Timur Tengah di Ambang Ledakan Besar? Mahfuz Sidik Ungkap Lima Dampak Serius Jika Perang Berlarut

Avatar photo

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahfuz Sidik saat menyampaikan pandangannya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi dampak global yang ditimbulkannya.

Mahfuz Sidik saat menyampaikan pandangannya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi dampak global yang ditimbulkannya.

Jakarta, Metrosiar – Ketua Komisi I DPR periode 2010-2017, Mahfuz Sidik, menilai konflik antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran saat ini bukan sekadar serangan militer biasa, melainkan perang sesungguhnya di kawasan Timur Tengah.

Meski Israel dan AS menyebutnya sebagai serangan militer pencegahan (pre-emptive), sementara Iran mengklaim sebagai serangan pembalasan (retaliation), eskalasi yang terjadi menunjukkan situasi jauh lebih serius.

“Karena itu, kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pimpinan terasnya, terbukti tidak menyurutkan langkah pembalasan dari militer Iran. Bahkan sasarannya meluas ke basis militer AS di sejumlah negara Teluk,” kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Menurut Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia tersebut, Iran diyakini telah menyiapkan rencana operasi pembalasan jangka panjang, setelah dua gelombang serangan militer Israel dan Amerika Serikat tidak berhasil melumpuhkan kekuatan militernya.

“Situasi ini perlu diwaspadai. Karena ketika perang ini berlarut maka akan timbul sejumlah dampak besar dan sangat serius,” katanya.

Mahfuz Sidik menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap dampak politik, militer, dan ekonomi dunia jika perang di Timur Tengah terus berlarut.

Mahfuz memaparkan sedikitnya lima dampak yang berpotensi terjadi jika konflik terus berkepanjangan.

Baca juga:  3 Program Andalan Ivan Ahda yang Siap Ubah Nasib ILUNI UI

Pertama, kekacauan politik di kawasan Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS bisa terjebak dalam dilema saat menghadapi serangan balasan Iran. Jika Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait membentuk front bersama Israel dan AS untuk menghadapi Iran, risiko penolakan domestik dari warga masing-masing negara sangat mungkin terjadi.

“Ini berpotensi memicu kekacauan politik domestic,” ujar Mahfuz.

Kedua, hilangnya keseimbangan militer di kawasan. Jika kekuatan militer Iran berhasil dihancurkan, Israel akan muncul sebagai kekuatan militer dominan tanpa penyeimbang. Kondisi ini dikhawatirkan membuka ruang agresi lanjutan.

Serangan rudal Israel ke wilayah Qatar yang menyasar delegasi Hamas beberapa waktu lalu, dinilai bisa menjadi preseden buruk yang berulang.

“Belum lagi militer Amerika Serikat yang telah melingkari seluruh kawasan tersebut,” katanya.

Ketiga, potensi meluasnya agresi militer Israel. Selama dua tahun agresi terhadap Gaza berlangsung, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, secara terbuka menafikan konsep solusi dua negara dan menyuarakan ambisi zionis mewujudkan Israel Raya.

Jika Iran sebagai kekuatan terakhir poros perlawanan melemah, ambisi tersebut dinilai semakin mudah diwujudkan.

Baca juga:  Horor di RSHS Bandung: Dokter Residen Perkosa Pasien, DPR Murka!

“Artinya wilayah negara Libanon, Suriah, Irak, Jordania, Mesir dan Saudi Arabia akan menjadi sasaran agresi militer lanjutan pihak Israel,” tegasnya.

Keempat, ancaman krisis ekonomi global. Perang berkepanjangan berpotensi mengganggu jalur pelayaran energi dunia, terutama di Selat Hormuz dan Selat Baab el-Mandab.

Selat Hormuz menyumbang sekitar 20-30 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sementara Selat Baab el-Mandab, di jalur Laut Merah, mencakup sekitar 12 persen pasokan minyak serta 10-15 persen perdagangan maritim global.

“Perang berlarut akan sangat mengganggu rantai pasok energi dunia, dan pada gilirannya memicu krisis ekonomi dunia,” katanya.

Kelima, munculnya pola perang asimetris baru. Iran, dengan jaringan proksi dan penganut syiah yang tersebar di berbagai negara, dinilai dapat mengelola kekuatan tersebut sebagai instrumen perang asimetris untuk melawan kepentingan Israel dan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia.

Mahfuz mengingatkan, eskalasi yang terus meningkat tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang tatanan global.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun
PDIP NTT Turun Saat Rakyat Terluka oleh Gempa, Patris: Kami Ada Bersama Mereka
Revisi UU Pemilu Disorot, Gelora Dorong Prosedur Lebih Sederhana
DPR Kaji Pembentukan Lembaga Khusus Pengelola Aset Sitaan dan Rampasan Negara
13 Tindak Pidana Masuk RUU Perampasan Aset, Korupsi hingga Pertambangan Jadi Sasaran
Lurah Pakuhaji Pastikan Penyaluran Bansos Beras Lancar dan Tertib
Karhutla Kalteng Jadi Sorotan GMKI Palangka Raya Bukan Sekadar Api
Muktamar NU 2026, Harapan KH Marsudi Suhud Membawa Gagasan NU Mandiri, Cerdas, dan Merakyat
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 15:21 WIB

Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun

Minggu, 6 September 2026 - 09:57 WIB

PDIP NTT Turun Saat Rakyat Terluka oleh Gempa, Patris: Kami Ada Bersama Mereka

Selasa, 1 September 2026 - 15:02 WIB

Revisi UU Pemilu Disorot, Gelora Dorong Prosedur Lebih Sederhana

Selasa, 1 September 2026 - 13:41 WIB

DPR Kaji Pembentukan Lembaga Khusus Pengelola Aset Sitaan dan Rampasan Negara

Selasa, 1 September 2026 - 12:01 WIB

13 Tindak Pidana Masuk RUU Perampasan Aset, Korupsi hingga Pertambangan Jadi Sasaran

Berita Terbaru

Personel penyidik (kiri) bersama dua orang lainnya (tengah dan kanan) melakukan pemeriksaan terhadap barang temuan berupa jeriken dalam rangka proses penyelidikan.

Peristiwa & Bencana

Tiga Barang Temuan di Selat Sunda Dipastikan Bukan Milik KM Arupadhatu 1

Minggu, 13 Sep 2026 - 18:11 WIB

Sejumlah tokoh menghadiri pembukaan pameran seni “Bersimpuh di Kaki Para Guru” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Para pengunjung tampak mengamati karya-karya yang dipamerkan.

Nusantara

Kapolri Hadiri Pameran Nasirun, Ada Pesan untuk Para Guru

Minggu, 13 Sep 2026 - 18:07 WIB