Metrosiar – Kelas pekerja menengah bawah di Indonesia menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hanya mengandalkan pendapatan yang sering kali setara Upah Minimum Provinsi (UMP), banyak yang kesulitan mengimbangi kenaikan biaya hidup yang terus menerjang.
Sebagai contoh, UMP DKI Jakarta pada 2024 mencapai Rp5,07 juta. Tetapi, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata konsumsi rumah tangga di Jakarta pada 2022 mencapai Rp14,88 juta per bulan.
Ini menunjukkan bahwa meskipun ada dua anggota keluarga yang bekerja dengan gaji UMP, total pendapatan mereka masih jauh dari cukup untuk menutupi biaya hidup rata-rata di ibu kota.
Kenaikan harga kebutuhan pokok memperparah situasi ini. Inflasi yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik dan perang dagang, menyebabkan harga pangan melonjak.
Akibatnya, sebagian besar pendapatan pekerja habis untuk memenuhi kebutuhan dasar, tanpa sisa untuk tabungan atau investasi masa depan.
Menanggapi kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto pada November 2024 mengumumkan kenaikan rata-rata upah minimum nasional sebesar 6,5% untuk tahun 2025.
Beliau menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan buruh, menyatakan bahwa “kesejahteraan buruh adalah sesuatu yang sangat penting. Kita akan berjuang terus perbaikan kesejahteraan mereka”.
Namun, menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), kenaikan upah minimum sebesar 6,5% masih terlalu rendah untuk mendorong konsumsi rumah tangga.
Ia menekankan perlunya kebijakan komprehensif yang mencakup pengendalian harga kebutuhan pokok dan penyediaan perumahan terjangkau bagi pekerja.
Selain itu, pemerintahan Prabowo-Gibran juga memperkenalkan program bantuan sosial, seperti pemberian makanan bergizi gratis untuk anak-anak dan ibu hamil, dengan alokasi Rp10.000 per hari per individu.
Program ini diharapkan dapat meringankan beban pengeluaran keluarga pekerja.
Meskipun ada upaya dari pemerintah, banyak pekerja tetap merasa pesimis tentang masa depan mereka.
Kenaikan harga rumah yang tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau.
Ditambah dengan ketidakpastian ekonomi global akibat krisis dan perang dagang, rasa ketidakpastian semakin meningkat.
Untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik, diperlukan sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan.
Selain itu, stabilitas ekonomi dan politik global juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)
Editor : Konrad









