Mahkamah Agung Menghentikan Diskriminasi Hukum Terhadap Hendra Lie, Gus Rofi : “Harusnya Korupsinya Di Usut”

Avatar photo

Selasa, 21 April 2026 - 21:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gus Rofi'i (ketua umum BKN)

Gus Rofi'i (ketua umum BKN)

Jakarta, Metrosiar – Perkembangan terbaru dalam perkara hukum yang menjerat Hendra Lie mencapai titik penting setelah Mahkamah Agung (MA) pada 15 April 2026 secara resmi menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

 

Keputusan tersebut dinilai menjadi penegasan bahwa proses hukum yang sebelumnya menuai polemik dan kritik publik akhirnya menemukan titik koreksi di tingkat tertinggi peradilan. Penolakan kasasi ini sekaligus menghentikan rangkaian panjang perkara yang selama ini disorot karena dugaan adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum.

 

Sejumlah kalangan menilai bahwa langkah MA ini menjadi momentum penting dalam mengakhiri dugaan diskriminasi hukum yang sebelumnya disebut terjadi dalam penanganan perkara oleh aparat JPU maupun di tingkat Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

 

Menanggapi putusan tersebut, Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Gus Rofi, menyampaikan apresiasi dan menilai keputusan MA sebagai bentuk koreksi penting dalam sistem peradilan.

 

“Keputusan Mahkamah Agung ini patut diapresiasi sebagai langkah tegas dalam menghentikan praktik hukum yang berpotensi diskriminatif. Ini bukan hanya soal satu orang, tetapi tentang tegaknya keadilan bagi seluruh rakyat,” ujar Gus Rofi.

 

Ia menambahkan bahwa kasus ini menjadi pelajaran penting bagi aparat penegak hukum agar tidak bertindak tebang pilih dalam menangani perkara.

Baca juga:  Besok Prabowo Buka-bukaan di Parlemen, Isu Kenaikan Gaji ASN Jadi Sorotan!

 

“Jangan sampai masyarakat yang berani menyuarakan dugaan pelanggaran justru menjadi korban. Hukum harus melindungi, bukan membungkam,” tegasnya.

 

Sorotan juga datang dari Mahfud MD yang menilai terdapat kejanggalan dalam arah penegakan hukum pada kasus ini. Ia menegaskan bahwa persoalan korupsi yang diungkap justru tidak diselesaikan secara hukum, sementara pihak yang berperan sebagai whistle blower malah diproses secara pidana.

 

“Seharusnya penegak hukum mengusut kasus korupsi yang dilaporkan Hendra Lie, bukan malah membungkam masyarakat yang aktif ikut serta melawan korupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp16,3 triliun,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Mahfud MD menilai kondisi tersebut berpotensi menjauhkan rasa keadilan di tengah masyarakat.

 

“Keadilan akan semakin jauh jika rakyat yang berpartisipasi memberikan data adanya korupsi justru diadili dan dikriminalisasi,” tegasnya.

 

Kasus dugaan korupsi senilai Rp16,3 triliun ini juga menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan nasional. Sejumlah guru besar dari berbagai perguruan tinggi serta para jenderal purnawirawan TNI–Polri turut menyoroti perkara ini. Mereka mengaku geram dan prihatin melihat arah penegakan hukum yang dinilai tidak tepat sasaran, di mana bukan dugaan tindak pidana korupsi yang menjadi fokus utama, melainkan justru jurnalis dan narasumber yang mendapat tekanan hukum.

Baca juga:  Kasus Dugaan Tuduhan Judi Online Libatkan PDIP, Menkop Budi Arie Dilaporkan ke Bareskrim

 

Menurut mereka, kondisi ini berpotensi menciptakan preseden buruk bagi kebebasan pers dan partisipasi publik dalam mengawasi praktik korupsi di Indonesia.

 

Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian luas publik karena dinilai memiliki kejanggalan dalam prosesnya. Hendra Lie, yang disebut hanya berperan sebagai narasumber dalam sebuah konten podcast terkait dugaan korupsi, justru menjadi pihak yang diproses secara hukum. Kondisi tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pegiat hukum.

 

Putusan MA pada 15 April 2026 ini pun dianggap sebagai bentuk koreksi atas proses hukum sebelumnya yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan kepastian hukum. Dengan ditolaknya kasasi JPU, perkara terhadap Hendra Lie pada akhirnya mencapai titik akhir di tingkat kasasi.

 

Perkara ini menjadi salah satu contoh penting bagaimana lembaga peradilan tertinggi berfungsi sebagai penjaga keadilan, sekaligus mengoreksi potensi kekeliruan dalam proses hukum di tingkat bawah.

 

Dengan berakhirnya proses ini, publik berharap sistem penegakan hukum di Indonesia semakin menjunjung tinggi keadilan, transparansi, serta keberpihakan terhadap upaya pemberantasan korupsi tanpa diskriminasi.

Sumber Berita: Ahmad Mujib /Mataelang24.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Camat Sepatan Timur Hadir di Sekolah, Siswa Diajak Cerdas Bermedia Digital
Data Kerusakan Gempa Riung Barat Diuji, Warga Minta Kriteria Penilaian Dibuka Terang
Tanggap Darurat Usai, Ngada Kebut Huntara dan Bangkitkan Ekonomi Warga Pascagempa
Tanggap Darurat Usai, Polres Ngada Tegaskan Pelayanan Warga Tak Boleh Berhenti
PAUD HI Ngada Diperkuat, Satu PAUD Disiapkan Jadi Percontohan Layanan Anak Terpadu
Kapolri Hadiri Pameran Nasirun, Ada Pesan untuk Para Guru
Uskup Agung Ende Serukan Bangkit dari Reruntuhan: Pascagempa, Gereja Harus Hadir dan Perkuat Solidaritas
Tak Peduli Medan Berat, PMI Ngada Tembus Riung Barat Antar Harapan untuk Penyintas Gempa
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:51 WIB

Camat Sepatan Timur Hadir di Sekolah, Siswa Diajak Cerdas Bermedia Digital

Kamis, 17 September 2026 - 06:39 WIB

Data Kerusakan Gempa Riung Barat Diuji, Warga Minta Kriteria Penilaian Dibuka Terang

Rabu, 16 September 2026 - 07:22 WIB

Tanggap Darurat Usai, Ngada Kebut Huntara dan Bangkitkan Ekonomi Warga Pascagempa

Rabu, 16 September 2026 - 06:58 WIB

Tanggap Darurat Usai, Polres Ngada Tegaskan Pelayanan Warga Tak Boleh Berhenti

Selasa, 15 September 2026 - 05:56 WIB

PAUD HI Ngada Diperkuat, Satu PAUD Disiapkan Jadi Percontohan Layanan Anak Terpadu

Berita Terbaru

Keuangan & Perpajakan

Mahasiswa Global Institut Ajarkan QRIS dan Canva di Desa Gempol Sari

Kamis, 17 Sep 2026 - 13:51 WIB

Sosial Kemasyarakatan

Meta AI WhatsApp Bikin Ibu-Ibu PKK Gempol Sari Punya Cara Baru Promosi UMKM

Rabu, 16 Sep 2026 - 21:11 WIB