Enrekang, Metrosiar – Peredaran uang rusak masih menjadi persoalan yang kerap ditemukan di tengah masyarakat. Salah satunya terlihat pada uang pecahan Rp20 ribu yang ditemukan dalam kondisi kusam, terlipat, serta mengalami kerusakan pada bagian tepi hingga terbelah.
Kondisi fisik uang yang buruk tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan kelancaran transaksi sehari-hari. Banyak warga mengaku kesulitan menggunakan uang rusak untuk berbelanja karena sebagian pedagang menolak menerima uang yang dianggap tidak layak edar.
Selain kualitas kertas yang sudah menurun, sobekan pada bagian uang juga membuat masyarakat khawatir uang tersebut tidak dapat digunakan kembali. Dalam sejumlah kasus, warga terpaksa mencari cara lain untuk menukarkan uang demi memperoleh uang yang masih layak pakai.
“Kadang sudah diterima saat menerima kembalian, tetapi ketika dipakai belanja lagi justru ditolak,” ujar seorang warga.
Fenomena uang rusak ini disebut sering ditemukan di pasar tradisional, warung kecil, hingga transportasi umum. Peredaran uang dengan kondisi tidak layak dinilai menunjukkan kurang optimalnya penanganan terhadap kualitas uang yang beredar di masyarakat.
Warga juga mengaku mengalami kesulitan saat hendak menukarkan uang rusak dengan uang baru atau uang yang masih layak digunakan. Tidak semua masyarakat memiliki akses mudah ke layanan penukaran uang, sehingga uang rusak tetap beredar dan berpindah tangan dalam transaksi harian.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat lebih profesional serta proaktif dalam menangani persoalan uang rusak sebagai alat tukar resmi negara. Penanganan tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terus dirugikan akibat peredaran uang yang sudah tidak layak digunakan.
Selain itu, warga juga berharap adanya peningkatan edukasi mengenai cara menjaga kondisi uang serta kemudahan layanan penukaran uang rusak agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga dan transaksi masyarakat dapat berjalan dengan lancar









