Strategi Indonesia Hadapi Perubahan Iklim: Pentingnya Sustainable Forest Management dalam Agenda FOLU Net Sink

Avatar photo

Selasa, 30 Desember 2025 - 00:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ir. Diah Y. Suradiredja, Sekretaris Jenderal Atkarbonist, saat memberikan pemaparan mengenai peran strategis sektor non negara dan pentingnya transparansi data dalam mendukung perdagangan karbon dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030 di Indonesia dalam acara Enviro Talk di kanal YouTube Enviro TV. (Tangkapan Layar YouTube Enviro TV)

Ir. Diah Y. Suradiredja, Sekretaris Jenderal Atkarbonist, saat memberikan pemaparan mengenai peran strategis sektor non negara dan pentingnya transparansi data dalam mendukung perdagangan karbon dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030 di Indonesia dalam acara Enviro Talk di kanal YouTube Enviro TV. (Tangkapan Layar YouTube Enviro TV)

Jakarta, Metrosiar – Bukan lagi sebatas diskusi hijau, krisis iklim kini menempati posisi sentral dalam strategi pembangunan Indonesia.

Fokus utama ini muncul dalam diskusi Enviro Talk yang mengupas tuntas target FOLU Net Sink 2030 sebuah misi besar untuk memastikan sektor kehutanan mampu menyerap karbon lebih banyak daripada yang dilepaskan.

Acara ini mempertemukan Dr. Agus Justianto (Project Director FOLU NC1) dan Ir. Diah Y Suradiredja (Sekjen Atkarbonist), dua sosok berpengaruh di balik perumusan kebijakan iklim dan ekosistem bisnis karbon tanah air.

Hutan Sebagai Tulang Punggung Penurunan Emisi

Dalam penjelasannya, Dr. Agus Justianto menegaskan sektor kehutanan (FOLU) memegang peranan paling vital dalam target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

“Berdasarkan kalkulasi dan studi mendalam, sektor yang paling visible (memungkinkan) dan menjadi andalan pengurangan emisi adalah sektor FOLU. Sekitar 60% beban pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia ada di sektor ini,” ungkap Agus.

Ia menjelaskan konsep ini berakar dari negosiasi iklim global yang panjang, mulai dari REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) hingga mengarah pada Nature Based Solutions.

Dengan memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki modalitas besar untuk memimpin agenda ini.

“Target kita adalah Net Sink di tahun 2030. Artinya, serapan karbon minimal sama dengan emisi yang dikeluarkan, bahkan hitungan kita bisa lebih besar serapannya. Meskipun target Net Zero Emission nasional adalah 2060, sektor kehutanan memberanikan diri untuk mencapai target tersebut lebih cepat di 2030,” tambahnya.

Baca juga:  Danantara Indonesia Luncurkan Program Kepemimpinan Eksekutif Bertaraf Internasional

Fondasi Sustainable Forest Management (SFM)

Apa itu FOLU Net Sink 2030? Pelajari mengapa sektor kehutanan menjadi kunci utama Indonesia dalam mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca global di sini.
Dr. Agus Justianto saat menjelaskan strategi FOLU Net Sink 2030, menekankan pentingnya pengelolaan hutan lestari sebagai tulang punggung target iklim Indonesia. (Tangkapan Layar YouTube Enviro TV)

Agus menekankan pencapaian target ini harus didasarkan pada Pengelolaan Hutan Lestari atau Sustainable Forest Management (SFM).

Hal ini bukan sekadar teori, melainkan implementasi teknis pembagian fungsi hutan (Produksi, Lindung, dan Konservasi) yang didasarkan pada skoring ilmiah seperti curah hujan, kelerengan, dan kepekaan tanah terhadap erosi.

“Jika kita tidak bisa menerapkan pengelolaan hutan berkelanjutan sesuai fungsinya, peluang mencapai target iklim akan berkurang. Risiko terbesarnya adalah jika terjadi degradasi atau bencana, target FOLU Net Sink bisa tidak tercapai,” tegas Agus.

FOLU Net Sink Sebagai “Kompas” Bisnis Karbon

Dari perspektif pelaku usaha dan tata kelola karbon, Ir. Diah Y. Suradiredja mengibaratkan kebijakan FOLU Net Sink sebagai “Kompas Nasional”.

