Metrosiar – Yovania Asyifa Jami, atau yang dikenal sebagai Yovania, adalah seorang penyintas gangguan jiwa (RSJ Survivor) yang kini aktif menjadi advokasi kesehatan mental di Indonesia.
Melalui komunitas Pasti ID (Patahkan Stigma Kesehatan Mental Indonesia) dan konten inspiratif di Instagram dan TikTok @yovania_aj, Yova berbagi pengalaman pribadinya sebagai survivor bipolar disorder dan BPD (Borderline Personality Disorder).
Dengan perjalanan panjangnya mulai dari dirawat di rumah sakit jiwa hingga akhirnya diterima di Universitas Indonesia (UI) Yova membuktikan gangguan mental bukanlah akhir segalanya.
Perjalanan Kesehatan Mental Yova
1. Awal Masa Sulit: Skizofrenia, Rukiah, hingga Pasung
Pada usia 15-16 tahun, Yova pertama kali didiagnosa skizofrenia karena mengalami:
• Halusinasi & delusi
• Tidak bisa diajak komunikasi
• Perilaku tidak terkendali
Keluarga yang awalnya menganggap kondisinya sebagai “kerasukan” memilih pengobatan alternatif (rukiyah). Sayangnya, ini justru memperburuk keadaan:
• Dipasung dan mengalami kekerasan fisik
• Kondisi mental semakin drop
• Baru dibawa ke RSJ setelah 2-3 bulan
2. Diagnosa Berubah: Bipolar & BPD
Setelah pemeriksaan lebih lanjut, Yova ternyata mengidap:
• Bipolar Disorder: Mood swing ekstrem (depresi & manik)
• Borderline Personality Disorder (BPD): Emosi tidak stabil, takut ditinggalkan, dan impulsif
Awalnya, Yova menolak label BPD karena merasa stigma negatif terlalu kuat. Namun, ia akhirnya menerima bahwa:
“Aku hanya Yova yang sedang berjuang, bukan sekadar label diagnosa.”
Dampak Trauma Masa Kecil
Latar belakang keluarga Yova turut memengaruhi kondisinya:
• Orang tua bercerai berkali-kali dengan konflik tinggi
• Terbiasa menekan emosi sejak kecil (tidak pernah marah/menangis)
• Pelarian diri dengan membaca buku untuk menghindari konflik
• Merasa bertanggung jawab atas perpisahan orang tua
“Aku selalu berpikir, jangan-jangan mereka cerai karena aku.”
Strategi Pemulihan Yova
1. Terapi & Konseling
• Naratif Terapi: Menulis jurnal harian untuk melacak pola emosi
• Teknik Pernapasan: Mengatasi amarah dengan tarik napas dalam
• Visualisasi: Membayangkan orang lain sebagai “kucing” agar lebih sabar
2. Kebiasaan Positif
• Kembali membaca buku (setelah sekian lama menghindarinya)
• Menerima bantuan profesional (rutin ke psikiater & psikolog)
• Komunitas Support System: Pasti ID sebagai wadah berbagi
Pesan untuk Penyintas Kesehatan Mental
“Kamu berjuang untuk dirimu sendiri, dan itu sah. Kalau capek, istirahat. Kalau butuh bantuan, minta. Kamu tidak sendirian.” Yovani Asyifa Jami
Ia menekankan pentingnya:
✅ Memaafkan diri sendiri
✅ Validasi emosi (marah, sedih, kecewa = wajar)
✅ Jangan ragu minta tolong
Rencana Masa Depan: Jadi Psikolog & Go International
• Kuliah S1 Psikologi (setelah lulus D3 Hubungan Masyarakat UI)
• Memperluas kampanye kesehatan mental ke level global
• Proyek rahasia (yang rencananya akan melibatkan lebih banyak pihak)
Kisah Yova membuktikan gangguan mental bukan aib, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bisa dikelola.
Dengan dukungan tepat, terapi, komunitas, dan self-awareness setiap orang berhak pulih dan meraih mimpinya.
“Kesehatan mental itu penting. Jangan tunggu parah baru peduli.” – Yovani Asyifa Jami.(*)
Editor : Konradus Fedhu
Sumber Berita: YouTube.com/@GraceTahir23










