Metrosiar – Presiden Prabowo Subianto menyatakan kemajuan sepak bola sebuah negara, termasuk lolos ke kompetisi Piala Dunia, tidak ditentukan oleh status kekayaan negara tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Prabowo dalam acara peresmian 17 stadion berstandar internasional di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (17/3/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan, “Bukan bangsa yang kaya saja yang sepak bolanya hebat. Tidak. Banyak negara miskin, negara-negara di Afrika, mereka bisa masuk ke Piala Dunia,” sebagaimana dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo menjelaskan banyak negara di Afrika, yang jauh lebih miskin daripada Indonesia, berhasil menembus Piala Dunia meskipun tidak memiliki fasilitas dan infrastruktur olahraga yang memadai, termasuk jumlah lapangan sepak bola.
“Mereka enggak punya lapangan sebagus ini. Mereka jauh lebih miskin dari kita. Tapi semangatnya tak mau kalah,” ujarnya.
Menurutnya, semangat juang para atlet di negara-negara tersebut patut dicontoh oleh Indonesia.
Presiden juga menegaskan semangat dan tekad yang kuat sangat penting untuk mencapai prestasi olahraga, termasuk sepak bola.
“Ini harus belajar dan terima kasih yang bisa membangkitkan semangat anak-anak kita,” tambah Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo menyatakan sepak bola kini menjadi simbol harga diri bagi sebuah bangsa.
“Hanya dengan fisik dan jiwa yang kuat, bangsa yang kuat pun bisa berdiri tegak dan hebat,” tuturnya, menggarisbawahi pentingnya kekuatan fisik dan mental dalam membangun sebuah negara.
Untuk mendukung perkembangan sepak bola Indonesia, Prabowo mengungkapkan komitmennya terus memberikan dukungan.
“Kita memperlancar semua peraturan, kita ringkas, kita perbaiki perangkat-perangkat dan piranti peraturan yang perlu diperbaiki. Memperlancar usaha-usaha PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) bentuk timnas yang tangguh,” ujar mantan Menteri Pertahanan itu, yang berharap Indonesia dapat menghasilkan tim nasional sepak bola yang lebih berprestasi di level internasional.(*)
Editor : Pedhu Konrad










