Bajawa.Metrosiar- Pemerintah Kabupaten Ngada mulai memperkuat layanan anak usia dini secara terpadu. Melalui Program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), Pemda Ngada mendorong seluruh sektor terkait tidak lagi bekerja sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan anak.
Langkah tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas PAUD HI Kabupaten Ngada Tahun 2026 yang digelar di Aula Setda Ngada, Senin (14/9/2026).
Rakor dibuka Asisten Administrasi Setda Ngada yang mewakili Bupati Ngada dan dihadiri unsur perangkat daerah, Satuan Tugas PAUD HI, tenaga pendidik serta pemangku kepentingan terkait.
Forum tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan PAUD HI sekaligus memetakan berbagai kendala yang masih ditemukan di lapangan.
Pemkab Ngada menegaskan, PAUD HI tidak boleh dipahami sebatas program pendidikan. Layanan anak usia dini harus mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan hingga kesejahteraan anak dalam satu sistem yang saling terhubung.

Dalam sambutan Bupati Ngada yang disampaikan Asisten Administrasi, ditegaskan bahwa keberhasilan PAUD HI membutuhkan keterlibatan lintas sektor.
Tidak cukup hanya mengandalkan satu perangkat daerah. Setiap sektor harus memiliki peran yang jelas dan saling terhubung agar kebutuhan esensial anak dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Bupati juga menekankan pentingnya menjadikan delapan indikator PAUD HI sebagai instrumen untuk mengukur kualitas layanan anak usia dini di Kabupaten Ngada.
Data dan hasil evaluasi harus menjadi pijakan dalam menentukan intervensi, memperbaiki kekurangan serta memastikan setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan anak dan keluarga.
Penguatan mekanisme rujukan di satuan PAUD juga menjadi perhatian. Ketika ditemukan persoalan kesehatan, gizi, perlindungan maupun kondisi sosial anak, satuan PAUD harus memiliki jalur rujukan yang jelas kepada sektor terkait.
Dengan pola tersebut, satuan PAUD tidak hanya menjadi tempat anak belajar, tetapi juga menjadi pintu awal dalam memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak mendapat perhatian secara menyeluruh.
Bupati meminta sinergi lintas sektor yang telah dibangun tidak berhenti sebatas rapat dan dokumen perencanaan.
Kolaborasi harus diwujudkan melalui pembagian tugas yang jelas, program yang terukur, pelaksanaan nyata serta evaluasi secara berkala.
Satu PAUD Jadi Role Model
Sementara itu, Bunda PAUD Kabupaten Ngada, Ny. Blandina Mamo, mendorong agar penguatan PAUD HI segera diterjemahkan dalam langkah konkret.
Salah satu gagasan yang didorong adalah menetapkan satu satuan PAUD sebagai role model atau PAUD percontohan pelaksanaan PAUD HI di Kabupaten Ngada.
Menurut Blandina, selama ini pelayanan terhadap anak masih menghadapi persoalan karena program dari berbagai sektor belum sepenuhnya terkoneksi.

“Kita lakukan masih terputus-putus, belum terkoneksi dengan baik. Hari ini kita sudah mengerucut pada PAUD Holistik Integratif, sehingga harus bersinergi dengan semua OPD,” ujarnya.
Blandina menilai, penerapan PAUD HI secara optimal dapat menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menangani berbagai persoalan anak sejak usia dini, termasuk persoalan stunting.
Lebih dari itu, PAUD HI juga menjadi ruang penting untuk memperkuat pemahaman orang tua mengenai pola pengasuhan dan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Ia menjelaskan, anak usia 1–6 tahun membutuhkan lebih dari sekadar layanan pendidikan. Mereka membutuhkan dukungan kesehatan, kecukupan gizi, pengasuhan yang baik, perlindungan serta pemenuhan kebutuhan kesejahteraan lainnya.
Karena itu, keterhubungan antar-OPD menjadi kunci agar pelayanan kepada anak tidak berjalan secara parsial.

Penetapan satu PAUD sebagai role model diharapkan menjadi langkah awal untuk menghadirkan praktik pelayanan PAUD HI yang benar-benar terintegrasi.
PAUD percontohan tersebut nantinya diharapkan dapat menunjukkan praktik-praktik baik yang kemudian bisa direplikasi dan dikembangkan pada satuan PAUD lainnya di Kabupaten Ngada.
Dengan demikian, target Pemkab Ngada bukan sekadar memiliki satu PAUD unggulan, tetapi membangun standar pelayanan PAUD HI yang dapat menjadi rujukan bagi satuan PAUD lainnya.
Melalui rakor tersebut, Pemkab Ngada berharap komitmen dan koordinasi lintas sektor semakin kuat. Seluruh OPD dan pemangku kepentingan didorong bergerak dalam satu arah agar kebutuhan anak usia dini dapat dipenuhi secara lebih tepat, menyeluruh dan berkelanjutan.
Sebab, investasi terbesar pembangunan Ngada tidak hanya dimulai dari ruang kelas, tetapi juga dari bagaimana pemerintah, keluarga dan seluruh sektor memastikan anak-anak tumbuh sehat, terlindungi dan mendapatkan kesempatan berkembang secara optimal sejak usia dini.*










