidak berdasar.

“Nilai ekonomi karbon hanya lahir dari data yang kredibel. Klaim net zero tanpa validasi hanya akan merusak kepercayaan investor,” ujar Dikman.

Sucofindo hadir sebagai lembaga independen yang menjalankan fungsi Validation & Verification Body (VVB).

Melalui mekanisme MRV (Measurement, Reporting, Verification), Sucofindo memastikan setiap klaim penurunan emisi teruji secara metodologis.

“Lembaga verifikator adalah Bridge of Trust atau jembatan kepercayaan. Dalam monetisasi karbon, kepercayaan adalah mata uang utamanya, dan MRV adalah mekanisme yang membuat mata uang itu bernilai,” pungkasnya.

Sinergi untuk Edukasi dan Aksi Lapangan
Kiri-kanan; Budi Utomo Direktur Sumber Daya Manusia PT Sucofindo, Chairman Atkarbonist Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., dan Dr. Benny Bernadus Direktur Utama DMB Global menunjukkan naskah Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di Auditorium Perbanas Institute, Jakarta, Jumat (13/2/26). (Dok. Atkarbonist)

Sebagai wujud komitmen nyata, seminar ini juga menjadi saksi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Atkarbonist dan Sucofindo.

Kerja sama ini melengkapi kolaborasi yang sebelumnya telah terjalin dengan Perbanas Institute dan DMB Global.

Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk memberikan edukasi, pendampingan bisnis, serta sertifikasi kompetensi guna mencetak tenaga profesional di bidang karbon.

Melalui sinergi antara dunia pendidikan, asosiasi ahli, dan lembaga verifikasi, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam ekonomi hijau global.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: Atkarbonist.org

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat
Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi
Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli
Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Denyut Perdagangan Kambing dari Pasar Sentral Sudu Menuju Palopo Jelang Idul Qurban
LSP Takarsa Jakarta Menuju Lisensi Resmi, BNSP Apresiasi
Berita ini 38 kali dibaca
Perubahan iklim kini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi strategis melalui perdagangan karbon. Dengan potensi mencapai Rp8.000 triliun, Indonesia memiliki posisi kuat untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau global. Namun, peluang tersebut menuntut regulasi yang kokoh, tata kelola transparan, serta komitmen menjaga keberlanjutan. Jika dikelola secara tepat, monetisasi emisi karbon dapat menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat upaya perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:03 WIB

KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:15 WIB

Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut

Senin, 18 Mei 2026 - 20:56 WIB

Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut

Berita Terbaru

Foto : Mantan Wakil Ketua BGN Sony Sonjaya

Hukum & Kriminal

Diduga Terlibat Korupsi MBG Beredar 20 Nama Petinggi

Rabu, 10 Jun 2026 - 13:35 WIB

Foto : Wamenlu RI Anis Matta

Nusantara

Tanda Tanda Keruntuhan Israel Ungkap Wamenlu RI

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:38 WIB

Foto : Victor Lai

Olahraga

Menyenangkan Bertanding di Istora

Rabu, 10 Jun 2026 - 10:48 WIB