Melawan Lupa, Loka Tua Mata Api Diluncurkan untuk Menghidupkan Kembali Sabda Leluhur Ngada

Avatar photo

Senin, 10 Agustus 2026 - 08:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Asisten 2 Setda Ngada, Nicolaus Noywuli Mewakili Bupati Ngada saat Launching Loka Tua Mata Api. (Foto: Humas Prokopim Ngada).

Asisten 2 Setda Ngada, Nicolaus Noywuli Mewakili Bupati Ngada saat Launching Loka Tua Mata Api. (Foto: Humas Prokopim Ngada).

Bajawa.Metrosiar- Ketika zaman berubah dan teknologi bergerak semakin cepat, ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang: ingatan tentang siapa masyarakat Ngada dan dari mana mereka berasal.

Pesan itulah yang mengemuka dalam peluncuran Komunitas Kajian Budaya Ngada (KKBN) Loka Tua Mata Api di Kemah Tabor, Mataloko, Minggu (9/8/2026).

Komunitas ini hadir bukan sekadar sebagai wadah berkumpul para pemerhati budaya. Loka Tua Mata Api membawa misi lebih besar: menggali kembali pengetahuan leluhur, mengkaji makna di balik warisan budaya, mendokumentasikannya, serta memastikan nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah generasi Ngada.

Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut.

Bupati Ngada Raymundus Bena, dalam sambutan yang dibacakan Asisten II Setda Ngada Nikolaus Noywuli, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada upaya menjaga benda-benda peninggalan leluhur.

Yang jauh lebih penting, kata Bupati, adalah menyelamatkan makna, nilai dan pesan yang terkandung di balik setiap warisan budaya.

“Saya menyambut baik kehadiran komunitas budaya Loka Tua Mata Api sebagai bagian dari upaya bersama menjaga dan melestarikan budaya Ngada, tidak hanya benda-benda budaya, tetapi makna dari budaya itu sendiri,” ujar Raymundus.

Budaya Bukan Pajangan Masa Lalu

Raymundus menegaskan, kebudayaan merupakan akar peradaban masyarakat Ngada. Karena itu, budaya tidak boleh diperlakukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, seremoni, atau simbol yang dipamerkan ketika ada kegiatan adat.

Budaya harus tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi penerus.

“Nilai-nilai budaya harus menjadi napas dan spirit pembangunan daerah,” tegasnya.

Menurut Bupati, kehadiran Loka Tua Mata Api merupakan gagasan penting untuk menemukan kembali sekaligus mengontekstualkan inti tersembunyi kebudayaan Ngada yang selama ini diwariskan melalui sabda para leluhur.

Baca juga:  Festival Komodo Riung 2026: Dari Watulajar, Komodo Djaga, Pariwisata Dikobarkan, Ekonomi Masyarakat Digerakkan

“Kehadiran komunitas ini merupakan gagasan penting dalam upaya menemukan dan mengontekstualkan inti tersembunyi budaya Ngada yang hidup dalam sabda leluhur,” tambahnya.

Pesannya jelas: jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal budaya Ngada dari cerita, foto, benda atau pertunjukan, tetapi kehilangan pemahaman tentang nilai yang berada di balik semuanya.

Teknologi Bukan Musuh Budaya

Pemerintah Kabupaten Ngada juga mendorong agar hasil kajian Loka Tua Mata Api tidak berhenti di ruang diskusi atau tersimpan dalam ingatan segelintir orang.

Pengetahuan budaya perlu didokumentasikan dan didigitalisasikan.

Dengan demikian, kekayaan budaya Ngada dapat disimpan, dipelajari dan diwariskan lintas generasi.

Raymundus menilai perkembangan teknologi bukan ancaman yang harus ditakuti. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya.

Melalui dokumentasi digital, pengetahuan tentang bahasa, sastra, seni, tradisi, motif, tarian hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat Ngada dapat menjangkau generasi muda dan masyarakat yang lebih luas.

Loka Tua Mata Api Jadi “Bengkel Budaya”

Ketua KKBN Loka Tua Mata Api, P. Feliks Baghi, SVD, menegaskan komunitas tersebut tidak dibangun hanya untuk menjadi ruang diskusi.

Loka Tua Mata Api dirancang sebagai “bengkel budaya”.

Di ruang inilah pemerintah, akademisi, peneliti, masyarakat, pemerhati budaya hingga diaspora Ngada diharapkan dapat bertemu, bertukar pengetahuan dan bekerja bersama merawat kebudayaan.

