Gestur Simbolik Prabowo Terkait Pemakaman Paus Fransiskus, Antara Etika dan Persepsi Publik Menurut Pakar Politik

Avatar photo

Jumat, 25 April 2025 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo dalam acara pisah sambut di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: BPMI Setpres)

Potret Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo dalam acara pisah sambut di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: BPMI Setpres)

Metrosiar – Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mengutus Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan menuai kritik dari berbagai pihak.

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, menilai langkah tersebut sebagai blunder politik yang dapat berdampak pada citra moral Indonesia di mata dunia internasional.

Menurut Virdika, kehadiran Jokowi sebagai perwakilan resmi Indonesia justru menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, nama Jokowi pernah masuk dalam nominasi tokoh terkorupsi 2024 versi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), meskipun hanya sebatas nominasi.

“Mengutus Jokowi seperti mengirim pesan blunder. Indonesia mengirim figur yang dicurigai publik global ke ruang yang dijaga ketat secara moral. Ini bukan soal hukum, ini soal pesan politik,” ujar Virdika dikutip Metrosiar.com dari Tempo.co pada Jumat, 25 April 2025.

Lebih lanjut, Virdika menegaskan bahwa pemakaman Paus Fransiskus bukan sekadar acara seremoni kenegaraan, melainkan panggung etika global yang membawa makna sakral bagi umat Katolik di seluruh dunia.

Baca juga:  Jokowi Digugat Calon Pembeli Esemka, Responsnya Mengejutkan!

“Diplomasi kita jadi pincang, mau bicara soal etika global, tapi diwakili simbol yang dipertanyakan secara etik,” kata dia, menambahkan bahwa persepsi publik internasional terhadap Indonesia bisa terganggu akibat keputusan tersebut.

Virdika juga menyayangkan langkah Prabowo yang dinilai melewatkan kesempatan penting untuk membangun hubungan emosional dan simbolis dengan komunitas Katolik.

“Dengan memilih mengutus Jokowi, figur yang dipertanyakan integritas moral dan etikanya di ruang publik, Prabowo seolah mengabaikan suasana kebatinan umat Katolik sendiri,” ujar Virdika.

Ia menyarankan agar Presiden Prabowo seharusnya mengutus tokoh Katolik nasional atau bahkan hadir langsung sebagai bentuk empati dan penghormatan.

“Keputusan ini mencerminkan kurangnya sensitivitas Prabowo dalam membaca ruang moral umat Katolik, yang tentu saja bisa berdampak pada relasi jangka panjang antara pemerintah dan komunitas keagamaan,” tambahnya.

Namun, pandangan berbeda datang dari pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio. Ia menyebut bahwa tindakan Prabowo mengutus Jokowi merupakan hal yang lazim dalam tradisi diplomasi internasional.

Baca juga:  Transparansi dan Penuh Kehati-hatian dalam Pengelolaan Danantara, Ini Pesan Tegas Prabowo

“Itu biasa dilakukan Amerika Serikat dan Inggris,” kata Hendri saat dihubungi pada hari yang sama. Ia menilai, langkah ini juga merupakan cara Prabowo menunjukkan posisinya yang kini menjabat sebagai presiden.

“Sedangkan, Jokowi hanya utusan,” ujarnya, menjelaskan bahwa tidak ada konflik kepemimpinan (matahari kembar) dalam konteks ini.

Tempo sendiri telah mencoba menghubungi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi untuk meminta klarifikasi lebih lanjut terkait alasan pengutusan Jokowi, namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo mengutus Jokowi bersama beberapa tokoh lainnya untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, termasuk Menteri HAM Natalius Pigai, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025, di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan. Wafatnya Paus diumumkan oleh Kardinal Kevin Farrell, Camerlengo Kamar Apostolik, pada pukul 09.45 waktu setempat.(*)

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: Tempo.co

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aklamasi di Musda XI! Andreas Paru Kembali Nahkodai Golkar Ngada, Siap Satukan Kader dan Rebut Kemenangan Politik
Musda XI Golkar Ngada Jadi Momentum Kebangkitan, Kader Rapatkan Barisan Menuju Kemenangan Politik
Ratusan Warga Padati Polda Banten, Ada Khitan Gratis hingga Donor Darah
Rumah Reyot Disulap Jadi Layak Huni, Aksi Polda Banten Ini Bikin Haru Warga
Warga Pasar Kemis Serbu Layanan Pemkab Tangerang, Ada Apa di Sindangsari?
Pesan Penting Lurah Kutabumi di Ajang PMR Pasar Kemis, Apa Isinya?
Lurah Kutabumi Dukung Penuh Lomba Posko Tiga Pilar Tingkat Polresta Tangerang 2026.
Polda Banten Terima Penghargaan atas Keberhasilan Angkutan Lebaran 2026.
Berita ini 34 kali dibaca
Tuai kontroversi atas keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mengutus Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan. Sejumlah pihak menilai keputusan ini kurang sensitif secara moral dan simbolik, serta berpotensi merusak citra diplomasi etis Indonesia di mata dunia internasional.

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:02 WIB

Aklamasi di Musda XI! Andreas Paru Kembali Nahkodai Golkar Ngada, Siap Satukan Kader dan Rebut Kemenangan Politik

Jumat, 26 Juni 2026 - 23:46 WIB

Musda XI Golkar Ngada Jadi Momentum Kebangkitan, Kader Rapatkan Barisan Menuju Kemenangan Politik

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:54 WIB

Ratusan Warga Padati Polda Banten, Ada Khitan Gratis hingga Donor Darah

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:45 WIB

Rumah Reyot Disulap Jadi Layak Huni, Aksi Polda Banten Ini Bikin Haru Warga

Senin, 22 Juni 2026 - 10:13 WIB

Warga Pasar Kemis Serbu Layanan Pemkab Tangerang, Ada Apa di Sindangsari?

Berita Terbaru

Foto Bersama

Politik & Pemerintahan

Warga Pasar Kemis Serbu Layanan Pemkab Tangerang, Ada Apa di Sindangsari?

Senin, 22 Jun 2026 - 10:13 WIB