“Pasar karbon sangat sensitif terhadap arah kebijakan. Dunia usaha tidak bisa bergerak hanya dengan niat baik; mereka butuh sinyal yang jelas dari negara. FOLU Net Sink memberikan pesan kuat bahwa Indonesia menempatkan hutan sebagai solusi iklim nasional, bukan sekedar isu lingkungan,” ujar Diah.

Menurut Diah, kebijakan ini mengubah isu karbon dari sekadar konsep abstrak menjadi instrumen ekonomi yang terstruktur, terukur, dan kredibel. Tanpa kerangka FOLU Net Sink, pasar karbon berisiko terfragmentasi.

Tantangan Transparansi dan Peran Masyarakat

Diah juga menyoroti pentingnya transparansi dan peran masyarakat di tingkat tapak.

Dalam mekanisme perdagangan atau kompensasi karbon, additionality (nilai tambah) justru banyak datang dari peran masyarakat yang menjaga hutan dari tekanan kerusakan dan kebakaran.

Baca juga:  IHSG Sempat Tembus 8.000, Mengapa Kembali Melemah di Sesi Pertama?

“Kunci pasar karbon adalah kepercayaan (trust). Tidak boleh ada data yang abu-abu. Transparansi data yang terverifikasi (Monitoring, Reporting, and Verification/MRV) menjadi syarat mutlak bagi investor global,” jelas Diah.

Terkait tantangan, kedua narasumber sepakat bahwa pekerjaan rumah terbesar adalah pada aspek tata kelola.

Dr. Agus menekankan pada konsistensi kebijakan dan kolaborasi multistakeholder, sementara Ir. Diah menyoroti kepastian tata kelola, terutama terkait kejelasan hak kelola (tenurial) di tingkat tapak serta harmonisasi regulasi pusat dan daerah.

Panggilan untuk Generasi Muda

Menutup diskusi, kedua narasumber menaruh harapan besar pada generasi muda. Isu FOLU Net Sink dinilai bukan hanya agenda teknis kehutanan, melainkan agenda transformasi nasional yang membutuhkan inovasi lintas sektor mulai dari teknologi digital, keuangan, hingga komunikasi.

“Generasi muda harus mengambil peran lebih besar karena merekalah pemilik masa depan hutan ini. Kita butuh narasi baru dan inovasi agar agenda ini tidak terjebak menjadi program teknis yang elitis,” pungkas Diah.

Poin Utama:

  • Posisi Strategis: Sektor kehutanan menanggung 60% beban target penurunan emisi Indonesia dalam NDC.
  • Definisi FOLU Net Sink: Kondisi di mana serapan karbon seimbang atau lebih tinggi dari emisi pada tahun 2030.
  • Perspektif Bisnis: Kebijakan ini memberikan kepastian (sinyal) bagi pasar karbon dan mencegah fragmentasi pasar.
  • Tantangan Utama: Konsistensi kebijakan, transparansi data, dan kejelasan hak kelola (tenurial) di tingkat tapak.
  • Peran Generasi Muda: Dibutuhkan untuk inovasi teknologi dan membangun narasi publik agar isu ini dipahami secara luas.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: YouTube Enviro TV

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven
Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia
KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat
Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi
Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli
Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Berita ini 37 kali dibaca
Mengulas pentingnya Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (SFM) dalam agenda FOLU Net Sink 2030 untuk memastikan ambisi iklim Indonesia tercapai secara kredibel.

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 12:37 WIB

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:00 WIB

Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:03 WIB

KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Berita Terbaru

Emas mulai naik di awal pekan, Investor mulai semangat lagi mengamankan emas sebagai Safe Haven sebelum harga emas semakin naik tinggi.

Bisnis & Investasi

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven

Senin, 15 Jun 2026 - 12:37 WIB

Politik & Pemerintahan

Anis Matta: “Partai Politik Kalau Hanya Ikut Arus, Kita Bukan Pemimpin!”

Senin, 15 Jun 2026 - 11:51 WIB

Jajaran pengurus pusat dan daerah Laskar Merah Putih berfoto bersama usai pelaksanaan Rapimnas 2026 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

Nusantara

Rapimnas LMP 2026 Bongkar Arah Baru Organisasi

Senin, 15 Jun 2026 - 10:15 WIB

Suasana penyampaian keterangan kepada awak media usai rapat paripurna DPRD DKI Jakarta terkait pengesahan Peraturan Daerah tentang Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN), di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Hukum & Kriminal

137 Wilayah Jakarta Rawan Narkoba, DPRD Sahkan Perda Baru!

Senin, 15 Jun 2026 - 07:14 WIB