Metrosiar – Keputusan mengejutkan datang dari politikus muda Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang mendadak mengundurkan diri dari kursi DPR RI. Alih-alih menuai simpati, langkah ini justru memicu gelombang kemarahan publik, terutama masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta III yang merasa dikhianati oleh keputusan tersebut.
Suara kekecewaan menggema dari berbagai kalangan. Tokoh masyarakat, aktivis pemuda, hingga warga akar rumput menilai keputusan mundurnya Saraswati sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
“Kami memilih beliau bukan hanya karena nama besarnya, tetapi karena kerja nyata yang sudah terbukti. Mundur begitu saja jelas mencederai demokrasi!” tegas Ramadhan, tokoh pemuda Jakarta III.
Diduga Karena Tekanan Politik?
Sejumlah warga menduga kuat bahwa pengunduran diri Rahayu bukanlah keputusan pribadi semata, melainkan didorong oleh tekanan politik dari pihak tertentu. Mereka menilai langkah tersebut tergesa-gesa dan sarat kepentingan.
“Bu Saras sering turun ke lapangan, mendengar aspirasi, dan hadir langsung untuk rakyat. Sosok seperti ini sulit dicari penggantinya. Kalau ia mundur karena tekanan, ini jelas kejahatan moral politik!” ungkap Aisyah, seorang ibu rumah tangga yang pernah mendapat bantuan program UMKM dari Saraswati.
Warga Jakarta III Menolak Keras
Kemarahan warga semakin membara. Mereka menolak keras keputusan mundur Saraswati dan menyerukan gerakan moral melawan pengkhianatan politik.
“Kami tidak butuh politisi musiman yang hanya muncul saat kampanye. Bu Saras adalah wakil rakyat yang konsisten bekerja. Mundurnya beliau sama saja merampas suara rakyat!” ujar Rifqi, aktivis pemuda lokal.
Masyarakat bahkan berencana mengirim surat terbuka kepada Rahayu Saraswati dan partai pengusungnya. Tak hanya itu, mereka juga siap menggalang dukungan besar-besaran di media sosial dengan tagar-tagar panas agar suara mereka terdengar sampai ke Senayan.
Rakyat Bertanya: Untuk Siapa DPR Bekerja?
Fenomena mundurnya Rahayu Saraswati menimbulkan pertanyaan serius: apakah kursi DPR hanya mainan politik elite? Publik menegaskan bahwa jabatan legislatif bukan sekadar hak pribadi, melainkan amanah rakyat yang harus dijaga.
Kini, masyarakat Dapil Jakarta III tengah menunggu keberanian Rahayu Saraswati untuk membatalkan keputusannya dan tetap berada di garda perjuangan rakyat.
“Jika beliau benar-benar berintegritas, maka jangan mundur. Amanah rakyat itu suci, tidak bisa ditukar dengan kepentingan politik apapun!” tutup Ramadhan lantang.*









