Bajawa.Metrosiar- Gempa bumi Flores 15 Agustus 2026 meninggalkan luka, kehilangan, kerusakan, hingga trauma bagi masyarakat. Namun, di tengah situasi tersebut, Gereja Katolik diajak tidak hanya menjadi tempat umat mencari penguatan iman, tetapi juga hadir nyata menemani masyarakat untuk bangkit dan menata kembali kehidupan.
Seruan itu disampaikan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, melalui Surat Gembala Uskup Agung Ende Pascagempa Flores 15 Agustus 2026, yang ditandatangani di Ndona, 12 September 2026.
Dalam surat tersebut, Uskup mengajak seluruh umat menjadikan pengalaman bencana sebagai momentum untuk memperdalam iman sekaligus memperkuat solidaritas, kesederhanaan, kerendahan hati, dan keberanian.
“Dalam hari-hari bencana gempa bumi yang melanda wilayah kita, kita mencari wajah Tuhan,” demikian pesan Uskup dalam surat gembala tersebut.
Menurutnya, wajah Tuhan justru dapat ditemukan di tengah penderitaan. Wajah itu hadir dalam diri warga yang kehilangan anggota keluarga, rumah dan sumber penghidupan, mereka yang mengungsi, para relawan, maupun setiap orang yang dengan tulus mengulurkan tangan membantu sesama.
Uskup juga menegaskan bahwa gempa bumi bukanlah hukuman Tuhan. Karena itu, umat tidak perlu terjebak pada pemikiran bahwa penderitaan akibat bencana merupakan tanda bahwa Tuhan meninggalkan manusia.
Sebaliknya, pengalaman tersebut harus menjadi kesempatan untuk semakin menghayati iman dan menghadirkan kasih serta solidaritas bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Bangkit, Bukan Sekadar Membangun Kembali
Uskup mengingatkan bahwa pemulihan pascagempa tidak boleh dimaknai sebatas memperbaiki rumah, gereja atau bangunan yang rusak.
Lebih jauh dari itu, pemulihan harus menyentuh kehidupan manusia, relasi persaudaraan, keluarga, sumber penghidupan, serta keberanian masyarakat untuk kembali menatap masa depan.
“Pemulihan pascagempa bukan hanya soal memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi terutama memulihkan kehidupan manusia, relasi persaudaraan, penghidupan keluarga, serta keberanian untuk menatap masa depan,” demikian inti pesan tersebut.
Untuk menghadapi tahap pemulihan, Uskup menekankan tiga sikap penting, yakni kesederhanaan, kerendahan hati dan keberanian.
Kesederhanaan dibutuhkan agar umat mampu melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati diperlukan untuk belajar dari pengalaman bencana. Sedangkan keberanian dibutuhkan untuk mengambil langkah nyata dalam membangun kembali kehidupan keluarga dan komunitas.
Perayaan Gereja Diminta Lebih Sederhana
Dalam surat tersebut, Uskup juga memberikan perhatian terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan dan perayaan gerejani selama masa pascagempa.
Umat diminta menyesuaikan tempat pelaksanaan liturgi dengan kondisi gereja atau kapela masing-masing. Para pastor juga diminta menentukan tempat yang aman dan layak untuk pelaksanaan Ekaristi maupun pelayanan sakramen lainnya.
Berbagai perayaan gerejani, seperti pesta pelindung paroki, tahbisan imam dan kaul kekal, peringatan hari ulang tahun tahbisan dan kaul, pemberkatan gereja atau kapela, hingga ulang tahun paroki, diminta dilaksanakan secara sederhana.
Kesederhanaan tersebut bukan sekadar upaya mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, menjadi bentuk solidaritas terhadap masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan akibat gempa.
Bantuan Harus Adil, Jujur dan Transparan
Uskup juga menyoroti pengelolaan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa.
Menurutnya, bantuan harus diberikan terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Hal ini penting karena tingkat dampak dan kerugian yang dialami masyarakat berbeda-beda.
Karena itu, umat diajak tidak terjebak pada tuntutan agar semua orang memperoleh bantuan dengan jumlah dan bentuk yang sama.
“Kejujuran dan kecemburuan mesti dijauhkan sebab keadilan tidak selalu berarti memberikan hal yang sama kepada semua orang, melainkan memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan dan tingkat penderitaan masing-masing,” demikian pesan dalam surat tersebut.
Seluruh pihak yang terlibat dalam pengumpulan maupun pendistribusian bantuan juga diminta menjunjung tinggi keadilan, kejujuran dan transparansi.
Pemulihan Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah
Memasuki masa transisi dan pemulihan, Uskup menyebut sedikitnya tiga bidang yang membutuhkan perhatian serius, yakni pendampingan pastoral dan trauma healing, pemulihan ekonomi, serta pembangunan kembali hunian warga dan fasilitas umum.
Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab utama dalam penanganan bencana. Namun, Gereja dan masyarakat juga diajak mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, rumah, sumber penghidupan, serta warga yang masih diliputi ketakutan dan trauma akibat bencana.
Gereja, kata Uskup, harus terus hadir mendampingi mereka yang berada dalam situasi sulit tersebut.
Gereja Dibangun Lebih Aman, Bukan Sekadar Seperti Semula
Dalam rehabilitasi dan pembangunan kembali fasilitas gereja, Uskup meminta agar proses tersebut tidak sekadar mengembalikan kondisi bangunan seperti sebelum gempa.
Pengalaman bencana harus menjadi bahan pembelajaran untuk membangun fasilitas gerejani yang lebih aman, layak, sederhana dan sesuai kebutuhan pastoral.
Dengan demikian, pembangunan kembali tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga bagian dari proses belajar dan membangun ketangguhan masyarakat menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.
Apresiasi untuk Relawan dan Semua Pihak
Di akhir surat, Uskup Agung Ende menyampaikan apresiasi kepada Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores Keuskupan Agung Ende di bawah koordinasi Romo Reginald Piperno Bego.
Penghargaan juga disampaikan kepada para relawan, pemerintah, Caritas Indonesia, keuskupan-keuskupan, organisasi, kelompok, maupun perseorangan yang telah memberikan bantuan dan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Flores Keuskupan Agung Ende akan melanjutkan pelayanan hingga terbentuknya Tim Pemulihan Pascagempa Bumi Flores Keuskupan Agung Ende.
Melalui surat gembala tersebut, Uskup mengajak seluruh umat membangun kembali Gereja Keuskupan Agung Ende sebagai Gereja yang mampu menemukan wajah Allah di tengah penderitaan dan menghadirkan harapan bagi masyarakat yang sedang bangkit dari bencana.
Sebab, bagi Gereja, bangkit dari gempa bukan hanya soal berdirinya kembali bangunan yang runtuh, tetapi tentang memulihkan manusia, menguatkan persaudaraan dan menyalakan kembali harapan.*










