Bukan Lagi Beban, ATKARBONIST: Emisi Karbon Kini Jadi Aset Strategis Perusahaan!

Avatar photo

Rabu, 18 Februari 2026 - 02:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kiri-kanan; Budi Utomo, Direktur Sumber Daya Manusia Sucofindo, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T, Chairman Atkarbonist dan Dr. Benny Bernadus, Direktur Utama Daya Mitra Bersama Global usai penandatanganan MoU Atkarbonist dengan Sucofindo. (Foto: Agus/Atkarbonist)

Kiri-kanan; Budi Utomo, Direktur Sumber Daya Manusia Sucofindo, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T, Chairman Atkarbonist dan Dr. Benny Bernadus, Direktur Utama Daya Mitra Bersama Global usai penandatanganan MoU Atkarbonist dengan Sucofindo. (Foto: Agus/Atkarbonist)

Jakarta, Metrosiar – Pandangan bahwa emisi karbon hanyalah limbah industri nampaknya sudah kuno.

Dalam Seminar Nasional yang digelar Asosiasi Penggiat Karbon dan Bisnis Berkelanjutan (ATKARBONIST) di Auditorium Perbanas Institute Jakarta, Jumat (13/2/2026), sebuah paradigma baru ditegaskan: karbon adalah peluang cuan sekaligus pengungkit nilai perusahaan.

Acara bertajuk “Monetisasi Emisi Karbon: Strategi Baru Meningkatkan Nilai Perusahaan” ini dihadiri tokoh lintas sektor, mulai dari Rektor Perbanas Institute Prof. Hermanto Siregar hingga perwakilan PT Sucofindo, Budi Utomo.

Emas Hijau di Balik Asap Industri

Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., Chairman Atkarbonist. (Foto: Agus E/Atkarbonist)

Chairman ATKARBONIST, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., dalam pidatonya menekankan dunia usaha sedang berada di persimpangan jalan. Pengelolaan karbon yang tepat bukan lagi sekadar soal “tanggung jawab sosial”, tapi strategi bertahan di pasar global.

Baca juga:  Lupakan Greenwashing! Atkarbonist-Sucofindo Tegaskan Data Kredibel Adalah 'Mata Uang' Baru di Pasar Karbon

“Emisi karbon kini bukan lagi sekadar residu negatif industri, melainkan aset strategis. Perusahaan yang mampu mengelola emisinya secara transparan, terukur, dan berstandar internasional akan memiliki keunggulan kompetitif yang nyata,” ungkap Musdhalifah.

Ia juga menambahkan langkah ini adalah karpet merah bagi perusahaan untuk mencicipi gurihnya pembiayaan hijau (green financing) dan memperkuat reputasi di mata investor internasional.

PR Besar: Literasi dan Regulasi

Dikman Purnama, Head of Unit Climate Solution and Sustainable Energy PT SUCOFINDO (PERSERO) salah satu pemateri dalam Seminar Nasional Monetisasi Emisi Karbon di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026). (Foto: Agus/Atkarbonist)

Meski potensinya selangit, Musdhalifah tidak menutup mata pada tantangan yang ada. Indonesia masih punya “pekerjaan rumah” (PR) besar terkait pemahaman regulasi, sistem pengukuran yang kredibel, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Untuk itu, ATKARBONIST memosisikan diri sebagai jembatan informasi. Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan akademisi menjadi harga mati agar ekosistem karbon Indonesia tidak sekadar jadi penonton di rumah sendiri.

Baca juga:  Harga Emas Bidik Level 3.000 Dolar, di AS Ditutup Naik 0,7% di 2.956,10 Dolar AS, Dengan Kenaikan Total 12 Persen Sejak Awal 2025

“Transformasi menuju ekonomi rendah karbon hanya dapat tercapai melalui sinergi dan inovasi bersama. Kita perlu membangun ekosistem karbon yang kredibel dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing nasional,” tegasnya lagi.

