Antara Air Mata di Sajadah dan Kejujuran di Pengadilan: Dua Jalan Menuju Ampunan

Avatar photo

Rabu, 2 Juli 2025 - 12:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Metrosiar – Air mata yang jatuh di atas sajadah memang terasa lembut. Mengalir hangat dalam hening malam, serasa dekat dengan langit. Namun, dalam beberapa kasus—tangisan saja tak cukup.

Bukan karena Tuhan enggan mengampuni. Bukan pula karena doa tak sampai. Tapi karena ada satu pintu yang mesti dibuka lebih dulu: kejujuran di hadapan manusia.

Kita hidup di era yang menuntut keterbukaan dan keadilan, tak hanya dalam sistem hukum negara, tapi juga dalam kehidupan sosial. Kesalahan yang berkaitan dengan sesama manusia tidak bisa diselesaikan hanya dengan tasbih dan istighfar.

Karena ketika ada hak orang lain yang dilanggar, maka menangis di sepertiga malam bukanlah ganti dari mengembalikan hak itu.

“Tebusan orang yang membunuh bukan dengan shalat, tapi dengan membayar diyat kepada keluarganya, kecuali jika mereka memaafkan.”

Tangisan tidak bisa mengganti kerugian. Doa tidak serta-merta menghapus tanah yang diserobot. Dzikir tidak memulihkan luka batin orang yang dizalimi.

Baca juga:  Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja

Yang diperlukan adalah keberanian moral:

Untuk mengakui kesalahan.

Untuk mengembalikan hak.

Untuk memperbaiki kerusakan.

“Sampaikan amanah kepada yang berhak, dan jika kalian menghukum, maka berlaku adillah.”

Ini bukan tentang meremehkan kekuatan sajadah. Justru sebaliknya—ini tentang menyadarkan bahwa sajadah bukan tempat untuk bersembunyi dari tanggung jawab. Ia tempat kembali setelah kita menunaikan amanah.

Tuhan Maha Pemaaf. Tapi hak manusia, harus ditunaikan terlebih dahulu.

Maka permintaan maaf tak cukup hanya lewat status media sosial. Tidak cukup sekadar mengundang ustaz untuk acara taubat massal, lalu menghilang. Yang lebih penting adalah: hadir di hadapan mereka yang pernah kita rugikan.

“Orang yang menunda pembayaran utang padahal mampu, termasuk perbuatan zalim.”

Jika kita pernah merampas sesuatu—kembalikan.

Jika pernah melanggar hak—akui dan tebus.

Baca juga:  Coach Addie: Kriminalitas Meningkat Tajam Seiring Sempitnya Lapangan Kerja

Jika pernah menyakiti—minta maaf, dengan tindakan nyata.

Setelah semuanya diluruskan, barulah kita duduk kembali di atas sajadah. Dengan air mata yang bukan karena takut, tapi karena malu.

Itulah taubat. Bukan sekadar doa. Tapi tindakan nyata.

“Taubat adalah kembali kepada Allah, disertai penyesalan, pengakuan, dan perbaikan.”

Mari ajarkan anak-anak kita bukan hanya untuk menangis saat berdoa. Tapi juga untuk berani berkata jujur:

“Saya salah.”

“Saya siap memperbaiki.”

Di zaman ini, air mata bisa dipalsukan. Tapi kejujuran di pengadilan, keadilan sosial, dan pengembalian hak—itu tak bisa dimanipulasi.

Karena sejatinya, menegakkan keadilan adalah bagian dari keimanan.

Dan memperjuangkannya bukan hanya pilihan, tapi tanggung jawab kita bersama.

Catatan:

Tulisan ini bersifat reflektif. Jika Anda memiliki pandangan lain atau ingin berdiskusi lebih dalam, silakan konsultasikan kepada tokoh agama atau ahli yang Anda percayai.

 

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?
Banten Never Changes !
Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”
Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja
Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina
Diduga Langgar HAM, Tim Seleksi Pegawai Non-ASN Dinkes Kota Tangerang Disorot
Presiden RI Prabowo Subianto Tetapkan Bahasa Portugis Diajarkan Di Sekolah Sekolah Indonesia Menlu Ungkap Alasannya.
Fahri Hamzah Jadi Alasan Hikmatullah Bergabung ke Partai Gelora Indonesia
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:21 WIB

Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:24 WIB

Banten Never Changes !

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:07 WIB

Kaleidoskop 2025: Tahun Pergolakan Parlemen dan Gelombang Protes “Reset Indonesia”

Minggu, 9 November 2025 - 15:20 WIB

Di Mana Polisi Tidur Saat Reformasi Polri Mulai Bekerja

Sabtu, 1 November 2025 - 14:34 WIB

Krisis Jalur Gaza: Diplomasi Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina

Berita Terbaru