METROSIAR – ByteDance, induk dari TikTok yang berbasis di China, telah meluncurkan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) baru bernama “Goku” untuk pembuatan gambar dan video.
Goku adalah model AI open source (sumber terbuka) yang dapat bersaing dengan model serupa seperti Llama (Meta) dan DeepSeek, serta ditujukan untuk menciptakan video iklan dengan realisme tinggi.
Pengenalan Goku AI
Goku AI dikembangkan untuk membantu pembuat konten dan pemasar dalam membuat video produk, avatar pemasaran, influencer AI, dan demo visual lainnya.
Model ini mendapat nama yang diduga terinspirasi dari karakter Goku di serial anime Dragon Ball, yang terkenal karena kekuatan dan kemampuan berkembangnya.
Kata “Goku” sendiri dalam bahasa Jepang mengacu pada “kesadaran kosong,” yang bisa dihubungkan dengan sifat AI yang terus belajar dan berkembang.
Teknologi Goku AI: Meningkatkan Kualitas Video
Goku AI menggunakan teknik Rectified Flow Transformer (RFT), yang memungkinkan pembuatan video lebih halus dan realistis.
Proses pembuatan video dilakukan dengan menyusun bingkai secara bertahap untuk menciptakan transisi yang mulus. Selain itu, dynamical rectified flow memastikan setiap gerakan dalam video mengalir alami dan mengurangi gangguan visual, menghasilkan video berkualitas tinggi.
Keunggulan Goku AI

Goku AI memiliki performa yang unggul dibandingkan dengan model AI lain, seperti Luma, Open-Sora, Mira, dan Pika.
Beberapa hasil pengujian Goku AI menunjukkan skor yang sangat baik: 0,76 pada GenEval (ukur ketepatan konten), 83,65 pada DPG-Bench (ukur kemampuan teks ke gambar), dan 84,85 pada VBench (ukur kualitas teks ke video).
Persyaratan untuk Menjalankan Goku AI
Untuk mengoperasikan Goku AI dengan kinerja optimal, dibutuhkan GPU berkinerja tinggi. Berikut adalah langkah-langkah untuk menginstal Goku:
- Pasang Python dan Pytorch versi terbaru
- Salin kode sumber dari repositori GitHub resmi Goku
- Install paket Python di direktori proyek
- Unduh berbagai model Goku dan jalankan kode.
Dengan kemampuan untuk menghasilkan konten hiper realistis, penting untuk selalu memperhatikan penggunaan AI yang bertanggung jawab, terutama dalam hal deteksi deepfake dan penyalahgunaan konten digital.***
Sumber Berita: GitHub