“Komunitas ini akan menjadi sekolah ingatan sukarela, melatih kecerdasan kultural dengan memori yang mendalam,” ujar P. Feliks.

Menurutnya, ingatan kolektif merupakan salah satu kekuatan utama untuk mempertahankan identitas sebuah masyarakat.

Karena itu, kebudayaan harus dipelajari bukan hanya dari buku dan benda-benda peninggalan, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakat, bahasa, sastra, seni, tradisi serta ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca juga:  Sejajarkan Riung dengan Destinasi Unggulan Lain, Pemkab Ngada Dukung In Flores Siapkan Roadmap Pariwisata

Menjadikan Budaya Kembali Bersuara

Loka Tua Mata Api juga diproyeksikan menjadi sanggar sastra Ngada. Pater Feliks menyebutnya sebagai “sanggar poetik mata api”, sebuah ruang yang memungkinkan musik, sastra, syair-syair dalam bahasa daerah, motif, tarian dan berbagai ekspresi kebudayaan kembali menemukan ruang untuk berbicara.

“Artinya, di sini musik, sastra, syair-syair dari bahasa daerah, motif, tarian itu semua akan berbicara tentang kekuatan sastra,” jelasnya.

Dengan demikian, budaya tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi diberi ruang untuk terus tumbuh dan berdialog dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Melawan Lupa, Menjaga Masa Depan

KKBN Loka Tua Mata Api telah memiliki akta notaris sebagai komunitas budaya.

Peluncuran komunitas tersebut turut dihadiri akademisi, peneliti, pemerhati budaya, pemangku kepentingan serta diaspora Ngada, baik secara langsung maupun melalui jaringan daring.

Kehadiran komunitas ini sekaligus membuka ruang baru bagi gerakan kajian dan pelestarian budaya Ngada yang lebih kolaboratif.

Sebab, tantangan pelestarian budaya hari ini bukan hanya bagaimana menjaga rumah adat, bahasa, tarian, motif, ritual atau benda-benda peninggalan leluhur agar tetap ada.

Tantangan yang jauh lebih besar adalah menjaga agar makna dan nilai di balik semua itu tidak mati.

Sebab ketika sebuah masyarakat kehilangan ingatannya, ia bukan hanya kehilangan cerita masa lalu. Ia juga berisiko kehilangan arah untuk menentukan masa depannya.

Dari Mataloko, Loka Tua Mata Api membawa pesan sederhana tetapi kuat: menggali ingatan, membaca kembali sabda leluhur, dan memastikan budaya Ngada tetap hidup—bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai kekuatan untuk menatap masa depan.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pascagempa Ngada, Riung Berbenah: Rumah Dipulihkan, Ekonomi Digerakkan, Harapan Dibangun
BSU Rp900 Ribu Siap Cair, Kapan Mulai Dicairkan?
35 Tahun Menanti, Indonesia Akhirnya Taklukkan Thailand dan Juara!
Indonesia Juara! Drama 120 Menit Berakhir di Adu Penalti
Amukan Keluarga Nyaris Pecah di Faobata, Buser Polres Ngada Amankan Terduga Pelaku
Jokowi Soroti Agus Flores: Bukan Pemburu Jabatan, Lebih Memilih Berkarya untuk Negeri
Dari Tangerang ke Purworejo, 86 Pemain Sepak Bola Muda Bawa Misi di Turnamen Nasional
Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur Segera Dipatok, Pilar 1-4 Ditargetkan Terpasang Oktober
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pascagempa Ngada, Riung Berbenah: Rumah Dipulihkan, Ekonomi Digerakkan, Harapan Dibangun

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:25 WIB

BSU Rp900 Ribu Siap Cair, Kapan Mulai Dicairkan?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:10 WIB

35 Tahun Menanti, Indonesia Akhirnya Taklukkan Thailand dan Juara!

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Indonesia Juara! Drama 120 Menit Berakhir di Adu Penalti

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Amukan Keluarga Nyaris Pecah di Faobata, Buser Polres Ngada Amankan Terduga Pelaku

Berita Terbaru

Sosial Kemasyarakatan

Perpres Ojol Resmi Terbit, Hak Pengemudi Kini Diatur

Jumat, 9 Okt 2026 - 01:34 WIB

Peristiwa & Bencana

Kebakaran Hebat di Kramat, 30 Unit Damkar Dikerahkan!

Kamis, 8 Okt 2026 - 23:19 WIB