Kebijakan Dagang Trump Picu Lonjakan Harga Baterai dan Hambat Transisi Energi

Avatar photo

Kamis, 10 April 2025 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap ekspor energi bersih dari Asia dan dunia, serta konsekuensinya terhadap harga baterai, rantai pasok global, dan upaya transisi energi di tengah krisis iklim. Data dan analisis disusun berdasarkan laporan BloombergNEF, BCG, IEA, dan UBS. (Dok. Bloomberg)

Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap ekspor energi bersih dari Asia dan dunia, serta konsekuensinya terhadap harga baterai, rantai pasok global, dan upaya transisi energi di tengah krisis iklim. Data dan analisis disusun berdasarkan laporan BloombergNEF, BCG, IEA, dan UBS. (Dok. Bloomberg)

 

Metrosiar – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengambil langkah agresif dalam kebijakan perdagangannya.

Kali ini, tarif yang diberlakukan tak hanya menyasar China, melainkan seluruh produk dari negara mitra dagang AS.

Economic Policy Uncertainty Index yang banyak digunakan dalam kalangan bisnis dan dikembangkan oleh para ekonom saat ini mencatatkan level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Situasi ini dinilai membawa dampak serius bagi proyek-proyek transisi energi global yang memerlukan investasi jangka panjang, menurut analisis BloombergNEF (BNEF).

Negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara diperkirakan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Meski tarif minimum yang ditetapkan sebesar 10%, banyak negara di kawasan tersebut dikenai tarif lebih tinggi.

Sejumlah negara juga diketahui sangat bergantung pada pasar ekspor energi bersih ke AS.

Berdasarkan estimasi BNEF, Uni Eropa misalnya, yang terkena tarif 20%, mengekspor produk energi bersih senilai sekitar 25 miliar dolar AS ke AS pada 2024.

Sementara Kamboja, yang dikenai tarif 49%, hanya mencatatkan nilai ekspor 820 juta dolar AS.

Meski lebih kecil, nilai ini setara dengan 9% dari total ekspor Kamboja ke AS, jauh di atas kontribusi ekspor energi bersih Uni Eropa yang hanya 1%.

China tercatat sebagai eksportir energi bersih terbesar ke AS dengan nilai 22 miliar dolar AS pada 2024, meski hanya menyumbang 4,2% dari total ekspornya.

Baca juga:  Danantara Indonesia Gandeng ACWA Power, Siapkan Investasi Energi Hijau US10 Miliar Dolar

Sementara Korea Selatan dan Vietnam masing-masing mencatatkan ekspor energi bersih sebesar 12,1 miliar dolar AS (9,47%) dan 6,3 miliar dolar AS (5,51%).

Kebijakan tarif ini juga berpotensi menghambat perkembangan baterai dan jaringan listrik di AS.

Negara tersebut merupakan emitor karbon terbesar kedua di dunia dan bergantung pada impor bahan baku energi bersih seperti lithium iron phosphate (LFP) dari China.

BNEF memperkirakan tarif tambahan terhadap produk China akan menyebabkan harga baterai naik 17,5% pada 2026, di luar lonjakan akibat tarif era Biden.

Boston Consulting Group (BCG) mencatat sekitar 85% bahan penyusun baterai yang diproduksi di AS masih harus diimpor.

Untuk memenuhi permintaan domestik pada 2025, BNEF memperkirakan 100% separator, 83% katoda, dan 67% anoda juga berasal dari luar negeri.

Ini menandakan potensi lonjakan harga baterai dalam waktu dekat.

Meski begitu, sektor energi angin darat di AS dinilai relatif aman berkat kekuatan rantai pasok domestik.

Selain itu, negara ini juga masih memiliki cadangan sekitar 50 gigawatt panel surya impor dari Asia Tenggara sebelum kebijakan tarif diberlakukan.

Menurut BCG dan International Energy Agency (IEA), industri transisi energi sudah terbiasa menghadapi hambatan perdagangan.

Baca juga:  Ambisi Besar Prabowo 100% Listrik Indonesia Berasal dari Energi Bersih 2035, Pakar Ingatkan hal Ini

Data menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 51 hambatan dagang untuk baterai dan sel surya, serta 47 untuk kendaraan listrik.

“Hal ini memberi mereka keunggulan adaptif dibandingkan dengan sektor besar lainnya dalam menghadapi ketidakpastian dagang,” ujar Managing Director BCG Bas Sudmeijer.

Sudmeijer juga mengungkapkan risiko terbesar justru datang dari gangguan rantai pasok global, seperti penutupan Terusan Suez.

“Setiap produsen akan bilang, dibutuhkan 3.000 komponen untuk membuat satu trafo, tetapi cukup satu komponen hilang dan seluruh produksi berhenti,” ujarnya.

Jika kebijakan tarif ini memicu resesi, emisi gas rumah kaca bisa turun untuk sementara akibat berkurangnya aktivitas ekonomi.

Namun, UBS Group AG mengingatkan dampak semacam itu tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang.

“Aktivitas ekonomi yang lebih rendah memang menghasilkan emisi karbon yang lebih sedikit. Namun, kita sudah belajar dalam lima tahun terakhir sejak pandemi Covid-19 bahwa ini bukan solusi jangka panjang,” tulis analis UBS.

Dengan 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, kebijakan tarif tinggi Trump dikhawatirkan semakin menyulitkan upaya pengendalian pemanasan global.

“Tarif akan mendorong kenaikan biaya teknologi bersih, padahal saat ini biayanya di AS sudah jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain,” ungkap UBS.(*)

Editor : Konrad

Sumber Berita: bloomberg.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangun Industri Kosmetik Berkualitas, PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Utamakan Kepercayaan dan Inovasi
Indo Beauty Expo 2026 Jadi Langkah Strategis PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Perluas Kemitraan Bisnis
Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol
Piala Dunia 2026 Jelang Perancis vs Inggris Perebutan Tempat ke 3
Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Ada 10 Fakta Menarik
Semi Final Piala Dunia 2026, Perancis Nilai Paling Tinggi, Argentina Paling Subur, Spanyol Paling Minim Kebobolan dan Inggris Dengan Supporter Yang Sangat Berisik.
Israel Ditantang Turki, Segini Teknologi Perangnya
Hamas Resmi Bubar ! Setelah 19 Tahun Kuasai Gaza
Berita ini 24 kali dibaca
Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump menyasar semua mitra dagang, memicu ketidakpastian global. Negara-negara Asia paling terdampak, dengan lonjakan tarif hingga 49%. Dampaknya meluas ke sektor energi bersih, menaikkan harga baterai dan menghambat proyek transisi energi, di tengah tekanan pemanasan global yang kian parah.

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Bangun Industri Kosmetik Berkualitas, PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Utamakan Kepercayaan dan Inovasi

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:10 WIB

Indo Beauty Expo 2026 Jadi Langkah Strategis PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Perluas Kemitraan Bisnis

Senin, 20 Juli 2026 - 19:35 WIB

Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:25 WIB

Piala Dunia 2026 Jelang Perancis vs Inggris Perebutan Tempat ke 3

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:29 WIB

Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Ada 10 Fakta Menarik

Berita Terbaru