Chaos di Australia Demo Tolak Kunjungan Presiden Israel

Avatar photo

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sydney, Metrosiar – Bentrokan antara aparat keamanan dan massa demonstran yang menentang kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, ke Australia memicu kekhawatiran pemerintah setempat. Para pemimpin pada Selasa (10/2/2026) menyerukan agar ketegangan segera mereda dan seluruh pihak menahan diri setelah kerusuhan pecah di pusat kota Sydney.

Kericuhan terjadi pada Senin (9/2/2026) malam saat polisi berupaya membubarkan ribuan demonstran yang berkumpul di sekitar balai kota. Kepolisian negara bagian New South Wales menyatakan sedikitnya 27 orang ditangkap, termasuk 10 orang yang diduga melakukan penyerangan terhadap petugas.

Sejumlah peserta aksi, termasuk seorang anggota parlemen oposisi, mengklaim mengalami kekerasan fisik oleh aparat. Namun, pihak kepolisian menegaskan tidak ada laporan korban luka serius.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengaku sangat terpukul atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa aksi protes seharusnya berlangsung damai.

“Warga Australia menginginkan dua hal. Mereka tidak ingin konflik dibawa ke sini. Mereka ingin pembunuhan berhenti, baik itu oleh Israel maupun Palestina, tetapi mereka tidak ingin konflik dibawa ke sini,” kata Albanese kepada stasiun radio Triple M, sebagaimana dikutip The Guardian.

“Tujuan-tujuan tersebut tidak tercapai oleh tindakan-tindakan semacam ini, malah dilemahkan,” tambahnya.

kewenangan khusus

Baca juga:  Pesan Kasat Binmas Ini Bikin Calon Bhayangkara Cilegon Makin Siap Diklatsar

Aksi protes di Sydney berlangsung di tengah situasi sensitif, menyusul insiden penembakan massal di acara keagamaan Yahudi di Bondi Beach pada Desember lalu yang menewaskan 15 orang. Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes kunjungan Herzog, meski presiden Israel itu tidak berada di lokasi demonstrasi.

Sebelumnya, polisi telah diberikan kewenangan khusus yang jarang digunakan, termasuk mengatur pergerakan massa, membatasi akses ke area tertentu, hingga melakukan pemeriksaan kendaraan.

Upaya hukum untuk menantang kebijakan tersebut sempat diajukan, namun ditolak oleh pengadilan Sydney pada Senin.

Rekaman televisi memperlihatkan sejumlah demonstran berusaha menerobos barikade, sementara petugas mendorong mereka mundur. Beberapa orang terlihat terjatuh ketika polisi berupaya mengendalikan massa. Aparat juga menggunakan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan.

Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, membela tindakan kepolisian. Ia menyatakan petugas harus mengambil keputusan cepat dalam situasi yang tegang dan tidak menentu.

“Saya mengerti ada kritik terhadap Kepolisian New South Wales, saya hanya ingin memperjelas bahwa mereka terjebak dalam situasi yang mustahil,” ujarnya dalam konferensi pers.

kekerasan aparat

Di sisi lain, kelompok penyelenggara aksi, Palestine Action Group Sydney, menuduh polisi bertindak represif. Dalam pernyataannya, mereka menyebut demonstran tidak dapat meninggalkan lokasi karena dikepung aparat dari berbagai sisi.

Baca juga:  Detik-Detik Driver Ojol Ditabrak 2 Mobil di Depan RS Bethsaida

“Polisi mulai menyerbu kerumunan dengan kuda, menyemprotkan semprotan merica tanpa pandang bulu ke arah kerumunan, memukuli, dan menangkap orang-orang,” kata kelompok tersebut.

Abigail Boyd, anggota parlemen oposisi dari Partai Hijau di parlemen negara bagian, mengaku menjadi salah satu korban tindakan aparat saat mencoba meninggalkan lokasi unjuk rasa.

“Lengan dan bahu saya sangat sakit karena dipukul. Saya benar-benar terkejut,” katanya kepada wartawan.

Namun, Komisaris Kepolisian New South Wales, Mal Lanyon, menegaskan langkah aparat sudah sesuai prosedur dan dilakukan dengan menahan diri.

“Polisi melakukan apa yang perlu mereka lakukan, yaitu menjaga garis pertahanan dan kemudian membentuk barisan serta mendorong para demonstran mundur dengan tujuan membubarkan mereka,” ujarnya.

“Situasi di mana massa yang marah dan melakukan kekerasan berbaris menuju polisi bukanlah situasi yang saya inginkan bagi petugas kita,” tambahnya.

Sementara itu, Josh Lees, pimpinan Palestine Action Group Sydney, menyatakan pihaknya akan kembali menggelar aksi pada Selasa malam waktu setempat. Mereka berencana berkumpul di depan markas besar kepolisian Sydney sebagai bentuk protes terhadap tindakan aparat pada malam sebelumnya.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat
Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci
Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk
Kacau di Terminal Ajyad! Jamaah Haji Saling Dorong demi Naik Bus Sholawat
Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku
Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Awas! Share Video Serangan di Saudi Bisa Dipidana
Haji 2026 Tetap Jalan di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Jaminan Saudi
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:19 WIB

Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:35 WIB

Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:05 WIB

Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:26 WIB

Kacau di Terminal Ajyad! Jamaah Haji Saling Dorong demi Naik Bus Sholawat

Minggu, 26 April 2026 - 15:44 WIB

Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku

Berita Terbaru

Sosial Kemasyarakatan

Damkar Unit Mauk dan RedKar Evakuasi Sarang Tawon di SD 3 Kemiri Tangerang

Senin, 25 Mei 2026 - 21:14 WIB