Mengenal Cesium-137 Radioaktif Yang Ditemujan Di Serang Cikande Banten

Avatar photo

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Metrosiar — Material radioaktif Cesium-137 (Cs-137) ditemukan di kawasan industri di Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Paparan radioaktif itu mulanya diketahui usai penolakan produk udang beku Indonesia oleh otoritas Amerika Serikat di sejumlah pelabuhan besar, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami.
Hasil pemeriksaan pihak Food and Drug Administration (FDA) serta Bea Cukai AS mendeteksi kandungan radiasi pada kontainer udang pada Agustus 2025, sehingga memicu respons cepat pemerintah Indonesia.

Lihat Juga :

Fakta-fakta Pencemaran Radioaktif Cs-137 di Cikande Serang
ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investigasi berlanjut hingga ke dalam negeri. Hasil penelusuran membawa tim gabungan ke Kawasan Industri Modern Cikande. Di tempat pengumpulan logam bekas, ditemukan material yang positif mengandung Cs-137.

Penemuan ini menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa sumber paparan radiasi bukan berasal dari tambak atau laut, melainkan berakar pada aktivitas industri logam di daratan.

Apa itu Cesium-137?
Melansir laman Britannica, Cesium adalah unsur kimia golongan logam alkali yang pertama kali ditemukan pada 1860 oleh ilmuwan Jerman Robert Bunsen dan Gustav Kirchoff. Nama ‘cesium’ berasal dari bahasa Latin ‘caesius’ yang berarti ‘biru langit’, karena garis spektrum biru yang unik ketika unsur ini diamati secara spektroskopi.

Dalam bentuk alaminya, cesium adalah logam berwarna perak keemasan, sangat reaktif, dan meleleh pada suhu hanya 28,4 derajat Celcius, hampir setara suhu ruangan.

Unsur ini banyak digunakan di bidang industri, mulai dari pembuatan sel fotolistrik, tabung hampa udara, hingga jam atom super akurat yang menjadi standar pengukuran waktu dunia.

Namun, dalam temuan di Cikande ini bukan cesium stabil, melainkan cesium radioaktif seperti Cesium-137. Isotop ini terbentuk dari reaksi fisik nuklir, misalnya saat ledakan bom atom atau kecelakaan reaktor nuklir seperti Chernobyl dan Fukushima.

Isotop ini memancarkan radiasi beta dan gamma, dan digunakan dalam pengobatan medis serta alat ukur industri, namun dapat berbahaya jika tertelan, karena menumpuk di jaringan lunak.

Lihat Juga :

Menteri LH: Cemaran Radioaktif Cikande dari Reaktor Nuklir Luar Negeri
Bahaya Cesium-137
Cs-137 biasanya ditemukan dalam bentuk serbuk kristal karena mudah bereaksi dengan klorida. Zat ini bukan hal baru dalam lingkungan, karena jejak Cs-137 masih tersisa dari uji coba senjata nuklir yang dilakukan pada era 1950 hingga 1960-an.

Meski begitu, paparan dalam jumlah kecil sehari-hari umumnya tidak membahayakan kesehatan.
Namun, Cs-137 menjadi sangat berbahaya jika berada dalam jumlah besar dan bentuk terkonsentrasi, seperti yang digunakan dalam alat terapi radiasi atau pengukur industri.

Alat-alat ini dirancang dengan lapisan pelindung agar zat radioaktif tidak menyebar. Jika tabung pelindungnya rusak atau dibuka, secara sengaja maupun tidak, Cs-137 di dalamnya bisa tersebar ke lingkungan dan menimbulkan ancaman serius.

Paparan eksternal terhadap Cs-137 dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan luka bakar, penyakit radiasi akut, bahkan kematian. Lebih lanjut, Cs-137 memancarkan radiasi gamma berenergi tinggi yang bisa meningkatkan risiko kanker.

Jika masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan atau makanan, zat ini akan menyebar ke jaringan lunak, terutama otot, dan terus memancarkan radiasi dari dalam tubuh, yang juga berpotensi menyebabkan kanker dalam jangka panjang.

(dmi/dmi)



Baca juga:  Kapolsek Mauk Terjun Langsung Monitoring Titik Banjir di Kecamatan Kemiri
Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Gelap Menuju Terang, Takatunga 1 Menyala: Bupati Ngada Resmikan Listrik Desa, Bangun Poskesdes dan Pastikan Pembangunan Menjangkau Pelosok
Terbongkar! Modus “Sedot Tangki” BBM Subsidi di Hutan Wolobobo Berakhir, Polres Ngada Sita 670 Liter Pertalite
158 Mahasiswa GENTASKIN Diterjunkan ke Desa-Desa Ngada, Wabup Berni Dhey: Jangan Pulang Hanya Membawa Laporan, Tinggalkan Warisan Perubahan
Di Tengah Gempuran Zaman, Dadawea Menolak Lupa: Ka Sao Weti Wali Menjadi Benteng Terakhir Warisan Leluhur Ngada
Pendidikan Menembus Pelosok! Wabup Ngada Resmikan SMPS Matago Christian College, Sekolah Berasrama Buka Harapan Baru bagi Anak Desa
Di Balik Penghargaan Nugraha Sakanti, Kapolda Banten Apresiasi Dedikasi Seluruh Personel
Polda Banten Edukasi Bahaya Balap Liar Demi Keselamatan Bersama.
Ratusan Mahasiswa KKN “Serbu” Desa-Desa Ngada, Bupati dan Wabup Perkuat Kolaborasi Kampus untuk Akselerasi Pembangunan Berbasis Masyarakat
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:32 WIB

Dari Gelap Menuju Terang, Takatunga 1 Menyala: Bupati Ngada Resmikan Listrik Desa, Bangun Poskesdes dan Pastikan Pembangunan Menjangkau Pelosok

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:15 WIB

Terbongkar! Modus “Sedot Tangki” BBM Subsidi di Hutan Wolobobo Berakhir, Polres Ngada Sita 670 Liter Pertalite

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:48 WIB

Di Tengah Gempuran Zaman, Dadawea Menolak Lupa: Ka Sao Weti Wali Menjadi Benteng Terakhir Warisan Leluhur Ngada

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:28 WIB

Pendidikan Menembus Pelosok! Wabup Ngada Resmikan SMPS Matago Christian College, Sekolah Berasrama Buka Harapan Baru bagi Anak Desa

Selasa, 7 Juli 2026 - 07:57 WIB

Di Balik Penghargaan Nugraha Sakanti, Kapolda Banten Apresiasi Dedikasi Seluruh Personel

Berita Terbaru

Internasional

Israel Ditantang Turki, Segini Teknologi Perangnya

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:47 WIB