Metrosiar – Kitab Amos 8:4-7 menghadirkan suara kenabian yang lantang terhadap ketidakadilan sosial.
Nabi Amos menegur keras mereka yang menindas orang miskin, menipu dalam perdagangan, mempermainkan harga, hingga menjadikan sesama manusia sebagai barang dagangan.
Tuhan sendiri bersumpah: “Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” (Am. 8:7).
Jika kita jujur melihat keadaan Indonesia saat ini, pesan Amos terasa sangat relevan.
Banyak pejabat yang diberi amanah justru menyalahgunakan kekuasaan. Alih-alih melayani, mereka kerap memperkaya diri.
Korupsi, manipulasi anggaran, mark up proyek, hingga jual beli jabatan masih marak. Akibatnya, rakyat kecil yang seharusnya menikmati hak dasar—pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak—justru terus tertindas.
Nabi Amos menyingkap wajah ketidakadilan di zamannya, dan suara kenabian itu seakan bergema kembali di negeri kita.
Bukankah praktik korupsi dan suap yang dilakukan sebagian pejabat sama dengan memperkecil takaran dan menipu dengan neraca palsu?
Bukankah menumpuk kekayaan dari uang rakyat sama halnya dengan “membeli orang papa karena uang”?
Dalam Injil Lukas 16:10-12, Yesus menegaskan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Para pemimpin yang gagal setia dalam hal kecil—jujur dalam laporan, adil dalam kebijakan, tulus dalam pelayanan—pasti akan gagal juga dalam tanggung jawab besar kepada bangsa.
Maka, firman Tuhan melalui Amos adalah peringatan keras bagi para pejabat di Indonesia: Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap segala bentuk penindasan dan perampasan hak rakyat kecil. Cepat atau lambat, keadilan-Nya akan menyingkap segala kebusukan.
Bagi kita umat beriman, tugas kita adalah mendoakan, mengingatkan, sekaligus berani bersuara terhadap praktik ketidakadilan.
Kita dipanggil bukan hanya untuk berdiam diri, tetapi juga ikut menjadi suara kenabian di tengah bangsa, agar kebenaran dan keadilan sungguh ditegakkan.*
Editor : Nedu Wodo Mezhe
Sumber Berita: Metrosiar









