KOTA TANGERANG, Metrosiar – Nama Stadion Benteng tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang olahraga, khususnya sepak bola, di Tangerang. Berdiri di kawasan Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang, stadion ini bukan sekadar arena pertandingan, tetapi menjadi saksi berbagai babak penting perkembangan sepak bola Tangerang sejak akhir dekade 1980-an.
Gagasan pembangunan Stadion Benteng muncul seiring berkembangnya sepak bola Tangerang. Sebelum stadion tersebut berdiri, Persita Tangerang yang ketika itu menjadi klub sepak bola Kabupaten Tangerang menggunakan sejumlah lapangan, di antaranya Lapangan Ahmad Yani dan Lapangan LPK, sebagai tempat pertandingan.
Seiring meningkatnya prestasi dan aktivitas sepak bola, kebutuhan terhadap stadion yang lebih representatif semakin besar. Pemerintah Kabupaten Tangerang kemudian membangun Stadion Benteng mulai 1987. Stadion tersebut akhirnya diresmikan pada 11 Januari 1989 oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat saat itu, H.R. Moh. Yogie S. Memet.
Nama “Benteng” sendiri erat dengan identitas Tangerang yang sejak lama dikenal dengan julukan Kota Benteng. Nama tersebut kemudian melekat menjadi identitas stadion yang berada di pusat Kota Tangerang itu.
Menjadi Rumah Persita
Pada masa awal berdirinya, Stadion Benteng menjadi salah satu fasilitas penting bagi Persita Tangerang. Bahkan, keberadaan stadion tersebut bertepatan dengan periode ketika Persita mulai berkembang dan memasuki persaingan sepak bola nasional.
Stadion Benteng kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Persita, terutama ketika klub berjuluk Pendekar Cisadane itu tampil di kompetisi nasional. Sebuah plakat di kawasan stadion bahkan mencatat pemberian Stadion Benteng kepada Persita untuk digunakan sebagai kandang pada masa tersebut.
Tak hanya pertandingan sepak bola, Stadion Benteng juga pernah digunakan untuk kegiatan olahraga berskala nasional. Pada 1988, sebelum stadion resmi diresmikan pada Januari 1989, tempat ini menjadi arena Pekan Olahraga Penyandang Kusta Nasional I, yang turut dihadiri Ibu Negara saat itu, Tien Soeharto.
Lahirnya Persikota dan Era Derby Tangerang
Babak baru sejarah Stadion Benteng terjadi setelah berdirinya Persikota Tangerang pada 1994. Stadion yang sebelumnya identik dengan Persita kemudian menjadi rumah bagi dua klub sepak bola Tangerang.
Persita dan Persikota sama-sama menggunakan Stadion Benteng sebagai markas. Keduanya bahkan pernah bermain di kompetisi kasta teratas nasional. Pertemuan kedua klub kemudian melahirkan atmosfer yang dikenal sebagai Derby Tangerang, yang menjadi salah satu bagian menarik dari sejarah sepak bola di wilayah tersebut.

Era 1990-an hingga awal 2000-an menjadi salah satu periode paling ramai dalam sejarah Stadion Benteng. Ribuan penonton memenuhi tribun untuk menyaksikan pertandingan Persita maupun Persikota.
Bagi Persikota, Stadion Benteng juga menjadi bagian dari perjalanan fenomenal klub yang kemudian mendapat julukan “Bayi Ajaib” karena mampu melesat dengan cepat di kompetisi nasional. Stadion tersebut menjadi saksi berbagai pertandingan dan perjalanan para pemain yang kemudian dikenal di kancah sepak bola nasional.
Gemuruh yang Berubah Menjadi Kesunyian
Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya.
Memasuki sekitar 2012, aktivitas sepak bola di Stadion Benteng mulai berhenti. Persita dan Persikota tidak lagi menggunakan stadion tersebut untuk pertandingan resmi. Salah satu faktor yang turut menjadi sorotan adalah persoalan keamanan dan kericuhan antarsuporter.
Di sisi lain, regulasi kompetisi sepak bola nasional juga membuat Stadion Benteng tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai stadion untuk pertandingan tertentu. Akibatnya, aktivitas pertandingan resmi di stadion semakin berkurang.
Stadion yang sebelumnya dipenuhi suara penonton perlahan berubah menjadi bangunan yang tidak terawat. Dalam beberapa tahun, Stadion Benteng bahkan sempat identik dengan kesan kumuh dan terbengkalai.

Kondisi tersebut berlangsung karena stadion masih berstatus sebagai aset Pemerintah Kabupaten Tangerang, sementara secara administratif stadion berada di wilayah Kota Tangerang. Setelah proses yang cukup panjang, aset tersebut akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Kota Tangerang. Proses penyerahan aset berlangsung pada sekitar 2018.
Dari Stadion Terbengkalai Menuju Benteng Reborn
Setelah resmi menjadi aset Pemerintah Kota Tangerang, babak baru pun dimulai.
Pemerintah Kota Tangerang melakukan revitalisasi Stadion Benteng mulai 2020. Renovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali fasilitas olahraga yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Tangerang.
Wajah lama Stadion Benteng kemudian berangsur berubah. Tribun, lapangan, lintasan atletik, dan berbagai fasilitas pendukung diperbarui sehingga stadion kembali memiliki fungsi sebagai pusat aktivitas olahraga masyarakat.

Setelah melalui proses revitalisasi, stadion tersebut kemudian dikenal dengan nama Stadion Benteng Reborn dan diresmikan pada 2022. Pemerintah Kota Tangerang menyebut stadion tersebut memiliki luas lebih dari 44 ribu meter persegi dengan kapasitas sekitar 7.500 penonton. Fasilitasnya antara lain lapangan sepak bola, lintasan atletik 400 meter, serta area yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan olahraga.

Stadion Benteng Reborn pun kembali menjadi tempat berbagai kegiatan olahraga, mulai dari kompetisi sepak bola usia dini, Liga 3, Pekan Olahraga Provinsi Banten, Peparprov, hingga berbagai kegiatan olahraga dan sportainment lainnya.
Lebih dari Sekadar Stadion
Kini, Stadion Benteng Reborn bukan lagi sekadar tempat pertandingan sepak bola.
Bagi masyarakat Tangerang, stadion ini menyimpan memori lintas generasi. Di tempat inilah Persita membangun sebagian sejarahnya, Persikota mengalami masa kejayaannya, dan rivalitas kedua klub melahirkan cerita tentang Derby Tangerang.
Stadion ini juga merekam perubahan besar Tangerang, dari ketika wilayah tersebut masih berada dalam satu pemerintahan Kabupaten Tangerang hingga lahirnya Kota Tangerang sebagai daerah otonom.
Dari stadion yang pernah dipenuhi gemuruh puluhan ribu penonton, kemudian sempat sunyi dan terbengkalai, Stadion Benteng akhirnya kembali membuka pintunya untuk masyarakat.

Nama “Reborn” menjadi simbol bahwa sejarah lama tidak harus berakhir sebagai kenangan. Stadion Benteng boleh berubah wajah, tetapi jejak sejarahnya tetap menjadi bagian dari perjalanan olahraga dan masyarakat Tangerang.

Kini, ketika aktivitas kembali menggeliat di dalamnya, Stadion Benteng Reborn bukan hanya menghadirkan fasilitas olahraga baru. Ia juga menghidupkan kembali sebuah nama yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Tangerang.









