Metrosiar – Pagi itu, kabut tipis masih menari di antara perbukitan saat matahari mulai muncul dari ufuk timur.
Di Kampung Adat Wogo, deretan rumah adat beratap ilalang berdiri anggun, seolah mengawal waktu yang berjalan pelan.
Suara ayam berkokok bersahutan, tawa riang anak-anak berlari di jalan tanah, dan aroma kopi Flores menyeruak dari tungku kayu di dapur-dapur warga.
Inilah Wogo, permata budaya di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang kini melangkah ke babak baru.
Pada Agustus 2025, desa ini resmi menyandang predikat Desa Edu-Eco Wisata dan masuk dalam agenda kunjungan Festival Wolobobo, sebuah ajang tahunan yang merayakan keindahan alam dan kekayaan budaya Ngada.
Tonggak Baru untuk Wogo
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wogo, Yohanes “Hans” Bhaghi, menyambut gembira pencapaian ini. Baginya, peresmian ini bukan hanya soal gelar, tetapi amanah untuk menjaga warisan leluhur.
“Sejak dulu Wogo ramai dikunjungi wisatawan, tetapi status Desa Edu-Eco Wisata memberi tanggung jawab yang lebih besar bagi kami untuk melestarikan adat dan lingkungan,” tutur Hans sambil memandang sebuah rumah adat yang diwariskan turun-temurun.
Hans menceritakan bagaimana Wogo mempertahankan keasliannya: dari bentuk rumah adat dengan tiang kayu dan atap alang-alang, tata ruang kampung yang sakral, hingga ritual adat yang dijalankan dengan penuh hormat.
Semua elemen itu bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol kehidupan yang mengakar pada nilai kebersamaan.
Festival Wolobobo Membawa Napas Baru
Penjabat Kepala Desa Wogo, Kandida M.Th.T. Longa, mengaku bangga desanya menjadi salah satu destinasi Festival Wolobobo tahun ini. Kunjungan rombongan besar pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ke Wogo bahkan disebutnya sebagai momen bersejarah.
“Ini pertama kalinya kami menerima kunjungan besar seperti ini. Festival Wolobobo membawa napas baru bagi desa kami, sekaligus kesempatan untuk menunjukkan bahwa Wogo layak menjadi destinasi unggulan,” ujar Kandida.
Pemindahan lokasi kunjungan Festival Wolobobo ke Wogo, menurutnya, sejalan dengan visi Edu-Eco Wisata.
Di sini, wisatawan tidak hanya disuguhi pemandangan, tetapi juga diajak belajar: mempelajari sejarah kampung, mencoba menenun kain ikat, hingga mengikuti sesi edukasi tentang adat istiadat.
Pelestarian yang Butuh Kerja sama

Baik Hans maupun Kandida sepakat, predikat baru ini hanya akan berarti jika semua pihak terlibat dalam menjaga dan mengembangkan Wogo. Pemerintah, pelaku wisata, akademisi, dan masyarakat setempat diharapkan bersinergi, sehingga Wogo tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai wisatawan.
“Wisata budaya itu rapuh kalau tidak dijaga. Kita bukan hanya menjual pemandangan, tapi juga cerita, nilai, dan jati diri,” kata Hans.
Magnet bagi Wisatawan
Menjelang senja, Wogo memancarkan pesona berbeda. Cahaya keemasan sore membelai puncak bukit, sementara warga duduk melingkar di teras rumah adat, berbagi cerita dan secangkir kopi.
Di tengah percakapan, terdengar suara gendang dan nyanyian adat yang mengalun pelan, mengiringi langit yang berubah warna.
Bagi wisatawan, momen seperti ini menjadi pengalaman yang tak hanya dilihat, tapi dirasakan.
Mereka pulang dengan cerita tentang kehangatan orang Wogo, tentang tarian yang bercerita, dan tentang kopi yang diseduh dengan sepenuh hati.
Dengan segala kekayaan budaya dan alamnya, serta dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, Wogo kini berdiri tegak sebagai Desa Edu-Eco Wisata bukan hanya tujuan perjalanan, tetapi sebuah pengalaman hidup yang membekas di hati setiap pengunjung.* (Frans Dhena)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Metrosiar










