Metrosiar – Menjelang usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, banyak pencapaian membanggakan telah diraih bangsa ini.
Jalan-jalan terhubung, listrik menerangi, dan teknologi mempercepat arus informasi.
Tetapi, di beberapa sudut indah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemerdekaan di dunia digital masih menjadi janji yang belum sepenuhnya dirasakan.
Meski internet telah menjadi bagian penting kehidupan modern, dari pendidikan, kesehatan, hingga pariwisata, namun sejumlah desa di Flores masih merasakan sinyal yang datang dan pergi bak ombak di tepi pantai.
Manggarai Timur, Sinyal yang Masih Malu-malu
Di Tanah Rata, Lembur, Komba, Rongga Koe, Mbengan, Pongruan, Ruan, Gunung Baru, dan Gunung, warga merasakan sinyal internet yang sering hadir sebentar lalu menghilang.
Leri, warga setempat, menyebutnya “sinyal timbul tenggelam” hanya cukup untuk mengirim pesan singkat, tetapi belum mampu mengalirkan arus informasi seperti yang dibutuhkan untuk bekerja dan belajar.
Maunori, Nagekeo, Layanan Kesehatan yang Perlu Kecepatan

Bagi Leni, petugas kesehatan di Puskesmas Maunori, internet bukan sekadar untuk berselancar di dunia maya.
Ini adalah nyawa kedua dalam pelayanan pasien. Ketika jaringan lemah, pencatatan data dan koordinasi cepat menjadi tertunda, dan peluang untuk memberikan respons terbaik ikut melambat.
Sikka, Titik-titik yang Masih Menanti Sambungan
Dusun Hepang di Desa Nenbura dan Desa Ndai Mbere di Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, masih berada di zona yang internetnya bagai tamu yang enggan menetap. Di beberapa kampung, sinyal bahkan belum sempat memberi salam.
Satarlenda, Manggarai Barat, Pesona Wisata yang Perlu Dukungan

Satarlenda, gerbang menuju surga wisata seperti Wae Rebo dan Nuca Molas, adalah permata yang cahayanya belum sepenuhnya dibantu teknologi.
Tim Bolang Trans7 yang meliput di sana harus mencari rumah warga yang menggunakan Starlink untuk terhubung ke Jakarta.
Bahrin Wahap, nelayan sekaligus petani, menyampaikan dengan nada lirih meski tanah mereka kaya hasil bumi dan potensi wisata, mereka belum benar-benar merdeka di belenggu sinyal internet.
Sekolah, Belajar di Tengah Buruknya Sinyal
Di SMP 4 Kenjoruk, Satarmese Barat, internet untuk guru tersedia lewat WiFi Starlink.
Tetapi, untuk mengerjakan tugas, para siswa seperti Brian harus berjalan mencari rumah warga yang menjual akses internet seharga Rp5.000–Rp10.000.
Sarah Maysah dan Sina Lestari, siswa SMP 4 Satarmese, juga kerap berburu sinyal demi menyelesaikan tugas sekolah.
Harapan yang Mengalir dari Timur Indonesia

Flores adalah pulau yang kaya dengan keindahan alam, hasil pertanian, perikanan, dan keramahan penduduknya.
Diberikan oleh Sang Pencipta dengan pariwisata yang kian dikenal dunia, kebutuhan akan internet yang cepat dan stabil bukan lagi kemewahan, melainkan jembatan menuju kesejahteraan.
Menjelang delapan dekade Indonesia merdeka, sudah saatnya kemerdekaan juga dirayakan di ranah digital.
Melalui dukungan infrastruktur internet yang merata, desa-desa di Flores tak hanya akan terhubung ke dunia, tapi juga siap memberi sumbangsih lebih besar bagi kemajuan bangsa.*
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: eNBeIndonesia.com