Sinergi untuk Masa Depan

Kiri-kanan; Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., Rektor Perbanas Institute Jakarta, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T., Chairman Atkarbonist, dan Dr. Benny Bernadus, Direktur Utama Daya Mitra Bersama Global memperlihatkan arsip usai penandatanganan MoU Atkarbonist dengan Perbanas Institute. (Foto: Agus/Atkarbonist)

Seminar ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Diskusi yang didukung oleh DMBGlobal, Ecobiz.asia, Perbanas Institute, dan Sucofindo ini dirancang untuk melahirkan strategi konkret bagi perusahaan agar bisa langsung tancap gas mengimplementasikan ekonomi karbon.

Intisarinya adalah bagaimana mengubah emisi menjadi peluang bisnis melalui literasi, perdagangan karbon, dan pembiayaan hijau.

Dengan dimulainya forum ini lewat pembacaan Basmalah, babak baru monetisasi karbon di Indonesia resmi digulirkan. Harapannya jelas: ekonomi tumbuh, lingkungan terjaga, dan perusahaan makin bernilai.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangkok Bank Bawa 37 Investor Thailand, Ada Apa dengan Indonesia?
Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar
Pemkab Tangerang Punya Gebrakan Baru, Desa Cikuya Jadi Pusat Komoditas
Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW
AMDAL Jadi Kunci Proyek Aman, Ini Risiko Jika Diabaikan!
Pakons Prime Hotel Tangerang Gelar Wedding Showcase, Paket Pernikahan Mulai Rp32 Juta!
Akses Keuangan 92,76%, Annisa Mahesa Bongkar Masalah yang Masih Mengintai!
Green SM Gebrak Jakarta, 1.500 Motor Listrik VinFast MeluncurGreen SM Gebrak Jakarta, 1.500 Motor Listrik VinFast Meluncur
Berita ini 53 kali dibaca
Kesimpulan Strategis: Paradigma Baru Karbon di Indonesia Peralihan Status Karbon: Emisi tidak lagi dipandang sebagai "biaya pemulihan" atau limbah operasional, melainkan aset strategis. Perusahaan yang gagal mengelola emisinya secara kredibel akan kehilangan daya saing di pasar global. Nilai Tambah Perusahaan (Valuasi): Monetisasi karbon melalui sistem yang transparan dan terukur secara internasional menjadi kunci untuk mendongkrak nilai perusahaan, terutama dalam menarik minat investor hijau. Akses Permodalan: Pengelolaan karbon yang baik adalah "paspor" utama untuk mendapatkan Green Financing (pembiayaan hijau), yang saat ini menjadi tren pendanaan global dengan syarat yang lebih kompetitif. Kebutuhan Sinergi Ekosistem: Potensi karbon Indonesia yang besar tidak akan maksimal tanpa adanya literasi regulasi dan kesiapan SDM. Diperlukan kolaborasi erat antara akademisi, praktisi, dan pemerintah untuk membangun ekosistem karbon yang kredibel. Kutipan Kunci Musdhalifah Machmud: "Emisi karbon kini bukan lagi sekadar residu negatif industri, melainkan aset strategis. Perusahaan yang mampu mengelola emisinya secara transparan, terukur, dan berstandar internasional akan memiliki keunggulan kompetitif yang nyata."

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Bangkok Bank Bawa 37 Investor Thailand, Ada Apa dengan Indonesia?

Selasa, 29 September 2026 - 13:19 WIB

Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar

Selasa, 29 September 2026 - 13:10 WIB

Pemkab Tangerang Punya Gebrakan Baru, Desa Cikuya Jadi Pusat Komoditas

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW

Senin, 28 September 2026 - 08:29 WIB

AMDAL Jadi Kunci Proyek Aman, Ini Risiko Jika Diabaikan!

Berita Terbaru

Lurah Kutabumi, Ade Sunaryo, S.Pd., M.M. (kiri), bersama Camat Pasar Kemis, H. Nurhanudin, S.IP., M.Si. (kanan), meninjau kesiapan alat berat untuk pembangunan tanggul Saluran Pembuang Cipangodokan di Kelurahan Kutabumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Tata Kelola & Konservasi

Jelang Pembangunan Tanggul Cipangodokan, Lurah Kutabumi Tekankan Hal Ini!

Selasa, 27 Okt 2026 - 18:40 WIB