Metrosiar – Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mengutus Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan menuai kritik dari berbagai pihak.
Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, menilai langkah tersebut sebagai blunder politik yang dapat berdampak pada citra moral Indonesia di mata dunia internasional.
Menurut Virdika, kehadiran Jokowi sebagai perwakilan resmi Indonesia justru menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, nama Jokowi pernah masuk dalam nominasi tokoh terkorupsi 2024 versi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), meskipun hanya sebatas nominasi.
“Mengutus Jokowi seperti mengirim pesan blunder. Indonesia mengirim figur yang dicurigai publik global ke ruang yang dijaga ketat secara moral. Ini bukan soal hukum, ini soal pesan politik,” ujar Virdika dikutip Metrosiar.com dari Tempo.co pada Jumat, 25 April 2025.
Lebih lanjut, Virdika menegaskan bahwa pemakaman Paus Fransiskus bukan sekadar acara seremoni kenegaraan, melainkan panggung etika global yang membawa makna sakral bagi umat Katolik di seluruh dunia.
“Diplomasi kita jadi pincang, mau bicara soal etika global, tapi diwakili simbol yang dipertanyakan secara etik,” kata dia, menambahkan bahwa persepsi publik internasional terhadap Indonesia bisa terganggu akibat keputusan tersebut.
Virdika juga menyayangkan langkah Prabowo yang dinilai melewatkan kesempatan penting untuk membangun hubungan emosional dan simbolis dengan komunitas Katolik.
“Dengan memilih mengutus Jokowi, figur yang dipertanyakan integritas moral dan etikanya di ruang publik, Prabowo seolah mengabaikan suasana kebatinan umat Katolik sendiri,” ujar Virdika.
Ia menyarankan agar Presiden Prabowo seharusnya mengutus tokoh Katolik nasional atau bahkan hadir langsung sebagai bentuk empati dan penghormatan.
“Keputusan ini mencerminkan kurangnya sensitivitas Prabowo dalam membaca ruang moral umat Katolik, yang tentu saja bisa berdampak pada relasi jangka panjang antara pemerintah dan komunitas keagamaan,” tambahnya.
Namun, pandangan berbeda datang dari pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio. Ia menyebut bahwa tindakan Prabowo mengutus Jokowi merupakan hal yang lazim dalam tradisi diplomasi internasional.
“Itu biasa dilakukan Amerika Serikat dan Inggris,” kata Hendri saat dihubungi pada hari yang sama. Ia menilai, langkah ini juga merupakan cara Prabowo menunjukkan posisinya yang kini menjabat sebagai presiden.
“Sedangkan, Jokowi hanya utusan,” ujarnya, menjelaskan bahwa tidak ada konflik kepemimpinan (matahari kembar) dalam konteks ini.
Tempo sendiri telah mencoba menghubungi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi untuk meminta klarifikasi lebih lanjut terkait alasan pengutusan Jokowi, namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo mengutus Jokowi bersama beberapa tokoh lainnya untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, termasuk Menteri HAM Natalius Pigai, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan.
Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025, di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan. Wafatnya Paus diumumkan oleh Kardinal Kevin Farrell, Camerlengo Kamar Apostolik, pada pukul 09.45 waktu setempat.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Tempo.co









