Idul Adha: Satu Tujuan Cinta, Banyak Jalan Menuju-Nya 

Avatar photo

Minggu, 8 Juni 2025 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Metrosiar – Saat dunia kian bising oleh hiruk-pikuk ambisi dan materialisme, Idul Adha datang bukan sekadar hari raya. Ia adalah panggilan sunyi yang menggugah nurani manusia untuk kembali menata hati—menuju ketulusan niat, kelapangan memberi, dan cinta murni hanya untuk Allah ﷻ.

 

Idul Adha adalah momentum spiritual yang mengingatkan kita: setiap jiwa memiliki jalannya masing-masing untuk mendekat kepada Sang Pencipta, namun cinta sejati hanya satu arah—menuju-Nya.

 

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-An‘ām [6]: 162)

 

Menyembelih Bukan Sekadar Hewan, Tapi Nafsu yang Membelenggu

Qurban bukan hanya ritual fisik, tetapi bentuk penyucian jiwa. Segala hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah—entah itu kesombongan, ambisi pribadi, atau kecintaan duniawi berlebihan—adalah penghalang yang harus “disembelih”.

Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alayhissalām rela “mengorbankan” putranya demi menjalankan perintah Ilahi, begitu pula setiap insan diminta melepas ego dan menyerahkan diri secara total kepada kehendak-Nya.

 

“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung.”

(QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 107)

 

Menurut para sufi seperti Ibn ‘Arabī, qurban berarti melepaskan diri dari segala milik selain Allah. Ini adalah proses batin menuju fanā’, lenyapnya ego dalam lautan kehendak Tuhan.

 

Kepada Siapa Cinta Tertinggi Seharusnya Dituju?

Dalam Islam, cinta sejati hanyalah untuk Allah ﷻ, yang dalam Asmā’ul Ḥusnā dikenal sebagai al-Wadūd—Yang Maha Pengasih. Namun, cinta kepada-Nya tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Sebab manusia adalah ciptaan-Nya, dan mencintai ciptaan adalah bentuk nyata mencintai Sang Pencipta.

Baca juga:  Pricelist Hewan Kurban dan Akikah: Pilihan Terbaik untuk Ibadah Anda

 

“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Allah harus tercermin dalam aksi nyata: peduli, memberi, dan mengasihi sesama.

 

Tangga Spiritual Menuju Cinta Ilahi

Ulama tasawuf membagi perjalanan cinta kepada Allah dalam empat tahapan:

Syariat – Taat pada perintah lahiriah sebagai pondasi iman.

Tarekat – Melatih batin melalui dzikir, doa, dan pengendalian diri.

Hakikat – Memahami esensi di balik setiap amal.

Makrifat – Merasakan kehadiran-Nya dalam setiap denyut kehidupan.

 

“Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika tidak, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

(HR. Muslim)

 

Di puncak perjalanan ini, cinta menjadi nafas kehidupan: tak terucap tapi terasa, tak terlihat tapi menggerakkan.

 

Simbol Totalitas Penyerahan Diri

Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar dongeng klasik. Ia adalah simbol dari ketulusan yang paripurna. Dalam konteks maqāṣid al-syarī‘ah—tujuan syariat Islam—ritual qurban menjadi jembatan antara dimensi hukum dan makna batin.

 

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

(QS. Al-Ḥajj [22]: 37)

Baca juga:  Ancaman Kepunahan: Bagaimana Perburuan, Perubahan Habitat, dan Iklim Mengancam Satwa Liar

Itulah esensi qurban: melepaskan keakuan dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang ikhlas.

 

Penjaga Kehidupan, Bukan Penghalang Kebebasan

Islam tidak datang membawa beban, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai luhur kemanusiaan. Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, hukum Islam bertujuan untuk:

  • Menjaga agama (Ḥifẓ al-Dīn) – agar arah hidup tetap lurus.
  • Menjaga jiwa (Ḥifẓ al-Nafs) – agar manusia hidup dalam kedamaian.
  • Menjaga akal (Ḥifẓ al-‘Aql) – agar ilmu dan kebijaksanaan tumbuh.
  • Menjaga harta (Ḥifẓ al-Māl) – agar harta menjadi amanah, bukan penguasa.
  • Menjaga keturunan (Ḥifẓ al-Nasl) – agar generasi masa depan bermartabat.

Syariat adalah cahaya yang membimbing, bukan rantai yang membelenggu.

 

Idul Adha, Saatnya Menyatu dalam Cinta-Nya

Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga menyucikan diri. Ia adalah momen untuk memperbaharui cinta: bukan kepada dunia, tapi kepada Dia yang menciptakannya.

Semoga setiap darah yang tertumpah membawa kita lebih dekat kepada ridha-Nya.

Semoga setiap daging yang dibagi memperkuat simpul persaudaraan.

Dan semoga setiap niat yang ditata menjadi awal dari perjalanan panjang menuju cinta yang abadi: cinta kepada Allah ﷻ.

 

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Taqabbalallāhu minnā wa minkum.

 

Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Mari menyembelih ego, dan menyatukan hati hanya kepada-Nya.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?
Banten Never Changes !
Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”
Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja
Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina
Diduga Langgar HAM, Tim Seleksi Pegawai Non-ASN Dinkes Kota Tangerang Disorot
Presiden RI Prabowo Subianto Tetapkan Bahasa Portugis Diajarkan Di Sekolah Sekolah Indonesia Menlu Ungkap Alasannya.
Fahri Hamzah Jadi Alasan Hikmatullah Bergabung ke Partai Gelora Indonesia
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:21 WIB

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:24 WIB

Banten Never Changes !

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:07 WIB

Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”

Minggu, 9 November 2025 - 15:20 WIB

Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja

Sabtu, 1 November 2025 - 14:34 WIB

Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina

Berita Terbaru