Tangerang, Metrosiar – Meskipun siswa mungkin tidak berperilaku baik, setiap guru perlu “belajar bersyukur” kepada mereka. Inilah pesan yang disampaikan oleh Bapak Nguyen Quang Hung, Kepala Sekolah SMA Phan Chau Trinh (Kota Da Nang), kepada para guru di sekolah tersebut.
Sebagai guru, setiap kali kita mengambil alih sebuah kelas untuk diajar, kita selalu memiliki perasaan campur aduk: sedikit kegembiraan, sedikit kecemasan, dan bahkan beberapa kekhawatiran.
Kami berharap dapat bertemu dengan banyak siswa yang berperilaku baik dan berprestasi secara akademis; kami prihatin ketika kelas memiliki beberapa siswa yang keras kepala yang belum mengalami kemajuan dan tidak aktif terlibat; dan kami juga merasa terbebani ketika melihat “sejarah” kelas dari tahun-tahun sebelumnya.
Pola pikir tersebut sangat wajar bagi mereka yang berprofesi sebagai guru; dan para guru di SMA Phan Chau Trinh (Kota Da Nang ) tidak terkecuali.
Ketika kita menghadapi siswa yang berperilaku buruk, kita semua memiliki alasan yang sangat meyakinkan, mengklaim bahwa kita telah mengingatkan mereka, berbicara dengan mereka, dan mencoba segalanya, tetapi siswa tersebut masih belum menunjukkan perubahan positif (kebanyakan menyalahkan orang lain).
Namun kemudian, ketika keadaan sedikit tenang, kita menyadari bahwa terkadang murid-murid yang “nakal” itu adalah “guru istimewa” dalam hidup kita.
Pelajaran tentang kesabaran
Siswa yang berperilaku baik memberi kita kegembiraan dan kebanggaan; sementara siswa yang nakal mengajarkan kita kesabaran.
Siswa yang berperilaku baik membuat pekerjaan terasa lebih mudah, sementara siswa yang nakal memaksa kita untuk berkembang dalam profesi ini.
Para siswalah yang mengajari kita untuk menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara, untuk lebih banyak mendengarkan, dan untuk memahami bahwa di balik setiap perilaku yang tidak pantas terdapat kebutuhan yang belum terpenuhi. Terkadang kita harus keluar dari kelas selama beberapa menit, minum air, memandang langit, menenangkan diri, lalu kembali melanjutkan pengajaran.
Dengan demikian, mereka tidak hanya mengajarkan kita kesabaran, tetapi juga memaksa kita untuk mengubah metode kita.
Kita perlu berbicara lebih perlahan, lebih lembut. Kita perlu mencoba lebih banyak pendekatan. Tatapan yang memberi semangat, pujian yang tepat waktu, sentuhan tangan yang sangat ringan…
Para siswa yang nakal inilah yang mengajari kita bahwa menjadi seorang guru tidak dapat dicapai dengan satu rumus tunggal, tetapi harus dilakukan dengan kelenturan hati.
Tanpa dirimu, mungkin aku tidak akan menyadari keterbatasanku, mengetahui di mana amarahku masih meluap, atau keterampilan apa yang kurang untuk kutingkatkan. Berkat dirimu, aku belajar, berubah, dan menjadi lebih dewasa setiap hari.
Siswa yang nakal ‘membangkitkan versi diri mereka yang lebih baik’.
Kau tidak datang ke sini untuk mempersulitku. Kau datang untuk membangkitkan dalam diriku versi guru yang lebih baik yang mungkin tidak akan pernah kusadari jika aku tidak menghadapinya.
Ada kalanya kita merasa tak berdaya, tetapi justru ketidakberdayaan inilah yang mengajarkan kita kerendahan hati. Kita memahami bahwa guru tidak ada di sana untuk “membentuk” siswa sesuai keinginan mereka sendiri, melainkan untuk membimbing mereka di jalan mereka sendiri untuk menemukan jalan yang tepat.
Ketika kita bersikap kurang otoriter, anak-anak akan lebih terbuka. Ketika kita tidak terlalu tidak sabar, mereka akan berkembang sedikit demi sedikit.
Pendidikan bukanlah tentang mencapai hasil yang cepat, tetapi tentang mendampingi benih cukup lama agar ia memiliki waktu untuk tumbuh sendiri. Berkat para siswa ini, kita belajar bagaimana mencintai tanpa syarat, bagaimana mempercayai, dan bagaimana menunggu.
Setiap siswa adalah individu yang unik, dan setiap jiwa membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dari sini, kita menyadari bahwa profesi mengajar bukan hanya tentang menabur benih di hati dan pikiran siswa, tetapi juga sebuah perjalanan untuk menyempurnakan karakter dan jiwa guru.
Pandanglah mereka dengan mata penuh pengertian, bukan dengan penghakiman.
Di balik perilaku buruk seorang siswa seringkali tersembunyi kisah yang tak terdengar: bisa jadi keluarga yang lalai, masa kecil yang traumatis, atau sekadar seorang anak yang mendambakan kebersamaan dan pengakuan.
Ketika kita memandang anak-anak dengan pengertian, bukan dengan penghakiman, kita akan melihat bahwa mereka bukanlah “sulit diajar,” tetapi hanya “membutuhkan lebih banyak kasih sayang.” Karena kasih sayang itulah kunci untuk membuka pintu hati mereka.
Be
Jika ada siswa yang berperilaku buruk di kelas Anda, katakan pada diri sendiri: terima kasih, karena berkat kalian, kami telah belajar pelajaran lain tentang cinta. Siswa yang paling membuat kita lelah seringkali adalah siswa yang memiliki karakter paling kuat, paling setia, dan yang membawa kebahagiaan paling besar bagi kita.
Jika semua siswa berperilaku baik dan berbakat secara akademis, mungkin mengajar akan menjadi profesi yang sangat mudah dan menyenangkan, tetapi juga akan kurang menarik. Mungkin justru siswa-siswa yang ceroboh dan membuat kesalahan itulah yang membuat pekerjaan kita lebih bermakna?
Karena ketika seorang siswa yang nakal berubah, meskipun hanya sedikit, kegembiraannya jauh lebih besar daripada nilai atau prestasi. Itulah saat kita tahu bahwa kita benar-benar terhubung dengan seseorang. Dan saat itulah kita juga memahami mengapa kita memilih untuk tetap berada di profesi ini.
Mengajar adalah profesi yang mengubah orang. Mengajar anak-anak membutuhkan pengetahuan, tetapi mengajar manusia membutuhkan hati dan kecerdasan. Setelah memilih profesi mengajar, jalani dengan sepenuh hati: dengan cinta terhadap profesi, dengan kesabaran, dengan kebanggaan, dan dengan keinginan yang membara untuk menjadi guru yang baik. Dan pada akhirnya, profesi ini berharga bukan karena mudah, tetapi karena layak dihormati.
Karena terkadang, cahaya terindah dari sebuah profesi tidak datang dari siswa terbaik, tetapi dari mereka yang memberi kita paling banyak kesulitan. Merekalah yang mengajari kita bagaimana menjadi seorang guru – dengan akal dan hati.









