Bajawa.Metrosiar- Peluang Kabupaten Ngada menjadi tuan rumah sepak bola putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 mulai terbuka. Namun, ambisi tersebut masih menghadapi tantangan besar, terutama kesiapan infrastruktur dan kelengkapan fasilitas Stadion Lebijaga, Bajawa.
Hal itu mengemuka saat Wakil I Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Mayjen TNI (Purn.) Dr. Suwarno, bersama Wakil VI Ketua Umum KONI Pusat, Dr. Josef A. Nae Soi, meninjau Stadion Lebijaga, Jumat (16/10/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari peninjauan sejumlah fasilitas olahraga di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melihat potensi venue yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan PON XXII/2028, yang akan berlangsung di NTT dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bagi Ngada, peninjauan ini menjadi kesempatan penting untuk memperjuangkan agar pertandingan sepak bola putri tingkat nasional dapat digelar di Flores, khususnya di Bajawa.
Namun, peluang itu tidak cukup hanya bermodalkan keberadaan stadion. Kesiapan lapangan, ruang ganti pemain, ruang wasit, fasilitas kesehatan, konsumsi, hingga sarana pendukung lainnya menjadi aspek yang harus diperhatikan.
KONI Pusat: Stadion Lebijaga Masih Butuh Banyak Pembenahan
Wakil I Ketua Umum KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn.) Dr. Suwarno, menegaskan bahwa kelayakan stadion untuk pertandingan sekelas PON harus dinilai secara menyeluruh.
Menurutnya, stadion tidak hanya membutuhkan lapangan pertandingan yang memadai, tetapi juga fasilitas pendukung yang memenuhi kebutuhan atlet, perangkat pertandingan, dan penyelenggara.
“Yang perlu diketahui, stadion itu membutuhkan beberapa fasilitas, bukan hanya lapangan untuk bermain. Ada ruang ganti untuk pemain, ruang wasit, kesehatan, konsumsi, dan lain-lain. Itulah yang harus menjadi bahan pertimbangan apakah bisa digunakan atau tidak,” ujar Suwarno saat meninjau Stadion Lebijaga.
Dari pengamatan awal, ia menilai Stadion Lebijaga masih memerlukan sejumlah perbaikan dan penambahan fasilitas sebelum dapat dipertimbangkan sebagai venue sepak bola putri PON XXII/2028.
Meski demikian, Suwarno berharap dukungan pemerintah daerah dapat membuka jalan bagi Flores untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan pesta olahraga nasional tersebut.
“Sementara yang saya lihat di lapangan masih perlu banyak perbaikan. Mudah-mudahan dengan dukungan pemerintah daerah, sepak bola putri bisa di Flores,” tambahnya.
Ia menjelaskan, peninjauan awal tersebut belum menjadi keputusan akhir mengenai kelayakan stadion. Penilaian lebih lanjut akan dilakukan oleh Technical Delegate atau tim teknis yang memiliki kewenangan menilai kesesuaian fasilitas berdasarkan standar cabang olahraga terkait.
Tim teknis nantinya akan meninjau Stadion Lebijaga bersama sejumlah stadion lain di daratan Flores. Hasil penilaian tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi pertandingan sepak bola putri.
Dengan demikian, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan penting untuk mengidentifikasi kebutuhan pembenahan dan memastikan setiap persyaratan teknis dapat dipenuhi.
Josef Nae Soi Dorong Ngada Manfaatkan Momentum PON
Sementara itu, Wakil VI Ketua Umum KONI Pusat, Dr. Josef A. Nae Soi, mendorong Kabupaten Ngada agar menjadikan peluang penyelenggaraan PON 2028 sebagai momentum mempercepat pembangunan fasilitas olahraga.
Menurutnya, Ngada memiliki potensi untuk mengembangkan sepak bola. Karena itu, pembenahan infrastruktur perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar persiapan untuk menjadi tuan rumah pertandingan PON.
Ia juga menyoroti keberadaan PSN Ngada yang akan berlaga di Liga 3. Kehadiran tim tersebut dinilai menjadi alasan penting bagi daerah untuk mulai memikirkan ketersediaan stadion yang layak dan representatif.
“Saat ini ada tim PSN yang akan bermain di Liga 3. Kita memang belum punya stadion yang layak, tetapi ini bisa jadi langkah awal untuk bisa memiliki fasilitas olahraga yang sesuai standar. Sehingga ke depan tim PSN mungkin bisa punya home base sendiri di Ngada,” ungkap Josef.
Dorongan tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah agar pengembangan olahraga tidak berhenti pada pembinaan atlet, tetapi juga diikuti penyediaan infrastruktur yang memadai.
Stadion yang memenuhi standar nantinya tidak hanya berpotensi mendukung penyelenggaraan pertandingan nasional, tetapi juga menjadi fasilitas penting bagi pembinaan atlet, kompetisi lokal, dan perkembangan sepak bola di Kabupaten Ngada.
Jika kesempatan menjadi tuan rumah dapat diwujudkan, masyarakat Flores juga berpeluang menyaksikan langsung pertandingan sepak bola putri tingkat nasional. Hal ini diharapkan dapat mendorong minat generasi muda terhadap olahraga sekaligus memperkuat ekosistem sepak bola daerah.
Flores Berpeluang Gelar Sejumlah Cabang Olahraga PON 2028
Peninjauan KONI Pusat di sejumlah wilayah NTT merupakan bagian dari penjajakan kesiapan fasilitas olahraga untuk mendukung penyelenggaraan PON XXII/2028 bersama Provinsi NTB.
Selain sepak bola putri yang diusulkan berlangsung di Kabupaten Ngada, Ende, atau Manggarai Barat, sejumlah cabang olahraga lain juga berpeluang diselenggarakan di daratan Flores.
Cabang olahraga arung jeram berpeluang digelar di Kabupaten Ende, sedangkan paramotor diusulkan berlangsung di Kabupaten Nagekeo.
Rencana tersebut membuka kesempatan bagi daerah-daerah di Flores untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan ajang olahraga nasional sekaligus memperkenalkan potensi wilayah masing-masing.
Bagi Ngada, peluang ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan kesiapan daerah dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Namun, peluang tersebut juga menuntut komitmen nyata dalam pembenahan fasilitas, dukungan anggaran, dan pemenuhan standar teknis.
Peluang Terbuka, Stadion Lebijaga Menjadi Pekerjaan Rumah
Peninjauan KONI Pusat menjadi langkah awal bagi Kabupaten Ngada untuk memperjuangkan posisi sebagai salah satu tuan rumah sepak bola putri PON XXII/2028.
Akan tetapi, hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa Stadion Lebijaga masih membutuhkan pembenahan. Artinya, pemerintah daerah perlu menindaklanjuti catatan tersebut dengan langkah konkret agar peluang yang ada tidak berhenti sebatas wacana.
Koordinasi dengan KONI, pemenuhan kebutuhan teknis, serta perencanaan pembangunan dan peningkatan fasilitas akan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan stadion tersebut.
PON 2028 bukan hanya tentang menjadi tuan rumah pertandingan. Lebih dari itu, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur olahraga yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan atlet di Kabupaten Ngada.
Kini, tantangannya bukan sekadar membuka peluang, melainkan membuktikan kesiapan. Stadion Lebijaga harus berbenah jika Ngada ingin menjadi bagian dari panggung olahraga nasional pada 2028.*










